Rumah kost di kawasan elit itu terlihat tak berbeda dengan rumah lain di blok yang sama. Bertingkat dua, dengan beberapa kamar sewaan berkelas, dan garasi besar yang muat untuk beberapa mobil. Namun di dalamnya, sedikit agak berbeda. Meski tidak banyak yang tahu apa bedanya.
"Selamat pagi!" Seru seorang wanita muda yang sedang menuruni tangga putar dengan terburu-buru.
"Pagi." Jawab tiga orang lainnya yang sedang duduk mengelilingi meja makan.
Dengan masih terburu-buru wanita muda berambut coklat itu menarik salah satu kursi dan duduk menghadap ke segelas besar susu coklat dan dua butir telur rebus.
"Kok buru-buru, Dee?" Tanya seorang pria berkemeja hitam yang sejak tadi sudah sibuk dengan sarapan paginya.
"Iya, nih, hampir telat." Jawab wanita muda yang dipanggil Dee itu sembari mengetuk-ngetuk telur rebusnya dengan sebuah sendok kecil. Wajahnya yang manis masih tampak dipenuhi ekspresi gugup, khas orang yang sedang terlambat.
"Emangnya ada apa?" Tanya seorang wanita jangkung berpakaian khas wanita karir yang juga sudah sejak tadi duduk di situ.
"Ada kerjaan yang mesti aku selesaikan siang ini, Mbak." Jawab Dee sambil mengupas telur rebusnya.
"Emangnya kerjaan apa sih?" Tanya seorang bapak berkaos kuning yang duduk di sudut meja.
"Eng, sebenarnya proyek lama sih, Pak." Jawab Dee, "Cuman saya lupa mengerjakannya, eh, tahu-tahu udah deadline."
"Ooo, gitu." Jawab yang lainnya menggumam dan meneruskan sarapan, seperti sudah terbiasa dengan tabiat Dee.
Jam dinding berbentuk kepala kambing masih menunjukkan pukul enam pagi.
"Pagi semuanya!" Sapa suara seorang pria dengan nada malas dari atas tangga putar.
Semua yang duduk mengelilingi meja makan mendongak ke arah tangga putar besar di sudut ruang makan itu dan balas menyapa.
"Kok belum mandi, Ray?" Tanya bapak berkaos kuning yang rupanya adalah pemilik rumah kos itu, "Mabuk lagi, ya?".
Yang ditanya tidak segera menjawab. Pria itu menuruni tangga pelan-pelan, dari kusutnya rambut, wajah, dan kaos oblong yang dikenakannya, tampak jelas bahwa pria yang dipanggil Ray ini masih belum lama bangun dari tidurnya.
Ray duduk di samping wanita jangkung berpakaian kerja tadi, dan mencomot segelas air putih tidak dingin di depannya.
"Eh, kok minum punya orang lain sih?" Seru si wanita itu dengan agak jengkel, "Udah bekas aku, tahu?"
"Hehehe, justru itu!" Ujar si Ray, "Aku malah nyari yang ada bekas lipstiknya Mbak Sari."
"Kok nggak langsung aja sekalian?" Tanya pria berkemeja hitam yang duduk di sisi lain meja makan, "Rugi kalo cuman gelasnya."
"Alaa, bilang aja kalau elo juga pengen!" Jawab Ray sekenanya sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Wanita jangkung yang dipanggil Mbak Sari itu menyorotkan mata tajamnya pada si pria berkemeja hitam.
"Eh, apa salahku? Kan dia yang ngomong!" Tanya pria itu dengan wajah innocent. Tapi Sari malah tersenyum.
"Wah, aku udah terlanjur ge-er tadi, Neo." Ujar Sari diikuti tawa kecil yang terdengar seperti tawa hantu.
Pak Wir, bapak kost itu ikut tersenyum melihat wajah Neo yang kini pucat, kontras dengan kemeja hitamnya.
"OK, aku pergi dulu, dadaa semuanya!" Seru Dee sambil berdiri dengan terburu-buru dan berlari ke pintu keluar. Karena terburu-buru, ia tak menyadari kalau kaos ketatnya tersingkap, mempertontonkan sedikit kehalusan pinggang dan punggungnya.
"Hati-hati di jalan." Kata Pak Wir pada anak kostnya itu, tentu sambil melotot ke arah kaos yang tersingkap tadi.
"Iya, hati-hati! Biar ntar malam tetap fit untuk Pak Wir!" Canda Sari keras-keras, yang disambut tawa terbahak oleh Neo dan wajah cemberut Pak Wir.
"Kok tahu sih?" Bisik Pak Wir setelah Dee keluar dari ruangan.
"Alaa, Pak Wir nggak usah sok deh!" Jawab Neo, "Siapa yang semalam ngintip Dee di kamar mandi?"
"Enak aja! Bukan saya itu!" Seru Pak Wir membela diri.
"Iya, Neo. Pak Wir bener kok, dia nggak ngintip Dee." Jawab Sari dengan nada penuh pembelaan, "Yang dia intip itu aku!"
Mengakhiri kalimatnya, Sari berdiri dan berjalan ke arah dispenser, mengambil air minum di gelas baru karena gelasnya yang tadi sudah dipakai oleh Ray. Pak Wir tampak tersipu sementara Neo tersenyum nakal mengejeknya.
"OK, aku pergi duluan yah!" Seru Sari sambil mengeringkan tangan setelah mencuci peralatan makannya di wastafel.
Tubuh jangkung semampai yang tertutup blazer biru muda itu melenggang ke pintu keluar, rok span pendek yang membalut pinggulnya tampak bergoyang-goyang mengikuti gerakan kedua tungkainya yang jenjang terbungkus stocking transparan.
"Ngeliat apa kalian?" Bentak Sari sambil tiba-tiba membalikkan badan.
Pak Wir dan Neo yang sejak tadi memelototi wanita itu jadi salah tingkah dan pura-pura sibuk dengan sarapannya.
Dengan tawa lepas, Sari meninggalkan ruangan.
"Lho, udah pada cabut semua nih, bidadari-bidadarinya?" Tanya Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk, segumpal pakaian kotor, dan cangkir plastik kecil berisi sikat gigi. Meski sudah mandi bersih, jalannya tetap saja gontai karena pengaruh alkohol dan obat-obatan yang dipakainya tiap hari.
"Masih ada yang satu lagi kan, Ray?" Jawab Pak Wir sambil membereskan peralatan makannya.
"Iya, nih." Sahut Neo, "Khristi kok belum bangun yah, udah enam seperempat."
"Wah, pasti kecapean semalam." Kata Ray sambil berjalan naik lewat tangga putar.
Pak Wir dan Neo berpandangan sejenak dengan wajah bingung.
"Emangnya semalam dia tidur di kamar elo?" Seru Neo agak keras agar Ray yang berada di lantai dua bisa mendengarnya.
"Iyaa!" Terdengar teriakan Ray dari lantai dua.
Pak Wiro dan Neo kembali berpandangan dengan wajah bingung.
"Ah, nggak usah dipikirin deh Boss." Ujar Neo, "Mendingan kita omongin rencana buat tanggal 13 nanti."
"Iya, yah. Bener juga." Jawab Pak Wir sambil mengisi tembakau di pipanya dan mulai merokok ala Sherlock Holmes.
"Sebenernya gimana rencana utamanya?" Tanya Neo sambil mencuci piringnya di wastafel.
"Gini, tanggal 13 nanti kan Big Boss datang, nah, dia mau nginap di sini." Pak Wir memulai ceritanya.
"Nginap di sini?" Sahut Neo agak kaget, "Wah, kita mesti kasih sambutan dong?"
"Ya justru itu yang aku pikirin." Jawab Pak Wir sambil mengelus-elus rambut ubannya, "Kamu tahu apa yang dia inginkan, toh?"
"Tahu sih," Jawab Neo kembali ke kursinya, "Tapi apa anak-anak sini ada yang bisa?"
"Itulah." Jawab Pak Wir menghembuskan asap pipanya ke atas, "Sari dan Dee udah nggak mungkin, tadinya aku harap Khristi bisa, tapi kayaknya Ray udah mengacaukan rencana kita nih."
"Hmm...belum tentu juga sih." Kata Neo sambil menyiapkan tas kerjanya di meja, "Apa Sari dan Dee udah jelas nggak bisa?"
"Ya udah pasti." Jawab Pak Wir sambil mengencangkan ikatan sarungnya, "Si Dee, sejak ketemu dengan segerombolan preman dulu, dia jadi hidup rada bebas sekarang, sementara si Sari...yah, kamu tahu reputasi dia lah."
"Ooh, si Big Boss itu mintanya yang masih ting-ting, yah?" Tebak Neo.
"Begitulah." Jawab Pak Wir, "Sulit nyarinya kan? Belum lagi yang secara sukarela mau menyerahkan diri pada dia."
"Apa harus sukarela?" Tanya Neo sambil menutup resleting tas kerjanya.
"Nggak sih, ya cuman nggak tega aja melihat orang terpaksa." Jawab Pak Wir dengan nada bijaksana.
"Hmm." Sebersit senyum dingin tampak di wajah Neo, "Aku sih malah lebih suka ngeliat yang kepaksa."
"Mending kita omongin lagi ntar malam deh." Jawab Pak Wir, "Ntar kamu telat juga, lho."
Neo segera menenteng tas laptopnya dan meninggalkan ruangan.
"Pagi Pak Wir." Sapa suara seorang wanita dari tangga putar. Pak Wir menengok ke arah situ.
"Pagi, Khristi." Jawab pria setengah baya itu sambil matanya berusaha mengamati gadis manis yang sedang menuruni tangga putar itu. Gadis itu berwajah manis dengan senyuman misterius dan cerdas, khas wanita yang lama tinggal di negeri orang. Cara berjalannya pun anggun, namun pagi ini Khristi tampak agak aneh berjalannya.
"Khristi, kamu kenapa kok jalannya gitu?" Tanya Pak Wir tiba-tiba.
"Eh...Engg...Nggak apa-apa kok, Pak." Jawab Khristi sambil duduk di kursi makan.
Pak Wir hanya diam, namun matanya meneliti tubuh gadis di hadapannya. Dilihatnya leher jenjang gadis itu putih bersih dan halus, namun agak di samping kiri tampak bekas merah, seperti bekas cupang, tertutup oleh rambut indahnya yang tergerai sebahu. Pasti ulah si Ray, pikir Pak Wir.
"Semalam kamu tidur sama Ray?" Tanya Pak Wir tanpa tedeng aling-aling.
"Iya." Jawab Khristi sambil menyeruput secangkir kopi, tanpa tedeng aling-aling juga.
"Gimana, gimana, gimana?" Tanya Pak Wir penuh semangat sambil mengeluarkan kertas dan bolpen dari saku kaos kuningnya.
"Ahh, Pak Wir ini pengen tau aja!" Jawab Khristi tersenyum, "Mau ditulis di website yah?"
"Hehehehe..." Pria gemuk itu tertawa renyah, "Siapa tahu ceritanya seru."
"Wah, seru sekali pokoknya!" Seru Ray yang ternyata sudah berada di tangga putar, "Dunia seperti milik berdua!"
Khristi tampak tersipu ketika Ray duduk di sampingnya dan mengecup kening gadis manis itu.
"Hmmm..." Khristi menggumam sambil memandangi langit-langit seolah berpikir-pikir, "Kalau sama Neo rasanya gimana yaaa?"
Wajah Ray tampak memerah, sementara Pak Wiro terkekeh.
"Kalau mo tanya tentang macam-macam rasa, tanya sama si Sari tuh!" Seloroh Pak Wir, "Dia tahu tempat memilih barang bagus, yang belum terkontaminasi obat dan tidak berbau alkohol."
Wajah Ray tampak makin memerah.
__________________
Malam tiba, garasi rumah besar yang seharian kosong itu kembali terisi oleh beberapa mobil penghuninya. Plat-plat nomor polisi di mobil-mobil itu menunjukkan sikap posesif para pemiliknya, seperti N 30 SN, S 4 RI, W 1 RO, D 33 PE, atau R 4 Y.
"Masuk, nggak dikunci!" Seru Sari ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Pintu terbuka, dan tampak Neo berdiri di situ.
"Masuk aja." Sari menyilakan, sambil tetap membersihkan make-up pada wajah tirusnya di depan cermin rias di sudut kamar.
Neo melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Suara nafasnya terdengar agak keras karena situasi di kamar itu hening dan dingin oleh suhu AC. Pria itu memandang berkeliling, mendapati dinding dan langit-langit yang dicat hitam. Di sudut ruangan tampak sekantong pakaian kotor yang siap di-laundry, di sisi lain tampak sebuah meja rias panjang yang juga berfungsi sebagai meja kerja, dengan seperangkat palmtop, laptop, dan telepon seluler dihubung-hubungkan dengan beberapa kabel pendek.
"Mau membuktikan omongan si Ray tadi pagi yah?" Cerocos Sari sambil tetap memandangi wajahnya sendiri di depan cermin.
Neo tetap diam. Ia menatap tubuh wanita langsing itu dari belakang. Lingerie hitam nyaris transparan samar-samar menutupi keindahan tubuh pemakainya. Mata Neo terpaku pada sepasang tungkai jenjang yang telanjang bersilang, begitu halus dan bersih kedua paha itu. Pikiran pria itu segera melayang kesana kemari.
Sari berdiri dan membalikkan badannya menghadap ke Neo, hingga pria itu kini leluasa melihat segalanya, yang hanya terlapisi oleh lingerie hitam agak transparan. Namun sikap dan ekspresi wajah Sari tampak menganggap kondisi itu wajar saja.
"Tumben main ke kamarku." Ujar wanita itu sambil tersenyum dan melangkah mendekati Neo yang berdiri terpaku di depan pintu.
Setelah keduanya berhadapan begitu dekat, Sari mencolek dagu Neo, membuat wajah pria itu terangkat agak ke atas hingga matanya bertatapan dengan mata Sari yang agak lebih tinggi.
"Kamu keren pakai kaos hitam begini." Puji Sari sekenanya, karena memang Neo tidak punya baju berwarna selain hitam.
Neo tersenyum dingin, matanya menyorot tajam ke arah mata Sari yang juga tidak kalah tajam. Sari malah mendekatkan wajahnya dan makin tajam memelototi Neo.
"Udah, nggak usah pakai ini segala!" Ujar Sari sambil merogoh kantong celana Neo dan mengeluarkan sebuah borgol.
"Ini juga nggak usah dipakai!" Ujar wanita itu lagi sambil merampas cambuk dari tangan kanan Neo dan membuangnya ke lantai.
"Duduk situ!" Sari menyuruh Neo seperti menyuruh anak kecil, "Mau ngomong apa kamu?"
"Ada yang pengen aku omongin." Ujar Neo setelah duduk di sofa yang terhampar di sudut kamar Sari yang dindingnya dicat hitam itu.
"Kok kayaknya serius amat sih?" Jawab Sari sambil melempar tubuh lencirnya ke atas springbed di samping sofa tempat Neo duduk.
"Ya, emang serius." Jawab Neo, "Pak Wir pengen ngomong sama kita."
"Lho, kan uang sewa udah aku bayar di muka untuk setahun?" Cerocos Sari dengan nada tidak terima.
"Bukan tentang itu." Jawab Neo lagi, "Tapi tentang Jumat malam."
Sari menjulurkan lengannya yang panjang ke meja rias meraih Palm IIIcnya yang tergeletak disitu.
"Oh, iya yah, jatuh pas tanggal tigabelas." Gumamnya setelah melihat kalender di komputer sakunya itu, "Emang apa bedanya dengan Jumat tanggal 13 yang tahun lalu?"
"Bedanya adalah..." Neo menghela nafas panjang dan menyandarkan kepala di sandaran sofa, "Big Boss datang."
"Kan emang tiap Jumat tanggal 13 dia selalu datang?" Jawab Sari sambil mengembalikan Palm-nya ke meja rias.
"Iya sih," Jawab Neo lagi, "Kali ini dia mampir dan nginep disini."
Wajah Sari yang biasanya tampak tajam itu kini agak mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan, sesuatu yang jarang terpancar dari wajah tirusnya.
__________________
Kamar mandi di lantai bawah. Agak terlalu besar untuk dijadikan hanya kamar mandi, memang. Itu sebabnya para penghuni rumah itu meletakkan mesin cuci di situ, dan menjadikannya ruang cuci, sekaligus kamar mandi darurat.
"Ehhh, Pak Wir genit amat sihhhh!" Desah Dee ketika Bapak kost itu menggelitik pinggangnya.
"Hihihi." Pak Wir terkekeh, "Abis kamu sih, masa nyuci baju aja mesti pakai kemeja ketat gitu."
Dee sedang membungkuk di depan mesin cuci yang berisi baju-bajunya. Tangannya yang masih dipenuhi busa deterjen itu membalas Pak Wir, menggelitik pinggang pria setengah baya itu.
"Eits!" Seru Pak Wir sambil berkelit, namun kaos singletnya tetap terkena busa deterjen, "Yah, jadi basah nih."
"Hihihihi!" Dee tertawa nakal, "Nggak apa-apa kan, Pak! Biar keliatan transparan!"
"Saya balas lho!" Seru Pak Wir sambil mencipratkan air dari mesin cuci ke arah Dee, membuat kemeja putih ketat yang dikenakan gadis itu jadi basah di bagian depannya.
"Iiih! Dingin dong, Pak!" Seru Dee manja.
"Kalau dingin, peluk saya doong!" Seru Pak Wir sambil tetap mencipratcipratkan air ke kemeja Dee hingga apa-apa yang di dalamnya kini tampak dari luar.
"Iya deh!" Dee menubruk pria itu sambil memeluk erat-erat hingga keduanya jatuh berguling-guling di lantai porselin yang dingin. Keduanya basah kuyup dan tertawa-tawa.
"Eh, pintunya dikunci dulu ya, Pak!" Ujar Dee yang tentu saja membuat Pak Wir mengangguk keras-keras.
Dee berdiri untuk mengunci pintu, namun Pak Wir merengkuh pinggangnya dari belakang.
Pria setengah baya bertubuh tambun itu mendekap erat Dee dari belakang dan menciumi tengkuk wanita muda itu. Tangannya pun tidak segan-segan meremas-remas pinggang Dee yang kini tertutup kemeja basah.
"Ehh, sebentar doong...uhhh...kan pintunya mesti saya kunci dulu!" Ujar Dee sambil menggelinjang memberontak.
"Iya deh, sana!" Pak Wir melepaskannya.
Dee berlari menuju pintu, mengambil anak kunci, menutup pintu, dan mengunci dari luar.
"Naah, sudah saya kunci ya pak!" Seru Dee sambil tertawa-tawa dari luar kamar mandi.
"Eh, curang kamu yah!" Seru Pak Wir dengan nada tidak terima dan menyumpah-nyumpah.
"Buka pintunya! Ada yang perlu saya omongin nih! Penting!" Teriak Pak Wir dari dalam kamar mandi.
"Hihihi, tentang apa nih, Pak?" Jawab Dee sambil tertawa-tawa, "Kok kedengarannya serius? Hahahaha."
"Aku tidak ingin bercanda!" Jawab Pak Wir.
Suasana mendadak hening. Pintu segera terbuka kembali, dan pria setengah baya itu tersenyum menatap apa yang dilihatnya di depan mata.
Pintu tertutup dan kembali terkunci dengan sendirinya di belakang tubuh Dee yang kini tidak tertutupi selembar benangpun.
"Naaah, kalau gini kan lebih enak ngomong-ngomongnya" Bisik Pak Wir di telinga Dee.
__________________
Kamar tidur besar berukuran 8 x 4 meter. Hitamnya cat pada dinding dan langit-langit memberikan kesan suram dan gelap pada kamar yang sebenarnya terang-benderang.
"Ooh, gitu toh maunya." Ujar Sari setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Neo.
"Iya, apa kira-kira kamu bisa bantu?" Tanya Neo sambil berdiri dari sofa, mengamati tubuh jangkung Sari yang tergeletak di tengah ranjang.
"Hm...Mungkin bisa...mungkin juga enggak." Jawab Sari menatap mata Neo tajam-tajam.
"OK, ntar setelah selesai beres-beres turun yah?" Jawab Neo lagi, "Kita mungkin udah ditunggu sama Pak Wir."
Neo lalu melangkahkan kakinya ke pintu, namun langkahnya terhenti ketika bahunya terasa ditarik oleh jari-jari wanita. Pemuda itu membalikkan badan dan mendapati Sari masih setengah terbaring di tengah ranjang yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Mata wanita itu melirik ke arah pintu, anak kunci berputar, dan pintu terkunci.
"Jangan keluar dulu, dong." Ujar Sari datar. Wanita itu bangkit berdiri dan menarik lingerie hitamnya ke atas, dan melemparnya ke lantai, membiarkan Neo bisa melihat apa-apa yang ingin dilihatnya sejak tadi.
Secara refleks, Neo menarik kaosnya sendiri ke atas hingga terlepas, memamerkan otot-otot dadanya yang lumayan terlatih, dan melangkah mendekat. Sari kembali membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, kedua tangannya merentang ke samping, kepalanya yang tak berbantal tampak menengadah ke atas, memejamkan mata seolah menyerahkan segalanya.
"Biasanya tidak semudah ini." Bisik Neo dalam hati.
"Kali ini kamu beruntung." Ujar Sari menjawab suara hati Neo, "Aku sedang capek dan ingin istirahat."
"Lantas?" Tanya Neo, masih di dalam hati.
"Terserah kamu mau melakukan yang bagaimana." Jawab Sari, sambil tetap dalam posisi semula.
Neo membungkuk mengambil cambuk panjang tergulung rapi yang tadi dilemparkan oleh Sari, ia juga memungut borgol keemasan dari lantai. Diperlihatkannya kedua benda itu pada Sari, seolah meminta persetujuan, namun Sari tetap tak bergerak.
__________________
Lantai kamar mandi terasa dingin mengalasi punggung telanjang Dee. Wajah wanita muda itu mengekspresikan rasa nikmat tiada tara, bibirnya yang indah ternganga mendesahkan rintihan-rintihan memelas, kedua matanya setengah terbuka dan bola matanya agak terputar ke atas, menampakkan putihnya saja. Kedua buah dadanya yang kenyal sedang berada dalam kepalan tangan Pak Wir yang meremas-remas gemas. Pinggang gadis itu sedikit terangkat karena lutut-lututnya mengait leher pria setengah baya itu. Tubuh mereka bergoyang-goyang kencang mengikuti tusukan-tusukan cepat batang kejantanan yang kaku pada liang kewanitaan yang lembab basah.
"J-jadi...kamu sudah tahu r-rencana hari Jumat b-besokggh?" Seru Pak Wir sambil terus menggoyangkan badan menyodok-nyodokkan kejantanan pada tubuh mulus Dee.
Sambil tetap meringis-ringis keenakan, wanita itu menganggukkan kepalanya. Gesekan-gesekan batang kokoh itu terasa begitu nikmatnya hingga mulut wanita itu tak mampu menyuarakan apa-apa selain erangan memelas.
"K-kamu bisa p-pastikannn t-t-tidak ada...p-pengacau kannnn?" Seru Pak Wir lagi, sambil mempercepat goyangannya dan menjepit dua putik kecil di dada Dee dengan ibu jari dan telunjuknya.
Dee makin liar merintih-rintih keras, gerakan badannya makin tak terkendali, menggeliat-geliat, kepalanya terbuang ke kiri dan kanan. Rambutnya yang basah oleh lantai kamar mandi terlihat begitu seksi menutupi sedikit dahinya.
"B-B-Bisa nggakkkgh?" Tanya Pak Wir lagi, meyakinkan.
"Uhhh...S-Saya b-b-bisaaaaahhh..." Rintih Dee sambil kedua tangannya memegangi punggung tangan Pak Wir yang meremas-remas buah dadanya yang ranum, "Oughhh...P-P-Pakkk...S-s-sayaa...aaaghhhhkkkk..."
Bertepatan dengan rintihan panjang Dee, Pak Wir juga melolong panjang dan menyemprotkan isi kejantanannya ke dalam tubuh Dee, lalu keduanya mengejang sesaat.
Dari luar ruangan terdengar suara seperti lolongan anjing yang menyayat kuping.
__________________
Dinginnya AC di kamar tidur itu tak lagi terasa oleh Sari. Wanita itu sedang terpejam-pejam menikmati perlakuan Neo padanya. Kedua tangan dan kakinya merentang ke sudut-sudut ranjang, terikat rapi oleh cambuk dan borgol milik Neo, membuatnya tak begitu leluasa menggeliatkan badan ketika rangsangan datang, ia hanya mampu mengerang dan memiringkan leher jenjangnya.
"Uhhhh...Neoooo...pleaseeee..." Rintih Sari dengan kening berkerut dan gigi menggeretak tak sabar.
"Sabar dong, Non." Jawab Neo santai, terdengar menjengkelkan, "Aku masih menikmati ini semua."
Tangan pria itu memegang sebuah gelas sloki kosong, yang digerakkannya menelusuri tubuh telanjang Sari. Dinginnya kaki gelas yang merambati tubuhnya membuat Sari tergelinjang-gelinjang menahan geli, namun kaki dan tangannya yang terikat menghalangi geraknya. Entah sudah berapa kali kaki gelas itu merambati leher jenjangnya, menggelitik paha bagian dalamnya, atau berputar-putar di atas kedua puting susunya yang telah mengejang kaku. Butir-butir keringat dingin mulai menghiasi kulit halus wanita jangkung itu. Akhirnya, kaki gelas itu menuruni perutnya yang ramping, merambati rambut-rambut halus di selangkangannya, lalu turun lagi...turun lagi...lalu berhenti tepat di atas sebentuk bibir lunak yang melintang di tengah pangkal pahanya.
"Nggg...don't stop there...pleaseee..." Terdengar kembali rintihan memelas dari bibir tipis Sari.
"Hmm...tadinya sih mau terus turun, tapi aku tertarik dengan dua benda ini." Jawab Neo sembari meletakkan gelas sloki itu di ranjang, membasahi jemarinya dengan keringat di pinggang Sari, lalu jemari kekar itu menjentik-jentikkan puting-puting susu Sari, membuat wajah pemiliknya kian memelas. Kedua alis wanita itu seperti mengumpul di keningnya, matanya terpejam rapat, giginya terkatup meski bibirnya ternganga. Kepalanya terbuang ke kiri kanan berusaha mati-matian menahan rangsangan rasa geli yang terasa begitu menyiksa karena tak mampu ditahan itu.
"Soo beautiful." Ujar Neo sambil tersenyum menatap ekspresi 'korban'-nya yang seperti perpaduan dari ekspresi kesakitan dan terangsang berat. Sesekali kuku tajam Neo menusuk puting-puting kecil itu. Rasa sakit yang sesekali muncul di tengah kenikmatan membuat wajah Sari kian merangsang, nafasnya tersentak-sentak, dan rintihannya tertahan-tahan. Neo menatap dengan nanar, pemandangan inilah yang dinantinantikannya sejak dulu.
Neo melepaskan kedua tonjolan kecil yang telah membengkak itu, memberi Sari kesempatan menarik nafas. Dada wanita itu naik turun mengikuti nafasnya yang terengah-engah agak lega ketika Neo menghentikan rangsangan mautnya. Namun wanita itu segera terjingkat-jingkat ketika Neo menyentuh-nyentuh bibir kewanitaannya dengan kaki gelas sloki tadi.
Tubuh langsing yang terikat erat itu mengejang-ngejang menahan rangsangan yang semakin meledak-ledak. Wajahnya meringis menahan siksaan itu, jeritan-jeritan keras terdengar terpatah-patah tertahan. Kaki gelas sloki kecil itu bergerak melingkar-lingkar, menggesek, mengait-ngait bibir kewanitaan Sari, membuat tubuh pemiliknya mengejang-ngejang.
Wanita itu tak lagi merasakan kenikmatan, melainkan rasa gatal yang amat geli yang membuatnya ingin segera mengatupkan kedua pahanya, namun ikatan di kakinya terlalu kuat. Perasaan dalam otaknya bercampur aduk, stress, gelisah, sekaligus amat sangat terangsang.
"Ohhh...Neoooo...pleaseee...stoppp..." Tanpa henti-hentinya bibir wanita itu menjerit-jerit histeris. Kadang-kadang giginya menggeretak keras, kadang-kadang matanya seperti melotot tajam dengan dua alisnya terangkat ke atas, kadang-kadang bola matanya berputar ke atas hingga hanya putihnya yang terlihat. Sekujur tubuh jangkung itu kini berkilat-kilat dibasahi keringat yang mengucur deras. Di selangkangan dan pangkal pahanya, bukan hanya keringat yang membasahi, cairan pelumas mengalir seperti membanjir dari liang kewanitaan yang bibirnya telah mengembang berdenyut-denyut oleh gesekan gelas itu.
Sambil tersenyum, Neo mengambil sedikit leleran cairan kewanitaan Sari dengan jari dan menjilatnya. Lama kelamaan, pria itu mulai terangsang, celana hitamnya tak lagi mampu menyembunyikan tonjolan besar dari baliknya.
Jeritan-jeritan Sari semakin tak terkontrol, berbagai sumpah serapah mengalir keluar dari bibir tipisnya di sela-sela erangan menyayat.
Tak ingin memperpanjang waktu, Neo melucuti pakaiannya sendiri. Ia berdiri mengamati tubuh korbannya yang terikat erat dengan kaki dan tangan merentang ke sudut-sudut ranjang. Tubuh indah dan ramping itu terbujur tegang, sesekali mengejang-ngejang seperti sekarat. Wajah yang tadinya begitu cantik kini tampak melotot mengekspresikan frustrasi yang amat sangat. Bibirnya komat-kamit menggumamkan sesuatu yang tak jelas terdengar.
"Baik, permainan diakhiri." Ujar Neo sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.
Borgol dan cambuk yang mengikat tangan dan kaki Sari terlepas. Diluar dugaan Neo, Sari segera melompat dari ranjang dan menerjang tubuh pria itu hingga jatuh terlentang di lantai. Seketika itu juga, wanita yang tampak kesetanan itu duduk di atas pinggul Neo, melesakkan tonggak kejantanan yang kaku itu pada liang berlumpur yang sedari tadi menunggu. Lalu dengan cepat dan terburu-buru, tubuh lencir yang dibasahi keringat itu bergerak naik turun sambil menjepit kejantanan Neo dengan otot-otot kewanitaannya. Tidak hanya itu, kedua telapak tangan wanita itu menutupi wajah Neo hingga ia tak dapat melihat apa yang terjadi, hanya merasakan otot kejantanannya seperti sedang diperas-peras oleh sesuatu yang lunak, kenyal, namun licin dan hangat. Terdengar juga oleh pria itu rintih dan erangan tertahan yang berangsur terdengar seperti lolongan panjang.
Beberapa menit kemudian, Neo merasakan gerakan-gerakan cepat wanita itu terhenti tiba-tiba. Pada saat yang sama, ia menyemprotkan seluruh isi kejantanannya keluar. Membuatnya lemas sesaat.
Ketika ia membuka mata, dadanya terasa perih. Garis-garis luka ringan menggores dadanya, mengalirkan sedikit darah. Ia memandang berkeliling, didapatinya Sari sudah berdiri di dekat pintu kamar dengan mengenakan kaos ketat putih dan celana pendek hitam tersenyum kepadanya.
"Ayo, mungkin kita sudah ditunggu Pak Wir." Seru Sari dengan datar, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
__________________
Meski malam hampir pagi, di ruang makan rumah besar itu lampu masih menyala terang benderang. Seandainya bisa berpikir, mungkin meja makan berbentuk elips itu kebingungan, untuk apa orang-orang mengelilinginya di waktu seperti ini.
"OK, aku rasa kalian sudah tahu masalahnya." Pak Wiro angkat bicara sambil melangkah berkeliling ruangan, mengitari meja makan tempat di mana Neo, Sari, dan Dee duduk manis.
"Hm...saya rasa gitu." Jawab Neo, "Kita harus segera mencari hadiah untuk Boss itu kan?"
"Benar!" Jawab Pak Wir keras, seraya meniupkan asap pipanya ke bawah, "Sebelum matahari terbenam."
"Kita masih punya waktu panjang." Ujar Sari tenang, "Masih banyak yang bisa dilakukan."
"Tidak semudah itu!" Tukas Pak Wir, "Apalagi di jaman seperti sekarang ini."
"Engg...seandainya persembahan itu gagal diberikan, apa akibatnya?" Terdengar suara Dee bertanya.
"Ia akan murka." Sahut Neo, "Dunia akan kembali ke masa-masa yang tidak enak...sangat tidak enak, maksudku."
"Seberapa tidak enak?" Tanya Dee dengan wajah penuh perasaan ingin tahu.
"Jauh lebih tidak enak dari yang kamu pernah bayangkan." Ujar Sari lirih sambil matanya menerawang jauh ke langit-langit.
"Apakah kita juga akan dirugikan karena kondisi tidak enak itu?" Tanya Dee ngotot.
"Sebenarnya tidak." Sahut Neo lagi.
"Tapi orang-orang tak bersalah itu yang akan menanggung kemarahan Big Boss." Sahut Pak Wir seperti menyambung omongan Neo.
"Hm...Adakah pengganti persembahan itu?" Tanya Sari analitis, "Maksud saya, mungkin persembahan dalam bentuk selain kesucian dan kehormatan?"
"Sebenarnya ada sih." Jawab Neo ragu sambil menatap ke arah Pak Wir yang juga balik menatap ke arahnya.
"Apa itu?" Tanya Dee tidak sabar.
"Nyawa salah satu dari kita." Jawab Pak Wir sambil menunduk lesu.
Suasana kembali hening.
__________________
Matahari terbit, suasana di rumah besar itu tidak se-ceria pagi-pagi biasanya. Meja makan dikelilingi empat orang berwajah lesu dan tegang, yang duduk tanpa saling bicara.
"Selamat pagi!" Seru Khristi sambil berlari menuruni anak tangga di tangga putar.
Keempat orang yang duduk mengelilingi meja makan itu melirik ke arahnya sambil hanya menyunggingkan sedikit senyum.
"Ngg...aku salah omong ya?" Ujar Khristi merasa bersalah ketika mendapati wajah keempat orang yang dikenalnya itu seperti dipenuhi hawa yang aneh.
"Nggak apa-apa kok, Khris." Ujar Sari menghibur, "Cuman lagi omong-omong aja."
"Oh, diskusi toh?" Jawab Khristi sambil duduk di kursi makan dan mulai mengoleskan selai ke atas rotinya, "Tentang apa?"
"Ngg, tentang perluasan rumah kost." Jawab Dee sekenanya, berusaha menyembunyikan perkara. Sebagai yang paling junior di antara ketiga rekannya, ia merasa jeri juga dengan apa yang bakal terjadi malam nanti.
"Waah, kebetulan dong!" Seru Khristi, yang disambut oleh tatapan bingung orang-orang lainnya, "Nanti malam akan ada beberapa teman kuliah yang menginap di sini mengerjakan tugas, siapa tahu mereka jadi tertarik kost di sini kalau sudah diperluas nantinya."
Serentak wajah-wajah keempat orang lainnya berubah menjadi ceria.
"Jam berapa mereka datang?" Tanya Sari.
"Cowok apa cewek?" Tanya Dee.
"Yang cewek, OK nggak orangnya?" Tanya Neo.
"Kok pada rebutan ngomong sih?" Tanya Khristi balik, "Mereka datang ntar sore, dan mereka cewek semua, puas?"
"Oh gitu, Khris." Ujar Pak Wir dengan nada bijak, "Rencananya, kamu dan teman-teman nanti mau tidur di kamar mana?"
"Oh, di kamar saya aja, Pak." Jawab Khristi, "Nggak apa-apa kok dempet-dempetan."
"Pak Wir, mungkin ranjang-ranjang yang di gudang bisa dipindahin ke sini buat tidur teman-teman Khristi?" Tanya Sari dengan nada bersemangat, namun matanya melirik tajam, memberi isyarat pada teman lain.
"Oh, ide bagus!" Jawab Pak Wir, "Gini saja, teman-temanmu boleh tidur di ruang makan kalau mereka mau, berapa orang sih?"
"Aduh, nggak usah repot-repot." Ujar Khristi sopan, "Cuman tiga orang kok, lagian cewek semua lagi. Kan takut tidur sendirian di ruang makan sebesar ini?"
Mengakhiri kalimatnya itu, Khristi berpamitan dan segera berlari keluar meninggalkan rumah karena sudah hampir terlambat.
"Gimana pendapat kalian?" Tanya Pak Wir sepeninggal Khristi.
"Bisa diatur." Ujar Neo singkat. Semuanya mengangguk-angguk tanda setuju.
"Hayooo! Apanya yang bisa diatur?" Terdengar suara Ray tiba-tiba.
"Ray? Dari mana kamu?" Tanya Dee lugu.
"Aku sedari tadi ada di kamar mandi, dan aku dengar semua yang kalian omongkan." Jawab Ray merasa menang, "Kalian berencana ngerjain Khristi yaa?" Sambungnya dengan nafas yang beraroma alkohol.
Semuanya hanya diam mendengar cerocosan Ray yang agak ngelantur itu.
"Dan...perlu kalian ketahui juga," Ray kembali angkat bicara, "Aku duduk di tangga semalaman, mendengar pembicaraan kalian."
"Ooh, Well..." Kata Sari setelah semuanya diam sesaat, "Lalu apa pendapat kamu?"
"Cerita yang menarik untuk dipublish di website!" Jawab Ray menyebalkan, "Gue ngga sabar nunggu komentar teman-teman kalau ini semua diceritakan, Hahahaha! Pasti seru deh!"
"Hihihi, benar tuh!" Sahut Dee sambil berdiri mengemasi peralatan makannya dan berjalan ke wastafel, "Pasti seru!"
"Gue juga akan cerita ke teman-teman gue yang polisi aah!" Cerocos Ray lagi.
Sari, Neo, dan Pak Wir saling berpandangan. Kini di mata Ray, ketiga orang itu tampak begitu konyol dan menggelikan.
"Gimana Boss?" Ray kembali berkata sambil menatap Pak Wir dengan pandangan tidak fokus, "Apa kira-kira sepuluh juta cukup untuk ongkos diem?"
"Maumu apa, Ray?" Tanya Pak Wir setengah membentak.
"Alaa, dia kan cuman cari tambahan ongkos untuk beli jamu-jamunya itu." Tukas Sari dengan nada santai yang datar.
"Enak aja jamu!" Sahut Ray tidak terima, "Ini barang mahal tauuu! Si Khristi aja sampai mabuk kepayang dibuatnya! Hahaha."
Neo hanya diam, mencibirkan bibir dan menggeleng-geleng menatap ke arah Ray yang masih agak teler.
"Mau jadi apa elo ntar, Ray?" Ujar Neo seperti menasehati, "Ngga sayang duit elo?"
"Lho! Jangan membelokkan arah pembicaraan!" Jawab Ray lagi, "Kalian akan memelihara adik kesayangan kalian ini kaan? Hehehe, seperti kata Mbak Sari, kalau tong sampahnya ngga ditutup, baunya akan kemana-mana! Hihihihi."
"Memangnya kamu tahu apa yang kami omongin?" Tanya Dee sambil mencuci peralatan makannya.
"Hmm...honestly enggak sih." Sahut Ray dengan nada dibuat-buat, "Tapi itu jelas rencana nggak baik kaan?"
"Kalau aku cerita ke Khristi," Lanjut Ray lagi, "Pasti teman-temannya nggak akan jadi nginep di sini, hingga boss kalian akan nggak senang, iya kan?"
"Ah, si boss itu nggak peduli kok." Jawab Pak Wir mencoba menutupnutupi.
"Oh ya?" Goda Ray, "Berarti kalian nggak harus sediakan perawan-perawan gratisan buat dia dong?" Ray kembali terkekeh.
"Tapi...nggak apa-apa deh." Cerocos Ray lagi, "Mungkin gue bisa nonton adegan seru boss kalian itu dari atas tangga putar. Hahaha, pasti seru kaan? Eh, si Khristi boleh nggak ikutan ngeladenin boss itu? Dijamin barangnya OK deh!"
Sari, Neo, Pak Wir, dan Dee hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah laku Ray. Remaja itu memang satu-satunya 'orang biasa' yang tinggal di situ selain Khristi. Namun apa yang diketahuinya kini sudah terlalu jauh untuk ukuran orang biasa.
Mereka tetap diam saja melihat Ray dengan perasaan menangnya kembali naik ke tangga putar, menuju kamarnya di lantai dua, tempat ia menghabiskan waktu (dan uang orang tuanya) setiap hari.
"Dee, tolong bereskan dia." Ujar Pak Wir, yang disambut dengan anggukan setuju Neo dan Sari.
"I'll try my best." Ujar Dee mantap.
__________________
Berbeda dengan kamar-kamar lain di rumah itu, yang umumnya rapi dan bersih, kamar yang satu ini nuansanya lain. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar wanita tanpa busana dari halaman tengah majalah impor yang tertempel tak teratur, hampir di semua sudut tampak onggokan pakaian kotor, di sisi lain berserak botol-botol minuman mahal. Di tengah kamar yang cukup luas itu tampak sebuah botol kecil berisi spiritus yang disumpal kain bekas, beberapa kertas timah, dan bungkus koran bekas yang tadinya dipakai untuk membungkus barang-barang konsumsi orang-orang terbuang. Aroma ruangan pun tak kalah jeleknya, dipenuhi dengan bau aneh yang memusingkan kepala. Aroma itu tidak pernah bisa keluar, karena jendela kamar tidak pernah dibuka dan AC ruangan selalu menyala.
"Ray." Suara lembut seorang wanita membangunkan Ray dari tidur rutinnya pada jam sembilan pagi.
"Eh...? Dee?" Ray terbangun dan mengenali sosok tubuh indah yang berdiri di hadapannya.
Sosok tubuh wanita yang polos tanpa tertutup apa-apa. Lekuk liku tubuh indahnya tampak begitu jelas di mata Ray, kulit yang putih bersih, rambut-rambut halus di bawah perut, dada indah yang berhiaskan tonjolan-tonjolan cantik berwarna kecoklatan.
Ray menggosok-gosok matanya, tak pernah khayalannya tampak begitu nyata.
"Ray..." Terdengar lagi suara Dee, kali ini seperti lebih merdu dan basah, "Ini nyata, bukan khayalanmu."
Pemuda kerempeng itu terduduk di ranjangnya, sejenak ia tampak terperangah, namun sorotan matanya yang agak kosong kembali tampak mengejek.
"Ya jelas ini kenyataan." Ejek Ray, "Kalau ini khayalan, bukan elo yang berdiri di situ."
Dee tersenyum kecut agak tersinggung. Tubuhnya yang amat indah itu tak sepantasnya mendapat pernyataan seperti itu, namun gadis itu tetap berusaha tenang.
"Lalu siapa?" Tanya Dee, masih dengan suara manja, "Siapa yang kamu suka khayalin?"
"Hmmm...." Ray menggumam sambil menyalakan sebatang Marlboro, menambah pengap suasana, "Cameron Diaz, Vivian Chow, atau... paling enggak Mbak Sari deh." Lanjutnya dengan nada mengejek.
"Kalau aku?" Tanya Dee, pura-pura memasang wajah kecewa.
"Kalau yang seperti elo mah, di pinggir jalan juga banyak." Ejek Ray terus, "Paling-paling cepek ceng dapet dah."
Dee nyaris tak dapat menyembunyikan amarahnya, untung poninya cukup panjang untuk menutupi wajah manisnya yang kini mulai bersemu merah menahan jengkel.
"Kalau Khristi?" Tanya Dee memancing, "Masa dia lebih OK dari aku?"
"Hahahahaha!" Ray terbahak sambil mematikan puntung rokok di dinding, menambah kotor, "Dia mah cuman sampingan. Gratisan lagi! Hihihi, lumayan deh, dapet perawan gratis, seperti boss elo!"
__________________
Sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Tempat di mana orang-orang dengan 'sense-of-urgency' tinggi berlalu lalang sibuk.
Di salah satu koridor di lantai sebelas, tampak seorang wanita jangkung melangkah cepat dengan membawa beberapa lembar berkas kerja. Sesekali ia tersenyum ramah membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Terdengar bunyi melodi dengan nada tinggi dari T-28 yang terselip di saku blazer wanita itu.
"Halo, Dee. Ada apa?" Jawab Sari yang telah mengenali nomor ponsel Dee yang tampak di monitor T-28 nya.
"Aduuh, lagi repot nih!" Seru Sari lagi, kali ini dengan wajah agak menahan jengkel. Orang-orang yang lalu lalang berpapasan dengannya tidak ada yang berani menyapa kalau wajahnya sudah seperti itu.
"OK, aku balik deh, sekitar setengah jam lagi." Seru Sari lagi, seraya menutup flip dan mengantongi T-28 nya kembali.
"Nova, tolong kamu cancel appointment-ku ntar sore yah?" Seru Sari setibanya di kamar kerja pribadinya.
"Oh? Memangnya mau kemana, Mbak...eh, Bu?" Jawab asisten Sari yang juga teman dekatnya itu.
"Urusan biasa lah." Jawab Sari cuek, sambil memasang bando di kepala, agar poninya tidak menganggu pandangannya. Dengan kacamata kecil dan bando merah jambu itu, wajahnya tampak makin cantik dan menggemaskan tiap lawan jenis. Namun kali ini wajah menggemaskan itu tampaknya sedang tidak dalam mood untuk bersenang-senang.
"Masa siang-siang gini mau hunting, Bu?" Tanya Nova si asisten, "Ngajak-ngajak doong."
Sari hanya tersenyum dingin sambil menatap tajam pada Nova, membuat si asisten itu mengerti bahwa atasannya sedang serius.
Sejenak kemudian wanita itu telah meluncur cepat di atas Katana hijaunya.
__________________
Cafe kecil di sudut sebuah plaza. Tempat dimana para yuppies makan siang, dan para pengusaha kelas teri membicarakan proyek-proyek imajiner, juga tempat sejumlah anak pejabat melobi para tukang pukulnya. Agak ke sudut, tampak tiga orang pria berpakaian rapi duduk mengelilingi sebuah meja bundar kecil dengan secangkir Espresso di hadapan masing-masing.
"Nah, jadi gimana proposalnya udah kamu bikin?" Tanya salah seorang pria itu pada temannya.
"Udah, malah udah aku kirimkan." Jawab temannya yang mengenakan kemeja hitam dan dasi putih.
Deringan suara ponsel mengganggu keasyikan bicara mereka.
"Halo, Sari? Ada apa?" Tanya si kemeja hitam menjawab ponselnya, "Aku lagi repot nih."
"Eh...what?" Serunya lagi, "OK, OK, OK, Nggak usah marah-marah, aku akan balik sekarang juga."
Neo mematikan ponsel dan memandang ke arah dua rekan kerjanya itu.
"Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?" Tanya seorang pria yang lainnya.
"Hahaha, Son!" Ujar yang satunya lagi, "Sejak kapan Neo punya bini?"
"Eh, sorry yah." Neo memotong gurauan kedua temannya, "Kevin, Sonny, aku mesti cabut nih, kita lanjut besok, OK?"
Tanpa menunggu respon dari kedua temannya, Neo beranjak berdiri dan melangkah cepat meninggalkan cafe.
"Sejak pindah rumah itu, dia jadi aneh ya Son." Ujar Kevin mengomentari Neo.
"Yah..." Sonny mengangkat bahu, "Bukan dia kalau nggak aneh gitu."
__________________
Kembali ke rumah kost besar di awal cerita tadi. Saat matahari sudah mulai condong ke barat. Di ruang makan, empat orang gadis muda berpakaian trendy sedang mendiskusikan sesuatu yang tampaknya penting bagi mereka.
"Oh, ini teman-teman kamu, Khristi?" Ujar Pak Wir yang baru saja pulang.
"Iya, Pak, kenalkan, Sweety, Tessa, dan Widya." Sambut Khristi memperkenalkan teman-temannya.
"Wah, cantik-cantik sekali teman kamu." Ujar pria setengah baya itu sambil berpikiran macam-macam, "Saya jadi merasa terlalu cepat dilahirkan."
Keempat gadis itu tertawa mendengar gurauan si bapak kost.
"Tapi Om dulu pasti keren deh." Ujar Sweety.
"Iya, sekarang aja juga masih keren lhooo." Goda Widya menambahkan.
Keempatnya lalu tertawa-tawa lagi.
Diam-diam, dari tangga putar di sudut ruangan, bapak kost itu mengintai keempat anak itu dengan pandangan menganalisa. Keempatnya sama-sama muda, cantik, ceria, dan enerjik. Tapi yang namanya Tessa itu agak pendiam, dia tidak ikut menggoda aku tadi, pikir Pak Wir.
"Aku pulang!" Terdengar suara Sari ketika wanita itu muncul dari pintu masuk ke ruang makan.
"Eh, Mbak Sari, tumben udah pulang?!" Ujar Khristi menyambut kedatangan 'kakak kost'-nya itu, "Kenalin teman-temanku."
Sari berkenalan dengan ketiga teman Khristi, matanya meneliti satu per satu wajah ketiga gadis muda itu.
"Mbak jangkung deh." Ujar Tessa mengomentari tinggi badan Sari, "Dulu pernah jadi model yah?"
"Model apaan?" Ujar Sari sok merendah, "Model iklan obat pelangsing?" Tambahnya seperti membanggakan bentuk tubuhnya.
"Bukan!" Tukas Widya, "Model iklan alat peninggi badan di acara TV media!"
Mereka tertawa-tawa mendengar gurauan itu.
Di tengah keceriaan itu, mata tajam Sari melirik ke arah teman Khristi yang bernama Sweety. Gadis ini tampak hanya tersenyum kecil ketika teman-temannya terbahak. Hmm, gadis lugu berpikiran polos, ini yang kami cari, pikir Sari dalam hatinya.
Wanita itu segera meninggalkan ruang makan, bergegas melangkahkan kaki panjangnya ke lantai dua.
"Brakk!" Terdengar pintu ruang makan terbuka dan ditutup dengan keras, tampak Neo baru saja datang.
"Wow! Kereen!" Bisik Sweety pada Tessa.
"Eh, makasih lho Dik!" Tukas Neo sambil menatap ke arah gadis-gadis itu dengan mata penuh selidik.
"Hihihi, komentar kamu kedengeran!" Seru Tessa sambil mengejek Sweety. Khristi memperkenalkan Neo pada ketiga temannya, lalu dengan sangat sopan meminta Neo naik ke lantai dua agar konsentrasi kerja teman-temannya tidak terganggu oleh penampilan Neo yang seperti itu.
__________________
Kamar tidur Sari. Jendela yang menghadap ke arah barat membuat panasnya sinar matahari memaksa AC untuk bekerja lebih keras mendinginkan ruangan. Neo duduk di sofa, Pak Wir meletakkan pantat di tepi ranjang, sementara Sari duduk di atas kursi di depan meja riasnya, menghadap ke tengah ruangan. Ketiganya masih berdebat seru tentang siapa dari ketiga teman Tessa yang memenuhi syarat untuk rencana mereka.
"Kita nggak boleh keliru!" Ujar Neo sengit, "Bisa fatal akibatnya!"
"Tapi gimana coba?" Ujar Pak Wir tak kalah sengit, "Kita masing-masing berbeda pendapat."
"Kalau ketiga-tiganya dipakai?" Tanya Sari dengan nada netral.
"Lantas gimana kalau ada salah satu atau dua dari mereka yang tidak memenuhi syarat?" Tukas Neo, "Tetap saja Boss akan marah."
Semuanya terdiam karena tidak ada solusi.
"Eh, omong-omong tadi kenapa kok kamu meminta aku segera pulang?" Tanya Neo pada Sari.
"Ya ampun!" Sari beranjak berdiri, "Aku lupa! Dee tadi nelpon aku, katanya dia gagal ngurusin Ray!"
Ketiganya segera beranjak keluar kamar dan melangkah cepat ke kamar Ray.
__________________
Ikatan yang kuat di kedua pergelangan tangan dan kaki membuat pria itu tak dapat bergerak. Beberapa torehan panjang di dadanya mulai memancarkan darah segar. Namun semua rasa sakit dan frustrasi itu seperti berebutan muncul dengan birahi dan kehangatan yang juga membiasi pikirannya. Tidak ada erangan, teriakan, ataupun sumpah serapah, karena sebuah saputangan disumpalkan ke rongga mulutnya.
Ray merasakan sekali lagi batang kejantanannya seperti dielus-elus benda lunak dan hangat yang lembab. Benda itu bergerak-gerak mengelilingi kepala batang itu, mengolesi, menaburkan rasa hangat dan nikmat. Benda lunak itu lalu turun ke batangnya, meliuk-liuk melingkar-lingkar, hangat dan membakar. Otot kejantanan itu telah menegang, membuat tonggak itu tampak kokoh dan panjang. Beberapa detik terasa begitu nikmat, sebelum sebuah benda tajam kembali menggores kulit lengannya yang bertato itu.
Terdengar jeritan pemuda itu tertahan oleh saputangan yang menyumpal mulutnya.
Dee menjulutkan lidahnya. Kali ini tak lagi pada kejantanan Ray yang terlentang terikat di hadapannya, melainkan ke kuku-kukunya sendiri, yang panjang dan berlumur sedikit darah. Dengan gerakan yang begitu indah, wanita itu meliukkan tubuh indahnya seolah begitu menikmati tetes demi tetes. Ia merangkak di atas ranjang, mengangkangi tubuh si korban yang terikat tanpa daya. Lidah panjangnya menyapu-nyapu sekujur dada Ray yang kini tergores-gores garis merah. Jilatan yang seharusnya terasa indah dan menyenangkan bagi pria itu, namun goresan menganga itu membuat rasa pedih lebih terasa. Dengan nakal kedua paha Dee yang halus mulus menghimpit kejantanan Ray, membiarkan batangan itu tergesek-gesek. Syaraf Ray seperti bingung, harus menyampaikan apa pada otaknya. Rasa sakit, ataukah kenikmatan?
Jemari Dee memaksa kedua mata Ray terbuka. Pemuda itu melihat seraut wajah di hadapannya begitu mengerikan, begitu dominan.
Mata indah gadis itu berbingkaikan bulu-bulu mata yang lentik dan panjang, namun juga dikelilingi lingkaran kehitaman. Kulit wajah yang sehari-harinya kuning langsat bersih, kini tampak pucat agak membiru. Belum lagi bibirnya, yang biasanya agak cerewet kekanakan dan berwarna merah jambu itu kini terlihat gelap, hitam, dan sedikit terlumuri noda-noda merah.
"Hmm...sayang...make love to me..." Desah Dee lirih dengan suara yang begitu menghanyutkan, begitu menghipnotis.
Ray tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong, dipenuhi ketakutan dan kengerian.
"Make love to me!!!!" Teriak Dee lagi dengan nada membentak sambil kuku-kukunya yang kini panjang dan lancip mulai sedikit tertanam pada kulit wajah pria tak berdaya itu.
Dengan wajah ketakutan dan berkeringat dingin, Ray mengangguk pelan.
"Good!" Bisik Dee pada telinga kanan pria itu, yang diikuti dengan jilatan-jilatan mesra.
Sejenak kemudian, di tengah rasa sakit dan ketakutannya, Ray merasakan kejantanannya mulai memasuki rawa berlumpur hangat di selangkangan Dee. Wanita itu perlahan-lahan menurunkan pinggulnya hingga seluruh kejantanan Ray terbenam dalam tubuhnya.
Ia duduk di atas tubuh Ray, dengan punggungnya menghadap ke wajah pemuda itu. Ray hanya dapat menyaksikan punggung indah di hadapannya seperti menari meliuk-liuk dengan indahnya. Semakin lama, semakin menggairahkan. Kejantanannya pun terasa seperti berada dalam remasan-remasan benda hangat dan lembut. Kewanitaan paling ketat dan lekat yang pernah dirasakannya. Pelan-pelan rasa sakit dan ketakutan Ray mulai Sirna, digantikan oleh kenikmatan dan keindahan luar biasa yang serasa memeras-meras kejantanannya. Kehalusan dan kemulusan kulit punggung Dee yang meliuk-liuk di hadapannya memperindah kenikmatan itu.
Sayang sekali, baru beberapa menit saja kejadian indah itu berlangsung, Ray sudah merasakan kejantanannya berdenyut-denyut. Seluruh energinya seperti mengumpul di sana, siap untuk meledak keluar. Dengan susah payah pemuda itu berusaha menahan nafas agar tidak segera mengakhiri permainan itu. Namun berat sekali, keindahan punggung Dee di hadapannya, rasa nikmat pada kejantanannya, benar-benar amat sulit dihindarkan. Segera tubuh kerempeng itu mengejang kuat, menghamburkan seluruh energinya keluar lewat pancaran-pancaran panas yang tersiram ke dalam liang kewanitaan Dee.
Ray, tak dapat berbuat banyak. Begitu cepat ia harus merasakan pedihnya kekecewaan Dee. Hanya sedetik rasanya ia melihat wanita itu membalikkan wajah menatap ke arahnya, dengan wajah yang menyeringai menakutkan, dengan mata yang merah melotot, sebaris gigi yang lebih menyerupai deretan pisau, dan gurat-gurat wajah yang tak lagi dapat dikenalinya sebagai Dee.
Kini pun, dengan kaki dan tangannya yang terikat, ia hanya dapat bersikap pasrah, mematung, membiarkan rasa lelah dan ketakutan menguasai dirinya, membiarkan Dee menciumi lehernya. Tiba-tiba terasa dua tusukan benda kecil pada lehernya, sakit sekali. Ia hanya bisa pasrah, mengharapkan munculnya keajaiban Sang Pencipta, yang selama ini jarang diingatnya. Terasa kakinya mulai dirasuki hawa dingin dan kaku, naik ke lututnya, ke pahanya, di saat seperti inilah, di saat-saat menjelang akhir yang begitu menakutkan, pemuda itu berteriak dalam hati, memohon maaf dan ampun pada kedua orang tuanya, kekasih-kekasihnya, juga Sang Penguasa. Tak terasa air matanya mengalir keluar dari matanya yang mulai meredup, kosong.
__________________
Dee terhenyak kaget ketika jari-jemari lentik namun kokoh menariknya keras-keras, menjauh dari tubuh korbannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Sari sambil menatap tajam pada Dee yang terhempas ke lantai oleh tarikannya.
Berangsur-angsur wajah mengerikan itu kehilangan gurat-guratnya. Mata yang besar melotot mengecil, bibir yang hitam kebiruan kini memerah, dan kulit yang pucat pasi kini menguning perlahan.
"D-Dia...bikin aku sebel, Mbak!" Ucap Dee terbata-bata.
Sari tidak terlalu menghiraukannya. Wanita itu menatap ke arah ranjang, dimana Neo dan Pak Wir sedang mengamati pemandangan mengerikan di sana.
Betapa tidak, tubuh kurus Ray terikat erat di ranjangnya sendiri, dengan kulit dada dan lengan seperti tercabik-cabik membanjirkan darah yang membasahi sprei, mata terpejam yang mulai membiru di sekitarnya mengalirkan air mata. Wajah yang biasanya tampak menyebalkan itu kini tampak seperti memelas dan memohon ditundanya saat-saat akhir.
"Gawat..." Ujar Pak Wir setelah meraba leher Ray yang kini berhiaskan dua buah lubang kecil berlumur darah segar.
"Kenapa?" Tanya Neo dengan nada khawatir.
"Kalian memiliki saudara baru." Ujar Pak Wir datar, sambil melangkah mundur menjauhi ranjang, "Ia masih hidup."
Semuanya terdiam, suasana di kamar berhiaskan poster-poster gadis telanjang itu terasa hening untuk beberapa saat. Neo, Sari, Pak Wir, dan Dee menatap gurat-gurat luka di dada Ray mulai menipis, menipis, kemudian menghilang. Bunyi petir yang menggelegar di langit yang mendadak menderaskan hujan membuat ketiganya tersadar dari lamunannya.
"Dia datang!" Pekik Pak Wir.
__________________
Ruang makan utama, yang biasanya terang benderang, ceria dan menjadi tempat berkumpul para penghuni rumah saat bertukar canda di meja makan kini seperti berubah total. Hening, sepi, dan begitu mencekam. Suara canda tawa dari teman-teman Khristi yang baru saja terdengar ramai, kini tak lagi terdengar. Mereka tak lagi bersuara. Keempatnya berdiri tanpa busana, mematung dengan pandangan kosong. Berbaris berderet di tengah ruangan. Seperti tak sadarkan diri, meski mata terbuka dan tubuh berdiri tegak. Seseorang, atau sesuatu, tampak berdiri mondar mandir mengamati gadis-gadis itu. Sesuatu yang tidak jelas bentuknya, sesuatu yang besar, namun terlihat kabur. Mengerikan, namun juga terasa berkharisma. Gelap, namun sekaligus sejuk. Dingin, namun memancarkan hawa lembut yang merayu.
"Ah, servis yang mengecewakan!" Terdengar suara pria yang bernada rendah, bijak, namun menusuk telinga.
Pak Wir, Sari, Neo, dan Dee yang tergopoh-gopoh menuruni tangga putar kini duduk bersimpuh di lantai dengan kepala menunduk, pasrah dan siap menerima apa yang harus terjadi.
Pelan-pelan, sesuatu yang tampak tidak jelas tadi mulai menampakkan bentuknya. Agak lama kemudian, tampaklah wujud tamu yang dinanti-nanti kedatangannya itu. Seorang pria muda tanpa busana, berkulit kemerahan, berambut panjang berwajah tampan, dengan hidung mancung dan alis mata tebal serta sorot mata yang tajam dan dingin. Tubuhnya berkesan atletis dan berotot keras, namun juga anggun dan elegan dari sikapnya berdiri. Ketampanan dan kharisma yang dipancarkannya membuat tak satu wanita pun tidak melirik keindahan tubuh telanjangnya, dan tak satu pria pun yang tidak segan oleh tatapannya.
"Ratusan tahun, anakku." Pria muda itu bicara pada Pak Wir, "Kamu selalu menyerahkan yang terbaik buatku. Tapi kali ini?"
Pria itu berhenti sejenak dan mengacungkan telunjuknya pada keempat gadis yang kini berdiri mematung tanpa busana dengan tatapan mata kosong, "Mereka semua begitu busuk ternoda oleh pria-pria sebelum waktunya...apakah sulit menemukan yang bersih dan suci pada masa sekarang ini?"
Pak Wir tetap terdiam dan menunduk.
"Setelah sekian lama aku membiarkanmu hidup untuk mencari pengikut." Ujar pria muda itu melanjutkan pidatonya, "Tapi mana? Hanya tiga orang inikah pengikut setiamu? Bagaimana bisa kita menguasai dunia dengan pasukan bau kencur seperti ini? Mana orang-orang berpengaruh yang kamu janjikan untuk bekerja sama dengan kita? Hah?"
Semuanya tetap saja terdiam.
Pria itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Pak Wir, Neo, Sari, dan Dee yang tetap bersimpuh gemetaran.
"Hm...Tapi kedua wanita ini..." Pria itu menggumam, "Rupanya kamu memilih mereka untuk kesenanganmu sendiri. Sayang sekali barang-barang bermutu tinggi seperti ini harus kamu pergunakan sendiri."
"Dan kamu!" Bentak pria tampan itu pada Neo yang bersimpuh paling ujung, "Kamu mengaku diri pendosa, tapi apa arti sebuah dosa bagi kamu?" Tatapan pria itu membuat dahi Neo berkeringat dingin, "Hanya sebuah permainan? Atau hanya bagian dari sebuah kesenangan? Memalukan!"
"Malam ini..." Pria itu berkata lagi sambil membelakangi keempat penyembahnya, "Aku harus memanggil temanku, si pencabut nyawa, untuk memilih salah satu di antara kalian! Yang paling tak pantas menjadi anakku, agar menjadi peringatan bagi yang lain."
"DEATH!" Pria itu berteriak dengan suara menggelegar keras.
Sebentuk kepulan asap hitam, tiba-tiba bergulung-gulung muncul menyelimuti Sari. Tubuh lencir wanita itu seperti tenggelam di balik gulungan asap hitam pekat. Pria tampan yang dari tadi tampak angkuh itu seperti terkejut menyaksikan asap yang menyelimuti tubuh wanita itu menipis, menampakkan sesosok tubuh jangkung langsing, yang terselimuti oleh jubah hitam pekat. Sepasang tangan yang indah dan mulus tampak menggenggam sebilah kapak besar. Wajah Sari tampak tersenyum di balik tudung jubah besar yang dikenakannya.
"Kamu memanggil aku, Evil?" Ujar sesuatu yang tadinya dikenal sebagai Sari itu.
"K-Kamu...." Pria tampan yang dipanggil Evil itu tergagap, "Untuk apa kamu ikut campur ini semua?"
"Ya, ini aku." Jawab 'Sari' lagi dengan nada tenang, "Aku berada di sini untuk memenuhi permintaanmu."
"B-Baik!" Jawab Evil masih agak tergagap, "Bawa nyawa mahluk-mahluk tak berguna itu bersamamu!"
"Tidak." Jawab 'Sari', "Aku hanya memilih salah satu dari pengikutmu, sesuai perjanjian!"
"Tapi mereka tidak berguna bagiku!" Bentak Evil menuding-nuding Pak Wir, Neo, dan Dee.
"Kalau aku mengambil mereka semua," Jawab Death dalam bentuk Sari itu dengan nada ceria, "Kamu akan memilih wakil yang lain lagi." Lanjutnya sambil tersenyum dingin, "Tapi kalau aku memilih salah satu, mereka akan tetap menjalankan tugas suci mereka!"
"T-Tugas suci?" Neo tiba-tiba nyeletuk tidak mengerti. Pak Wir dan Dee ikut berpandangan bengong.
"Yap!" Jawab Death lagi, "Tugas suci untuk melindungi dunia dari ancaman Evil. Bukankah kalian telah susah payah menyediakan mangsa bagi Evil agar ia tak mampu menguasai dunia?"
"Percayalah," Ujar Death lagi, "Seiring dengan berjalannya waktu, tidak akan ada satupun manusia wanita yang memenuhi syaratnya. Pada waktu itulah Evil berencana menguasai dunia, menariknya kembali ke dalam kegelapan."
"Tapi kamu tetap harus memilih salah satu dari mereka!" Bentak Evil tidak sabar.
"Tentu, aku akan mengambil salah satu pengikutmu!" Jawab Death.
Mengakhiri kalimatnya, 'Sari' merentangkan tangannya ke atas, dan tiba-tiba sosok tubuh Ray sudah berada di tengah ruangan. Luka-luka di tubuhnya sudah bersih tak berbekas. Masih tampak ekspresinya memelas, memohon ampunan, dan menatap tanpa harapan pada si pencabut nyawa.
"Ia telah menyia-nyiakan hidupnya, dan tidak akan banyak berguna bagi orang lain." Ujar Death sambil merentangkan jari-jari tangan kanannya, tempat sebilah sabit panjang tiba-tiba berada, "Dunia tidak akan keberatan jika aku mengambilnya malam ini."
Dengan tak terduga, sabit panjang itu terayun. Bahkan Ray sendiri tak sempat mengeluarkan kata-kata ataupun teriakan dari kerongkongannya yang segera terputus oleh sabetan itu.
__________________
Matahari terbit, memancarkan sinarnya menerangi rumah kost besar di sudut sebuah kompleks elit. Tidak banyak yang tahu apa bedanya rumah itu dengan rumah-rumah lain yang bentuknya sama dalam kompleks itu.
Si manis Khristi masih tidur pulas menikmati Sabtu pagi.
Neo, Pak Wir, dan Dee mengelilingi meja makan. Masih ada keharuan, rasa bangga, rasa lega, sekaligus rasa tanggung jawab pada hati mereka masing-masing.
"Hmm...Sepi rasanya." Ujar Neo sambil mennghirup kopi paginya, "Tidak ada Ray, tidak ada Sari."
"Yah..." Dee menghela nafas panjang, "Aku senang kita masih hidup, Thanks to Death. Sulit membayangkan kalau dia itu Sari."
"Iya, aku juga mikir begitu, " Tukas Pak Wir, "Kalau selama ini aku tahu dia siapa, dan apa tujuannya di sini, aku nggak akan sekuatir ini..."
"Begitulah..." Dee menjawab, "Selama ini aku suka sebel dengan sikapnya yang sok dewasa dan suka ngerjain aku."
"Lucky me..." Neo mencoba bercanda, "Aku sudah pernah bercinta dengan si pencabut nyawa!"
"Hahaha, tapi ati-ati kalau milih teman kencan!" Jawab Pak Wir, "Bisa-bisa kamu yang dipilihnya semalam!"
"Hahaha!" Neo balas tertawa, "Tapi jangan munafik ah! Pak Wir juga pengen kencan sama dia kan? Nyatanya ngintip dia mandi!"
"Eh, jangan keras-keras lho!" Canda Khristi, "Bisa-bisa dia mendengar kita dari atas sana!"
Semuanya tertawa-tawa dan melanjutkan sarapan di hari libur Sabtu pagi itu
"Gedubrak!" Terdengar pintu masuk terbanting, semua menatap ke arah pintu malang itu.
"Dee, kenapa kamu nelpon aku di kantor? Kan masih jam kerja..." Ujar Sari yang baru masuk itu dengan bawel.
"...Kenapa semua kok ngeliatin aku seperti itu?"
__________________
Tamat
Minggu, 07 November 2010
Friday The 13th
Diposting oleh Admin di 18.52 0 komentar
Label: Horror
Arwah Penasaran nan Binal
Aku dan istriku yang baru menikah selama setahun, akhirnya bisa membeli rumah sendiri, setelah selama beberapa bulan ikut dengan mertua. Meski rumah itu tidak begitu besar, namun rasanya cukup membahagiakan hatiku. Bagaimana tidak? Suami mana yang tak merasa bangga bisa membeli rumah sendiri, ketimbang nebeng di rumah mertua.
Rumah yang kubeli, keberadaannya agak jauh dari rumah penduduk lain. Entah mengapa, sepertinya para penduduk di sekitar rumah yang kubeli itu, enggan berdekatan dengannya. Bahkan sewaktu aku hendak membeli rumah itu, ada penduduk yang memberitahuku kalau rumah itu angker. Katanya ada penghuninya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku menganggapnya sebagai cerita bohong belaka. Lagipula, sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, kenapa harus takut pada hal-hal mistik seperti itu? Ketimbang tinggal bersama mertua, bukankah lebih baik punya rumah sendiri?
Semula, saat pertama istriku melihat rumah itu, dia pun mengatakan kalau tempat itu seram. Istriku yang masih muda itu sebelumnya memang selalu tinggal bersama keluarga besar orang tuanya di sebuah rumah besar di lingkungan yang ramai di Sukabumi. Hani baru berusia 20 tahun. Lebih muda 6 tahun dariku. Sifatnya begitu polos dan jujur. Tubuhnya langsing padat dengan kulit yang putih bersih. Wajahnya cantik seperti aktris Dina Lorenza dengan rambut panjang terurai, ia adalah seorang istri yang ideal bagiku.
Dengan keyakinan yang kuberikan, akhirnya istriku pun bisa menerimanya. Setelah dibersihkan dan dirapikan, kami pun pindah.
Hari pertama kami menempatinya, tak ada hal-hal aneh. Itu sebabnya keesokan harinya kukatakan pada istriku bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang mengenai rumah itu tak benar. Istriku pun semakin bertambah yakin dan percaya dengan perkataanku. Begitu juga dengan hari selanjutnya sampai enam hari kami menempati rumah itu, tak ada hal-hal ganjil yang kami alami. Semua itu semakin membuat kami yakin, kalau cerita rumah yang kami tempati ada hantunya hanyalah bohong belaka.
Hingga sampailah pada hari yang ketujuh....
Hari itu hari Kamis malam Jumat. Sejak siang hujan turun dengan deras diikuti oleh angin kencang. Aku dan istriku sedang berada di ruang tengah menyaksikan acara televisi, ketika dari luar terdengar sesuatu berderak keras dan kemudian tumbang dengan menimbulkan suara yang keras dan sangat mengejutkan. Sampai-sampai istriku dibuat menjerit dan memelukku kuat.
Kraaaa....k!! Buuummm.....!!!
"Maass...!"
"Sepertinya ada pohon yang tumbang," gumamku sambil memeluk tubuh istriku yang menggigil dengan wajah pucat ketakutan. "Sebaiknya kulihat..."
"Aku takut, Mas," keluh istriku.
"Apa yang mesti kautakutkan? Tak ada apa-apa. Sebaiknya kau di dalam saja," saranku seraya melepaskan pelukan istriku kemudian melangkah ke teras rumah. Saat itu kulihat pohon nangka yang ada di halaman rumahku tumbang sampai ke akar-akarnya.
Rupanya suara tumbangnya pohon nangka itu juga didengar oleh warga sekitar sehingga mereka pun berdatangan. Kami dibuat terbelalak ketika melihat tanah lubang bekas akar pohon nangka itu. Di lubang tanah bekas akar pohon nangka itu terdapat tulang belulang manusia. Entah tulang siapa.
Karena ada kejadian aneh maka Pak Ramon pun menghubungi polisi. Dokter forensik dari labkrim langsung melakukan pemeriksaan terhadap kerangka manusia itu.
Tanpa sepengetahuanku, ternyata istriku keluar dan melihat kerangka manusia itu. Saat kerangka itu diangkat, tiba-tiba istriku mengeluh sakit kepala kemudian jatuh pingsan. Hal itu membuatku jadi panik. Segera kubopong tubuh istriku masuk ke dalam kamar meninggalkan masyarakat dan para petugas yang masih sibuk mengurusi tulang belulang itu.
Kejadian malam itu segera berlalu. Aku dan istriku tidak berminat untuk membahasnya lagi. Semuanya tampak sudah berjalan normal kembali sampai sekitar seminggu kemudian?.. Malam itu aku bermimpi aneh.
Dalam mimpiku, aku melihat istriku tengah bersetubuh dengan seorang pemuda. Melihat hal itu, tubuhku seketika menggigil karena emosi. Ingin rasanya aku melabrak keduanya, namun entah mengapa seketika aku tak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya aku hanya bisa melihat bagaimana istriku merintih-rintih dicumbu dan disetubuhi oleh lelaki lain, yang samar-samar bisa kulihat ternyata adalah Ajat, muridku sendiri di SMU tempatku mengajar.
Ajat adalah salah seorang siswa teladan di SMU itu. Selalu menjadi bintang kelas. Dengan tubuhnya yang besar dan sehat, ia selalu aktif di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, paskibra maupun organisasi pencinta alam. Setahuku ia adalah seorang siswa yang sopan dan baik perilakunya.
Namun... kini aku melihatnya dalam keadaan polos sama sekali tengah asyik mencumbu dan menyetubuhi istriku yang juga tak mengenakan selembar benang pun untuk menutupi tubuhnya yang putih dan padat berisi. Tubuh indah yang selama ini hanya aku sendiri yang bisa melihat dan menjamahnya.
Entah berapa lama mereka asyik berkasih-kasihan sementara aku seperti tak berdaya hanya bisa berdiri mematung memandangi aksi mereka. Rasanya seperti lamaaa... sekali.
Akhirnya, tampak Ajat mencapai puncak kepuasannya. Gerakannya yang semula seolah tak pernah diselingi istirahat mendadak berhenti. Wajahnya tampak tegang. Ia sama sekali tak berusaha mengangkat kemaluannya dari dalam tubuh istriku! Anak jahanam itu benar-benar berusaha mengosongkan air maninya yang telah siap untuk meledak sejak beberapa puluh menit yang lalu itu ke dalam rahim istriku yang masih sangat subur. Yang lebih mengejutkanku ternyata istriku sendiri tampak berusaha menahan anak muda itu keluar dari dalam tubuhnya. Dicengkeramnya kuat-kuat Ajat yang sedang menindih tubuhnya di bagian pantatnya.
Ajat pun tampak lemas setelah memuaskan nafsunya kepada istriku yang cantik. Tiba-tiba saat itulah kedua mata istriku berubah menjadi merah membara laksana api. Mulutnya menyeringai, menunjukkan sepasang gigi taring yang runcing.
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu tangan istriku sudah memegang sebilah pisau. Kemudian dengan buas istriku menghunjamkan pisau itu ke dada pemuda yang telah menyetubuhinya itu.
"Rasakan pembalasanku.... Hiih....!!!"
Jraab!!
"Aaakh.....!!" Ajat menjerit keras. Ia segera melepaskan tubuh istriku. Darah seketika menyembur dari dadanya. Sesaat tubuh Ajat menggelepar-gelepar, kemudian terkulai mati.
Aku tersentak bangun dari tidurku. Tiba-tiba aku tak menemukan istriku. Entah ke mana perginya. Khawatir terjadi sesuatu pada istriku, aku bergegas bangun dari tempat tidur. Sambil memanggil-manggil, aku berusaha mencari istriku.
"Han..... Hanii.... Di mana kau?" seruku memanggil sambil terus melangkah keluar kamar. Di ruang tamu, aku tak menemukan istriku. Dengan perasaan semakin cemas, aku lari ke kamar sebelah. Kubuka satu-persatu pintu kamar yang ada namun tetap juga aku tak menemukan istriku. Segera aku lari ke arah dapur. Saat itu juga, kulihat istriku sepertinya baru masuk.
"Hani... Dari mana kamu, sayang?" tanyaku seraya mendekat. Kulihat tubuh istriku menggigil kedinginan. Seluruh pakaiannya tampak basah kuyup. "Kau baru keluar...?"
Hani mengangguk dengan tatapan mata sayu.
"Untuk apa?"
"Entahlah, aku juga tak tahu, Mas. Tahu-tahu aku sudah di depan pintu dapur. Karena kudengar kau memanggil-manggil namaku, aku pun masuk," tuturnya seperti kebingungan.
"Sudahlah, pakaianmu basah. Ayo cepat ganti, nanti masuk angin," kataku seraya membimbingnya dengan penuh kasih. Sesampainya di kamar, kulepas seluruh pakaiannya. Kemudian kuambilkan gaun yang kering dan membantu mengenakannya. Sedangkan gaun yang basah segera kurendam di dalam air di kamar mandi. "Masih malam. Ayo tidur...."
Hani pun menurut. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun begitu wajahnya tampak seperti kebingungan.
"Apa yang kaupikirkan?" tanyaku.
"Tadi saat aku tidur, aku mendengar ada suara seorang lelaki memanggil namaku, Mas. Tiba-tiba aku.... aku tak ingat apa-apa lagi. Dan... dan tahu-tahu aku sudah berada di luar, Mas..." tuturnya dengan wajah masih menunjukkan kebingungan.
"Sudahlah, semua hanya mimpi," kataku berusaha menghibur hatinya. Untuk memberikan kenyamanan, aku pun memeluknya. Perlahan kucium keningnya, tetapi Hani menolakku secara halus.
"Aku capai, Mas," katanya dengan mata yang kuyu dan memelas. Lalu ia membalikkan tubuhnya membelakangiku dan segera tertidur pulas. Kututupi tubuhnya dengan selimut yang tebal, lalu aku pun menyusulnya tidur.
Pagi itu aku bangun kesiangan. Kalau saja tak ada kegemparan, mungkin aku tak akan bangun saat itu.
"Ada apa, sayang?" tanyaku pada istriku saat kudengar suara orang ribut.
"Entahlah... Katanya telah ditemukan mayat"
"Mayat?" Bergegas aku bangun. Tanpa cuci muka dulu, aku langsung melangkah keluar rumah untuk melihat apa yang telah menggemparkan para warga. Ketika bertemu dengan Pak Ramon aku pun langsung bertanya, "Ada apa, Pak Ramon?"
"Ajat, Pak Guru."
"Ajat....?! Kenapa dengan Ajat?" tanyaku dengan perasaan berdebar tak menentu.
"Ajat diketemukan meninggal."
"Apa..?! Meninggal?"
Penasaran ingin tahu yang sebenarnya, aku pun langsung menuju rumah orang tua Ajat untuk melihat sekaligus melayat. Terpaku aku dengan mata membelalak dan mulut melongo ketika melihat bagaimana keadaan mayat Ajat. Ajat ditemukan mati dalam keadaan telanjang bulat. Sepertinya sebelum meninggal, dia terlebih dahulu melakukan hubungan badan dengan seorang wanita. Yang mengerikan, di ulu hati Ajat terdapat bekas hunjaman pisau.
Kenapa? Kenapa kejadian yang menimpa Ajat persis seperti mimpi yang kualami, pikirku tak mengerti. Ya, sebelum aku menemukan istriku di pintu dapur, aku bermimpi istriku bersetubuh dengan Ajat, salah seorang muridku. Tiba-tiba, setelah Ajat mencapai puncak kenikmatan, wajah istriku berubah menjadi buas dan menyeramkan. Kemudian... istriku menghunjamkan pisau ke ulu hatinya. Oh, Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mimpiku menjadi kenyataan? Benarkah istriku yang melakukannya? Tidak! Tak mungkin istriku yang melakukannya. Istriku sangat lemah. Ia tak akan bisa berbuat sekejam itu.
Dengan langkah gontai, aku pulang ke rumah. Kutemui istriku tengah duduk termenung dengan wajah tak berdosa. Semua itu, semakin membuatku yakin, bukan istriku yang melakukannya. Lalu... siapa yang telah membunuh Ajat? Dan ke mana istriku semalam keluar? Aku benar-benar dibuat tak mengerti.
"Ada apa, Mas?" tanyanya.
"Ajat, Han."
"Kenapa dengan Ajat?"
"Dia diketemukan mati dengan keadaan mengenaskan. Sepertinya sebelum dibunuh, terlebih dulu ia berhubungan badan dengan seorang wanita yang mungkin saja pembunuhnya," desahku lirih sambil memandang ke wajahnya, ingin tahu bagaimana perubahan wajahnya setelah mengetahui berita itu.
"Ya, Tuhan. Bagaimana mungkin, Mas? Ajat anak baik dan selama ini kunilai merupakan muridmu yang paling cerdas dan patuh. Rasanya tak mungkin ia berbuat sejauh itu," tuturnya masih dengan ekspresi wajah tak berdosa. Semua itu semakin membuatku bertambah tak mengerti.
"Ya, mungkin sudah takdir," desahku.
Malam harinya, kembali aku bermimpi. Saat itu, aku seperti baru pulang dari bepergian. Karena kulihat rumah sepi, maka aku berusaha mencari istriku. Setelah kucari ke sana ke mari, entah dari mana petunjuk yang kudapat, langkah kakiku tiba-tiba terayun ke arah sebuah gudang tua. Dan memang, di sana akhirnya kutemukan istriku. Namun mataku kembali dibuat terbelalak, melihat apa yang sedang dilakukan istriku. Saat itu ia sedang bersama Pak Munandar, Ketua RT tempat kami tinggal.
Saat itu aku melihat pria yang bertubuh gemuk dan berkepala nyaris gundul dengan kumis tipis di atas bibirnya itu dalam keadaan polos, dan tengah menggeluti istriku yang juga dalam keadaan polos sama sekali. Kontras sekali perbedaan mereka dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Pak Munandar yang gemuk, berkulit gelap dan berwajah tak menarik dengan istriku yang ramping, berkulit putih bersih dan berwajah cantik.
Sebagaimana mimpiku kemarin, aku pun lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa. Sekujur tubuhku terasa kaku tak bisa digerakkan. Padahal aku ingin sekali melabrak keduanya.
Pak Munandar memang tampak kaget ketika melihatku memergoki mereka berdua dan berusaha melepaskan diri dari pelukan istriku. Lelaki itu sebetulnya kukenal sebagai seorang yang baik dan suka menolong. Ketika kami pindah rumah pun ia banyak sekali menolong kami tanpa pamrih. Namun dengan bibir tersenyum menggoda, istriku berkata, "Jangan takut, sayang.... Dia tak akan berbuat apa-apa sebab dia lelaki lemah yang tak mampu memberikan kepuasan. Teruskan sayang..... Aku suka dengan kejantananmu...."
Darahku mendidih mendengar ucapan istriku yang bibirnya tersenyum penuh ejekan ke arahku, tapi aku benar-benar tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdiri mematung sambil menyaksikan bagaimana istriku terus bercumbu dengan Pak Munandar.
Keduanya seperti sudah kerasukan iblis. Godaan istriku yang cantik dan bertubuh indah telah membuat Pak Munandar seperti lupa segalanya. Ia kembali menyetubuhi istriku seolah tak peduli ia melakukannya di hadapan orang lain yang terus memandangi mereka. Di hadapan suami dari wanita yang sedang disetubuhinya!
Telingaku bagai hendak pecah setiap kali mendengar rintihan dan lenguhan kenikmatan yang keluar dari bibir istriku dan bibir Pak Munandar.
Kali ini pun aku dipaksa untuk melihat bagaimana Pak Munandar mencapai orgasme di atas tubuh istriku yang sedang disetubuhinya. Seperti halnya dengan Ajat, istriku tampaknya ingin sekali membiarkan Pak Munandar mengisikan benih-benih hasil percintaan mereka ke dalam rahimnya. Jari-jemarinya yang mungil mencengkeram kuat-kuat pantat lelaki itu yang besar untuk menolong alat kelamin lelaki itu tetap bersatu dengan alat kelaminnya sendiri sementara Pak Munandar menyemprotkan setiap tetes air maninya ke dalam rahim istriku... Tentu saja aku sangat cemburu melihatnya. Kepalaku terasa akan meledak saat itu.
Ketika Pak Munandar tampaknya telah selesai dan keletihan yang luar biasa tergambar di wajahnya, tiba-tiba terjadi perubahan pada wajah istriku. Wajahnya yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan dengan mata merah membara. Dari mulutnya keluar taring runcing. Lalu, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tangan istriku telah tergenggam sebilah pisau tajam. Sedetik kemudian.....
"Kau telah mendapat kepuasan dariku, Munandar, maka kini saatnya aku harus membunuhmu....!" Bersamaan dengan itu, istriku menghunjamkan pisau stainless itu ke ulu hati Pak Munandar.
Jraaab...
"Wuaaaa......!!!!" Pak Munandar menjerit sekeras-kerasnya. Tubuhnya tertarik keluar dari tubuh istriku dengan sentakan yang tiba-tiba. Ia pun sekarat dengan ulu hati berlubang dan menyemburkan darah, lalu terkulai di samping tubuh istriku dengan nyawa yang sudah melayang.
Istriku bangkit dengan sikap yang tenang. Ketika ia berdiri, aku bisa melihat dari dalam alat kelaminnya keluar cairan sperma Pak Munandar yang pekat. Sisa-sisa benih cinta mereka berdua yang telah menyelesaikan tugasnya untuk membuahi sel-sel telur istriku yang subur itu mengalir dengan cukup deras di kedua paha bagian dalam istriku. Wajahnya tak lagi menyeramkan, tapi pisau yang berlumuran darah masih berada di genggamannya. Ia berbalik ke arahku dan memandangku dengan senyum penuh ejekan.
Lagi-lagi seperti kemarin malam, aku tersentak bangun. Segera aku keluar mencari istriku yang tidak ada di sampingku entah ke mana. Aku yang tadi bermimpi istriku berada di gudang tua segera menuju pintu depan untuk keluar dan pergi ke gudang itu. Namun baru saja kubuka pintu, kulihat istriku sudah berada di depan pintu dengan wajah tampak pucat dan mata terpejam seperti tidur.
"Hani...!"
Hani membuka matanya.
"Mas, bagaimana aku ada di sini?" tanyanya heran. "Bukankah tadi kita sedang tidur?"
Keningku mengerut turut heran. Ya, tadi memang kami tidur bersama dan malah berpelukan. Tetapi, aku bermimpi seram lagi dan sebagaimana kejadian kemarin malam, lagi-lagi istriku seperti kebingungan sendiri seakan tak menyadari apa yang telah dilakukannya.
Melihat kepucatan wajah istriku, aku jadi tak tega ingin bertanya. Segera kubimbing dia masuk. Kemudian sebagaimana kemarin, kugantikan gaunnya yang kotor dan langsung kurendam di dalam air.
Keesokan harinya, kejadian seperti kemarin kembali terulang. Mayat Pak Munandar diketemukan di dalam gudang tua dalam keadaan mengenaskan. Sebagaimana mayat Ajat, mayat Pak Munandar juga ditemukan telanjang bulat. Sepertinya sebelum dibunuh, ia terlebih dahulu bersetubuh dengan seorang wanita yang diduga sebagai pembunuhnya.
Kejadian demi kejadian aneh yang menimpa kehidupan rumah tanggaku membuatku merasa bingung. Di satu sisi, aku merasa kalau korban-korban itu yang membunuhnya adalah istriku. Namun di sisi lain, aku tak yakin kalau istriku yang selama ini sangat lemah adalah seorang pembunuh.
Tak tahan dengan kejadian-kejadian misterius itu, akhirnya malam itu aku berusaha untuk tidak tidur. Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi pada istriku? Namun anehnya, ketika aku tetap tidak tidur, istriku malah tidur dengan nyenyaknya.
Karena dua malam terakhir kurang tidur, lewat pukul satu dini hari aku tertidur. Kali ini mimpi itu muncul kembali. Aku melihat istriku berada di tepi sungai bersama Pak Ramon Da Costa, satpam di sekolah tempatku mengajar. Sebagaimana biasanya, istriku saat itu tampak begitu mesra merayu Pak Ramon.
"Jangan begitu, Mbak Hani. Tidak baik.... Mbak Hani kan sudah bersuami?" kata Pak Ramon berusaha menolak ajakan istriku untuk kencan.
Hani tersenyum menggoda seraya mengangkat gaunnya tinggi-tinggi sehingga mempertontonkan pahanya yang putih mulus seperti pualam. Mata Pak Ramon melotot tak berkedip, memandang nanar ke paha mulus istriku.
"Sungguh Pak Ramon tidak kepingin? Bukankah istri Pak Ramon di rumah sudah tua? Sudah tak menyenangkan lagi...? Ini kesempatan, Pak Ramon. Jangan disia-siakan....."
Sebetulnya Pak Ramon adalah seorang lelaki yang berwibawa dan dihormati. Namun menghadapi seorang wanita muda yang cantik dan bertubuh indah seperti istriku yang menawarkan tubuhnya secara sukarela, lelaki tua veteran perang Timor Timur itu seolah lupa segala-galanya. Aku baru menyadari potensi istriku sebagai seorang wanita penggoda. Wajah yang cantik, tubuh yang indah, usia yang muda, dan rayuan yang maut. Lengkaplah sudah.... Atau apakah itu bukan istriku? Karena sepanjang aku mengenalnya, istriku memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Ia bukanlah tipe wanita nakal yang suka menggoda pria.... Ia adalah tipe wanita yang sangat setia kepada suami.
Karena terus digoda, akhirnya Pak Ramonpun luluh juga imannya. Maka saat Hani menggeser duduknya mendekati lelaki itu sambil melingkarkan kedua tangannya di lehernya, Pak Ramon sama sekali tak melarangnya lagi. Malah kemudian kedua tangannya yang keriput itu mulai beraksi merayapi sekujur tubuh istriku.
Darah cemburuku mendidih menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku membentak agar Pak Ramon dan istriku sadar. Tapi entah kenapa, kerongkonganku bagaikan kering. Tak sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulutku sehingga aku hanya bisa melihat adegan demi adegan yang mendebarkan itu berlangsung satu per satu. Bahkan aku hanya bisa menelan ludah saat Pak Ramon menelanjangi istriku dan keduanya kini sudah sama-sama polos.....
Dengan buas dan penuh nafsu, Pak Ramon pun mencumbu serta menggeluti tubuh istriku yang tampak menikmatinya. Aku baru mengetahui bahwa di balik penampilannya yang tenang, walaupun usianya sudah sekitar setengah abad, Pak Ramon ternyata memiliki daya tahan yang luar biasa, di samping juga pengalaman yang tinggi. Dan yang membuatku terkejut adalah ukuran alat vital Pak Ramon yang ternyata besar sekali!!
Kali ini rupanya istriku menemui tandingannya. Nafsu istriku yang luar biasa dengan mudah ditanganinya. Bahkan terkadang aku melihat justru istriku yang usianya kurang dari setengah usia Pak Ramon yang tampak agak kewalahan mengimbangi nafsu lelaki itu.
Berbagai gaya pun mereka pertontonkan. Ada banyak gaya bersetubuh yang diterapkan Pak Ramon kepada istriku, yang aku sendiri pun tak pernah melakukannya terhadap istriku itu atau bahkan tak berpikir sama sekali tentang cara itu! Aku baru tahu kalau seorang lelaki bisa menyetubuhi seorang wanita melalui berbagai lubang di tubuhnya - tak hanya melalui alat kelaminnya - setelah melihat Pak Ramon mempraktekkannya terhadap istriku. Aku pun baru tahu kalau istriku mau saja disetubuhi oleh Pak Ramon dari belakang seperti posisi hewan yang sedang kimpoi.
Bahkan yang paling mengejutkanku adalah ketika istriku duduk bertekuk lutut di hadapan Pak Ramon lalu membiarkan orang tua itu mempompa mulut istriku yang mungil dengan penisnya yang besar. Tanpa merasa jijik sedikit pun, Hani menjilati dan mengisapi alat vital Pak Ramon, tak ubahnya seperti seorang gundik yang tengah melayani tuannya. Seirama dengan keluar masuknya kemaluan orang tua itu di mulutnya, dari bibirnya tak henti-hentinya keluar desisan dan lenguhan kenikmatan.
Aku benar-benar seperti sedang menonton film biru. Hanya kali ini adegannya benar-benar hidup di depan mataku sendiri, dan pelakunya adalah ISTRIKU sendiri!!
Tanpa terasa menit demi menit terus berlalu. Aku sama sekali tak bisa bergerak dari tempatku berdiri. Yang bisa kulakukan hanyalah melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan oleh Hani bersama Pak Ramon. Aku seperti seorang murid yang sedang mendapatkan pelajaran seks dari Pak Ramon, yang melakukannya dengan cara mempraktekkannya langsung terhadap istriku sendiri. Dari bibir Hani, terus keluar rintihan dan lenguhan kenikmatan, diiringi geliatan-geliatan nikmat. Aku bisa melihat paling tidak tiga kali istriku telah mencapai orgasme dengan hebatnya. Tampak benar bahwa ia sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Ramon...
Akan tetapi, biar bagaimanapun hebatnya kemampuan seksual seorang pria, akhirnya pasti akan lemas juga ketika telah mencapai puncaknya. Begitu pula dengan Pak Ramon. Tampak jelas kelelahan yang luar biasa di wajahnya. Mungkin ia terlalu memaksakan nafsunya tanpa mengingat bahwa usianya telah beranjak tua. Maka setelah mendepositkan seluruh benih sperma hasil kerja kerasnya selama satu jam ke dalam rahim istriku, lelaki itu benar-benar kehilangan tenaganya.
Dan.... pada saat itulah, untuk kesekian kalinya tiba-tiba wajah istriku berubah menjadi menyeramkan. Entah dari mana datangnya, di tangan istriku tergenggam sebilah pisau tajam lalu.....
Jraab...
"Aaakh.....!!" Pak Ramon menjerit ketika pisau yang tajam itu bersarang di ulu hatinya. Tubuhnya tercerabut dari tubuh istriku sambil meregang-regang untuk kemudian ambruk tanpa nyawa lagi.
Lagi-lagi aku tersentak bangun. Cepat aku keluar mencari istriku. Sebagaimana yang kulihat dalam mimpiku, aku langsung menuju ke sungai. Sesampainya di sana, seketika aku terperangah dengan apa yang kusaksikan. Ternyata mimpiku memang benar-benar nyata! Tampak istriku dengan buasnya menghunjamkan pisaunya berkali-kali ke tubuh Pak Ramon yang malang.... Setelah selesai, istriku yang merasa ada orang yang memperhatikannya segera membalikkan tubuhnya. Matanya tampak buas seperti mata setan, memandang tajam ke wajahku.
"Hani....."
"Hua ha ha ha..... Kau pun akan mendapatkan giliran!" dengusnya dengan mata terus memandang buas ke arahku. Dengan tangan masih memegang pisau yang berlumuran darah, Hani bergerak ke arahku. Dia bermaksud membunuhku!
"Hani.... Sadar, sayang. Aku Sumanto.... suamimu....!" seruku berusaha menyadarkan Hani. Tapi rupanya Hani yang sudah dikuasai oleh makhluk halus jahat bagai tak mendengar. Dengan pisau terhunus, ia berusaha membunuhku. Tenaganya sungguh sangat luar biasa. Aku sendiri tak sanggup untuk membendung serangannya yang terus datang bertubi-tubi sehingga akhirnya terjatuh lemas. Aku hanya bisa terduduk pasrah, siap menerima kematian yang sebentar lagi akan datang menjemputku.
"Hua ha ha ha.... Kini saatnya pembalasanku tiba, Darga! Dulu ketika kau tanam aku hidup-hidup, aku pernah bersumpah. Jika aku hamil nanti, maka pembalasan akan tiba! Kinilah saatnya.... karena aku telah memasuki raga wanita yang subur ini dan aku telah membuatnya hamil!" dengus suara wanita lain yang keluar dari mulut Hani seraya mengayunkan pisau ke arahku.
Kupejamkan kedua mataku, dengan hati memohon perlindungan serta pasrah kepada Tuhan. "Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku....."
Ketika tangan Hani terangkat ke atas dan siap menghunjamkan pisau ke ulu hatiku, tiba-tiba dari arah selatan melesat seberkas cahaya merah menghantam pergelangan tangannya. Pada saat itu Hani memekik dengan tubuh terhuyung. Tak lama kemudian, tahu-tahu di depanku telah berdiri sesosok lelaki tua.
"Kau....?" desis suara dari mulut Hani dengan mata membelalak ketika melihat sosok lelaki tua yang menolongku.
"Ya, aku Darga, suamimu, Sekarsih.... Kau memang wanita binal! Meski wujudmu sudah berubah, masih saja kebinalanmu membawa korban!" dengus lelaki tua yang mengaku bernama Darga itu tajam. "Jika kau mau membalas dendam, seharusnya akulah yang kau balas, Sekarsih. Bukan pasangan muda ini. Keluarlah dari raganya, Sekarsih. Ayo, ikut aku...."
"Tidak! Aku tak akan pergi sebelum menuntaskan dendamku!" tolak Sekarsih.
"Dendam apa lagi, Sekarsih? Dendammu hanya padaku, karena akulah yang telah menguburmu hidup-hidup. Namun itu semua kulakukan demi keamanan dan keselamatan manusia. Sebab jika kau dibiarkan hidup, maka korban akan terus berjatuhan. Sayang, rupanya wanita malang itu sedang haid ketika melihatmu sehingga dengan mudah kau mampu menguasainya."
"Hua ha ha ha.... Itu memang sudah lama kutunggu, Darga! Lima puluh tahun lamanya aku menunggu saat-saat seperti ini..... sampai aku menemukan wanita muda yang subur ini dan melalui raganya aku bisa hamil sehingga terpenuhilah syaratku untuk membalas dendam."
"Hentikan Sekarsih. Kumohon, jangan sakiti mereka," pinta Darga.
"Baik, tapi sebelum aku pergi, kuminta kau mau menyetubuhiku, suamiku. Lama kita tak bermesraan, suamiku...."
Darga tampak bimbang mendengar permintaan roh Sekarsih. Bagaimana mungkin dia harus menyetubuhi Hani? Meski raga Hani dikuasai oleh roh Sekarsih, tetap saja yang berhubungan badan adalah raga Hani.
"Itu tak mungkin kulakukan, Sekarsih. Raga yang kau tempati adalah istri lelaki muda ini. Kumohon, mengertilah....."
"Persetan! Aku tak akan keluar dari raga ini sebelum kau ikut menanamkan benihmu ke dalam rahimnya!" tegas Sekarsih tetap pada pendiriannya tak akan meninggalkan raga Hani kalau Darga tak mau menyetubuhinya.
"Aku merasakan tubuh wanita ini sedang memasuki masa suburnya sejak dua hari yang lalu. Sel-sel telurnya yang masak sudah menunggu untuk dibuahi oleh benihmu. Gairah seksualnya sedang berada di puncak ?. dan dengan aku yang mengendalikan tubuhnya, lengkaplah sudah yang kita perlukan untuk memuaskan dendam nafsu kita selama lima puluh tahun."
"Maaf, anak muda...." desah Darga penuh sesal.
"Saya mengerti, Pak."
Darga pun melangkah mendekat. Sekarsih tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya yang menyeramkan berubah kembali menjadi wajah Hani, istriku yang cantik. Aku hanya bisa memejamkan mata, tak mampu menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu. Istriku yang sejak tadi masih bugil, yang raganya dikuasai oleh Sekarsih, dengan mesra memeluk dan mencumbu seorang lelaki tua renta yang usianya pun lebih tua daripada kakeknya sendiri.
Istriku menciumi mulut Darga dengan mesranya seakan baru saja bertemu dengan seorang kekasih yang telah lama tak berjumpa. Dengan mesra dan menggoda, ia pun melucuti seluruh pakaian Darga sehingga tampaklah tubuh rentanya yang kurus dan penuh dengan keriput. Karena Darga telah mencapai usia yang uzur, istriku merasa harus membantu merangsang nafsu seksualnya.
Ia pun berlutut di depan Darga dan memasukkan alat vital lelaki tua itu ke dalam mulutnya. Sama seperti yang ia lakukan terhadap Pak Ramon hanya beberapa waktu yang lalu. Hal yang tak pernah dilakukannya terhadapku, suaminya sendiri. Aku hanya dapat menatap perlakuan istimewa istriku terhadap lelaki-lelaki itu dengan cemburu.
Rupanya cara itu memang manjur untuk mengembalikan gairah Darga yang sudah mulai sulit untuk bangkit. Lelaki tua itu pun melenguh kenikmatan dan tangannya secara spontan memegangi ubun-ubun istriku seolah takut kalau ia menghentikan kegiatannya. Istriku tampak senang melihat hasil kerjanya dan semakin bersemangat melakukannya. Kini istriku melakukannya sambil sesekali tersenyum dan terus memandang ke atas ke wajah Darga. Mata mereka pun saling berpandangan dengan mesranya.... Tampaknya di satu sisi Darga pun tak bisa menyembunyikan perasaan rindunya akan pelayanan istrinya yang binal tapi memuaskan itu.
"Oh, jangan sekarang, sayang....." kata istriku ketika merasakan cairan bening sebelum air mani dari penis Darga sudah mulai membanjiri mulutnya. Tampaknya lelaki tua renta itu sudah hampir mencapai orgasme. Dikeluarkannya kemaluan Darga yang sudah mengeras seperti batu dari dalam mulutnya yang basah. "Aku ingin kau ikut menanamkan benihmu ke dalam rahim perempuan ini....."
Hani pun membaringkan tubuhnya yang polos itu ke tanah, sementara Darga tanpa dikomando lagi langsung menindih dan memasuki tubuh istriku.
Setelah memompa beberapa lama, tampak Darga tak kuat lagi menahan desakan pada alat kelaminnya. Lenguhannya terdengar berat dan disemprotkannyalah semua air mani yang bisa dikeluarkannya ke dalam tubuh istriku. Hani pun tampaknya mengalami orgasme yang hebat tak lama setelah itu. Rintihan panjang keluar dari bibirnya disertai dengan ekspresi wajah yang sangat puas. Dendam nafsunya seolah terbalaskan pada saat itu juga.
Saat itu juga tampak Darga terjatuh dan sepenuhnya menimpa istriku. Hani pun tak berapa lama kemudian tertidur karena kelelahan. Sementara selama beberapa saat aku terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dari raga Darga keluar sesosok bayangan gaib lelaki muda. Sementara itu dari raga Hani pun keluar sesosok bayangan wanita muda yang sangat cantik. Rupanya itulah Sekarsih. Sosok keduanya lalu menghilang begitu saja.
Aku baru sadar bahwa Darga telah meninggal. Jantungnya sudah tak berdetak lagi. Dengan khawatir aku memeriksa Hani. Syukurlah..... ternyata istriku itu masih hidup. Hanya saja ia tertidur karena kelelahan. Dengan susah payah aku segera melepaskan mayat lelaki tua itu dari tubuh istriku. Rupanya nyawa Darga melayang tepat ketika ia mencapai orgasme. Alat kelaminnya masih dalam keadaan tegang dan kaku sehingga masih cukup kokoh menyatu dengan alat kelamin istriku. Tanpa berpikir untuk mengurusi mayat kedua lelaki itu, aku segera membopong tubuh istriku yang telanjang kembali ke rumah. Hari masih malam dan suasana di sekitar situ sangat sepi jauh dari pemukiman penduduk. Bagaimana pun aku takut kalau-kalau ada orang yang memergoki kami di sana dalam keadaan seperti itu.
Sesampai di rumah aku langsung memakaikan gaun kepada tubuh istriku yang telanjang bulat dan membaringkannya di tempat tidur. Sengaja aku tak memandikannya walaupun tubuhnya penuh dengan keringat dan air mani dari dua orang lelaki yang telah menyetubuhinya malam ini, karena aku tak mau membangunkannya. Aku seperti yakin bahwa jika ia terbangun esok pagi, tak sedikit pun kejadian malam ini dan juga malam-malam sebelumnya yang akan diingatnya. Aku sendiri tak bisa tidur semalaman. Melihat langsung istriku yang muda dan cantik disetubuhi oleh 4 orang lelaki selama 3 malam berturut-turut jelas bukan suatu pengalaman yang pernah kubayangkan sebelumnya. Sampai pagi pikiranku tak bisa lepas dari hal itu.
Benar saja, keesokan harinya ketika bangun istriku seolah-olah tak tahu kejadian-kejadian dahsyat yang telah terjadi sebelumnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Hani ketika bangun dan melihat aku sedang memandanginya.
"Entahlah. Yang kutahu kau sedang hamil, sayang...." jawabku yang memang bingung tak tahu harus berkata apa.
"Benarkah? Tahu dari mana kau, Mas..?"
"Percayalah....."
Aku tersenyum mengangguk. Kupeluk istriku dengan erat. Aku tak mau memikirkan apa yang telah terjadi terhadap istriku. Yang kumau hanyalah aku tak ingin kehilangan dia karena aku sangat mencintainya. Kuciumi seluruh wajahnya, yang membuat istriku merintih kegelian.
_________________
Tamat
Diposting oleh Admin di 18.51 0 komentar
Label: Horror
Paranormal yang Beruntung
Profesiku yang sebenarnya adalah pengacara, tetapi belakangan ini aku lebih dikenal sebagai seorang paranormal yang sanggup untuk memecahkan masalah masalah yang sulit termasuk menyembuhkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh gangguan psikis.
Sebanarnya ini semua hanya bermula dari keisenganku menggoda isteri temanku yang kukira sedang kesepian. Aku mencoba membohonginya dengan membaca beberapa ciri khas ditubuhnya demi untuk dapat menidurinya, tetapi diluar dugaanku ramalanku ternyata cocok, dan tanpa menceritakan affairku dengannya ternyata Evie sudah menceritakan kemampuanku ini pada semua kenalannya, sehingga aku menjadi seperti saat ini, paranormal ! Aku sangat menikmati kemampuan baruku ini, meskipun tidak pada setiap orang aku berani mengganggunya, tetapi anehnya hampir semua klienku bersedia menuruti permintaanku tanpa rewel, cuma seperti yang kukatakan, tak semuanya aku tiduri !.
Seperti siang ini, dikantorku sudah ada beberapa wanita menungguku, ketika aku datang, aku sempat tersenyum kepada mereka dan memandang mereka satu persatu. Semuanya rata rata perempuan kaya dan cantik, tetapi ada seorang ibu yang kelihatan anggun dengan tubuh yang tinggi besar sangat sesuai dengan seleraku.
Dimeja kerjaku kulihat berjajar empat lembar kartu kecil bertuliskan nama nama pasienku, kartu ini dibuat oleh sekretarisku Lenny. Kubaca satu persatu tetapi aku tak dapat menduga mana kartu ibu yang kuinginkan itu, sehingga kupanggil Lenny untuk memanggil mereka satu demi satu. Lenny sudah menjadi sekretarisku selama 3 tahun, jarang ada sekretarisku yang tahan begitu lama, karena rata rata mereka cantik sehingga mereka laku keras untuk kawin. Lenny seringkali juga memuaskan nafsuku, terutama bila aku sedang iseng dikantor ini, kami sering main dimeja kerja, dikursi bahkan dikamar mandi , semuanya kami lakukan dengan diam diam tanpa ada seorangpun yang curiga. Lennypun tahu dengan jelas hobbyku main cewek, bahkan seringkali dia kusuruh mengintai manakala aku berhubungan seks dengan klienku dan biasanya setelah itu, Lenny juga minta jatah karena dia tak dapat menahan nafsunya sendiri.
Lenny dengan gayanya yang anggun dan alim segera memanggil salah satu dari tamuku, ketika siibu masuk ternyata bukan ibu yang kuinginkan melainkan seorang ibu muda yang kelihatan genit tetapi wajahnya kelihatan kalau dalam keadaan sumpeg. Kuperhatikan tubuhnya dari jauh, ia memakai blus tanpa lengan sehingga memamerkan lengannya yang mulus sementara tubuhnya langsing dengan pantat yang besar. Bibirnya agak tebal dan wajahnya cantik sekali. Ia langsung menyalami aku dan memperkenalkan namanya Ria, rupanya ia lebih senang dipanggil dengan nama kecilnya daripada dengan nama suaminya, aku yakin dia sudah bersuami karena sempat kulihat cincin kawin berlian yang melingkar dijarinya. Setelah berbasa basi sejenak Ria segera menceritakan masalahnya kepadaku, rupanya dia sedang dalam kesulitan karena hobbynya bermain judi. Meskipun judi dilarang di Jakarta ini, tetapi ia berjudi melalui jaringan parabola , katanya dia dulu menang cukup banyak tetapi sudah dua bulan ini dia terus menerus sial sehingga hampir semua hartanya sudah habis. Saat ini dia takut kalau suaminya tahu dan dia akan diceraikan.
Aku tersenyum mendengar ceritanya ini, bagiku ini kasus biasa dan mudah, pasti beres. Tanpa membuang waktu aku menanyai Ria apakah menjelang dia kalah terus itu dia pernah melakukan sesuatu yang kurang baik, dia menyatakan rasanya kok tidak pernah, karena katanya kalau dia menang maka dia selalu baik kepada orang lain. Aku berkata kepadanya bila memang begitu maka kemungkinan sialnya ada dibadannya dan aku harus mencarinya dan kemudian menangkalnya. Tanpa ragu kusuruh ia membuka pakaiannya dan telanjang bulat didepanku.
Ria memandangku dengan tajam dan kemudian dia bangkit dan mulai melepas pakaiannya. Diluar kebiasaan yang aku ketahui, yang pertama dibuka Ria adalah roknya dan kemudian celana dalamnya sehingga aku langsung dapat melihat nonoknya yang dihiasi jembut hitam, baru kemudian dia membuka blus dan behanya. Seperti dugaanku susu Ria tidak terlalu montok tetapi mengkal dan bulat dengan pentil merah muda. Dalam keadaan telanjang bulat Ria berdiri mematung didepanku kakinya rapat dan tangannya terlipat diperutnya. Kusuruh ia berputar sehingga aku juga dapat melihat pantatnya yang montok itu, benar benar seksi. Dari apa yang kulihat aku langsung menyuruhnya duduk didepanku. Kukatakan bahwa aku sudah tahu dimana letak sialnya yaitu dari paha kanannya. Aku katakan bahwa semuanya sudah beres. Ria rasanya tidak percaya kalau aku mengatakan seperti itu, dia minta agar aku membuktikan kata kataku itu. Dengan ngawur aku minta dia mencabut jembutnya sendiri secara sembarangan, Ria menuruti permintaanku itu dan meletakkan jembutnya dimejaku. Kusuruh ia menghitungnya ternyata jumlahnya 3 lembar, kusuruh ia mencabut sekali lagi dan kali ini jumlahnya 4 lembar. Kuminta dia untuk memasang taruhan diangka 34 atau 43 dan buktikan sendiri. Baru saat itu Ria bisa tersenyum, ia mengucapkan terimakasih dan segera kuminta ia berpakaian kembali. Selesai merapikan pakaiannya, Ria menjabat tanganku erat erat dan mengatakan terimakasih. Aku mengangguk ramah, dan aku yakin bilamana saat itu aku minta dia untuk menghisap penisku pasti dia dengan senang hati mau melakukannya, tetapi aku punya target lain.
Ketika Ria keluar seorang ibu menyusul masuk, lagi lagi bukan ibu yang kuinginkan kali ini seorang ibu berumur sekitar 40 tahunan, wajahnya cantik tanpa polesan make up yang menyolok , ia memperkenalkan dirinya sebagai ibu Sugito, seorang pejabat penting yang pernah kudengar namanya. Ia langsung bercerita kalau suaminya punya simpanan wanita yang hebat sehingga dia merasa sedih sekali. Meskipun sejak dulu dia tahu kalau suaminya sering main perempuan, tetapi baru kali ini dia kecantol dengan pacarnya. Aku langsung mengatakan bahwa aku harus melihat tubuhnya agar bisa melihat dimana letak masalahnya. Mulanya ibu ini agak keberatan dia bertanya apakah tidak bisa kalau hanya dengan melihat wajah atau bagian lain yang terbuka. Aku hanya berkata enteng, kalau ibu percaya pada saya silahkan, kalau tidak silahkan juga kembali karena hanya itu caraku memeriksa pasien.
Dengan hati berat dia mulai membuka pakaiannya, pertama yang dibukanya adalah jacket ungunya, ketika ia melepaskan jacket itu aku sempat melihat ketiaknya yang lebat dengan bulu, aku sempat tertegun melihatnya karena bila ketiaknya saja seperti itu alangkah lebat jembutnya. Susu bu Sugito montok tetapi sudah agak kendur dengan pentil coklat kehitam hitaman, ketika ia membuka roknya, kembali ia ragu. Gerakannya terhenti sementara ia berdiri dengan hanya memakai celana dalam tipis berwarna putih yang jelas sekali menampakkan bayangan jembutnya yang hitam dan lebat itu. Aku sengaja mendiamkannya karena aku mau melihat apa yang dimaui ibu ini, tetapi aku sudah merencanakan bahwa ibu yang satu ini akan aku periksa habis habisan biar dia kapok. Akhirnya bu Sugito jadi juga membuka celananya sehingga terpampanglah dihadapanku tubuhnya yang mulus dengan bulu yang sangat lebat dipangkal pahanya serta diketiaknya.
Dari yang aku lihat ini aku langsung tahu bahwa ibu ini hiperseks. Jadi aku heran juga kenapa dia begitu ragu ragu untuk telanjang dihadapanku, hal ini membuat aku jadi ingin mengetahui sebabnya. Ibu Sugito hanya berdiri mematung didepanku tangannya berusaha menutupi pangkal pahanya. Aku langsung berdiri dari kursiku dan berjalan mendekatinya, aku memutari tubuhnya yang bersih dan harum itu, tetapi tak ada sesuatu yang janggal. Tanpa ragu kusuruh dia duduk disofa yang ada diruangku dan kubaringkan. Dengan pelahan aku merentangkan kakinya sehingga aku dapat melihat nonoknya yang penuh bulu itu, karena bulunya sangat lebat, terpaksa aku menyibakkannya sehingga dapat kulihat bibir kemaluannya. Aku agak kaget ketika kulihat liang nonok ibu Sugito ini begitu lebar dan bibirnya menjuntai keluar.
Rupanya ibu Sugito senang masturbasi dengan alat alat sehingga liangnya jadi molor seperti ini. Aku langsung menanyakan hal ini kepadanya dan dengan malu malu dia mengiakan dugaanku. Untuk menangkal masalahnya, aku minta ibu Sugito untuk saat itu juga melakukan masturbasi didepanku, dengan ragu ragu ia berdiri dan mengambil handbagnya, dari situ ia mengeluarkan sebuah alat mirip penis yang berwarna coklat, setelah itu dia duduk lagi dan mengambil posisi seperti jongkok untuk kemudian penis karet itu dimasukkannya kedalam liang nonoknya sampai amblas tinggal pangkalnya saja. Setelah itu dia memutar mutar pantatnya diatas penis karet itu sambil memejamkan matanya. Aku sendiri jadi tak tahan melihat pemandangan ini, akupun duduk didepannya dan kukeluarkan penisku yang langsung juga kukocok kocok mengimbangi bu Sugito yang sedang asyik, bu Sugito jadi kaget ketika melihat aku mengeluarkan penisku yang begitu panjangnya, gerakannya terhenti memandang penisku yang 18 cm itu. Ternyata dia berani juga menanyakan mengapa kok tidak penisku saja yang dimasukkan nonoknya agar benar benar nikmat, aku mengatakan bahwa aku tidak boleh melakukan itu. Kuminta dia agar segera berusaha mencapai puncak kenikmatannya. Rupanya ibu Sugito tidak tahan melihat tanganku mengelus elus penisku sendiri yang tegak lurus seperti tiang bendera itu. Ia mulai merintih makin lama makin keras dan akhirnya ia mengejang mencapai kepuasannya.
Dasar hiperseks, ketika ia melepas penis karetnya, tangannya ikut ikutan meremas penisku dengan lembut. Aku berkata kepadanya bahwa aku mau memasukkan penisku kenonoknya asal aku tidak melakukan gerakan apapun. Ibu Sugito mengangguk dan akupun segera mengarahkan penisku keantara selangkangan bu Sugito yang sudah merentangkan kakinya lebar lebar itu. Sekali tekan penisku masuk separuh dan ternyata aku tidak bisa menghabiskan seluruh penislku kedalam liangnya. Aku benar benar heran, karena dengan penis karet yang begitu besar dia sanggup menelannya sampai habis, tetapi kenapa penisku kok hanya masuk tiga perempatnya. Aku tidak perduli, sementara ibu Sugito sibuk memutar mutar pantatnya agar dia dapat mencapai orgasme lagi. Memang benar sekitar 5 menit dia merintih keras dan kurasakan cairan hangat membasahi ujung penisku. Tanganku segera meraih interkom dan kupanggil Lenny agar masuk. Ketika Lenny memasuki ruanganku, ibu Sugito jadi kaget dan berusaha menutupi tubuhnya, tetapi Lenny tak perduli, dia langsung mendatangi aku yang duduk dikursi. Aku minta Lenny untuk mengambil tisue basah dan membersihkan penisku yang masih gagah itu dengan tisue. Lenny dengan sigap mengeringkan cairan nonok ibu Sudrajad yang ada dipenisku sementara aku diam saja diatas kursi, ketika semuanya sudah kering dan bersih, Lenny tanpa sungkan sempat mengulum ujung penisku serta meremasnya sebelum dia masuk lagi keruangannya. Aku langsung kembali ketempat dudukku dan segera kuberikan penangkal tambahan untuk masalah ibu Sugito ini, aku yakin bahwa dalam waktu 1 minggu suaminya akan kembali kepadanya, karena sebenarnya ibu Sugito sangat pandai memuaskan suaminya hanya saja mungkin belakangan ini dia terlalu sering main sendiri sehingga dia jadi lengah.
Baru pasien yang ketiga, ibu yang aku inginkan memasuki ruangan kantorku, benar benar cantik dan anggun tinggi besar dengan rambut sebahu, bibir sensual dan hidung mancung, kakinya mulus dan ramping benar benar aduhai. Ketika memperkenalkan diri, tangannya terasa hangat dan empuk sekali, suaranya yang agak serak membuat aku makin terangsang sehingga hampir aku tidak mendengar ketika ia menyebutkan namanya Pratiwi. Aku berusaha bersikap tenang dan wajar mendengarkan keluhannya. Pratiwi adalah seorang pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah, omzetnya miliaran, tetapi belakangan ini bisnisnya mengendur karena banyak tender yang meleset dan jatuh ketangan pengusaha lain.
Dia sudah berusaha macam macam tetapi semuanya gagal total bahkan belakangan ini perusahaannnya hampir kena penalti karena kekeliruan karyawannya. Pratiwi benar benar gelisah dan ngeri oleh semuanya ini. Wajahnya yang cantik kelihatan tegang dan dicuping hidungnya kulihat bintik bintik keringat menambah keseksiannya. Melihat aku memandangnya, Pratiwi juga balas memandang tanpa berkedip. Tiba tiba aku bertanya kepadanya, apakah dia percaya bahwa kehidupan seks nya sangat mempengaruhi pekerjaannya, Pratiwi mengangguk dengan pelan, kulihat matanya sedikit berkedip seperti kaget. Aku langsung menyambung pertanyaanku dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak menyangka kalau itu keluar dari mulutku, karena aku menanyakan apakah dia seorang lesbian.
Diluar dugaanku dia mengangguk, tetapi dia menambahkan bahwa dia juga suka berhubungan dengan pria. Aku menanyakan kepada Pratiwi, coba ibu tebak, berapa kira kira panjang kemaluan saya, karena jika ibu bisa tepat menduganya, maka berarti saya dapat menangkal masalah ibu. Pratiwi agak menyeringai mendengar perkataanku itu. Dengan ragu ia bertanya maksudnya panjang waktu tidur atau waktu berdiri. Aku menjelaskan yang mana saja pokoknya tepat. Pratiwi terdiam sambil berpikir keras, aku tahu dia bingung karena saat itu aku duduk dikursi dibelakang meja kantorku, dan akupun memakai pakaian lengkap sehingga dia tidak mempunyai bayangan apapun tentang penisku. Tiba tiba saja dia meraih penggaris yang ada dimejaku dan merentangkan jari jarinya diatas penggaris itu untuk kemudian ditunjukkannya kepadaku. Aku melihat angka yang tertera diujung jari Pratiwi, aku kaget karena disitu tercantum angka 18.5 cm, hampir sesuai dengan kenyataannya. Pratiwi bertanya apakah itu benar, aku hanya berkata coba ukur saja sendiri. Aku langsung berdiri memutari mejaku dan mendekati Pratiwi yang sedang duduk, kubuka celanaku dan kukeluarkan penisku yang masih lemas itu. Pratiwi melirik penisku dan mengambil penggaris untuk mencoba mengukurnya, dengan ragu ragu satu tangannya memegang penisku sementara yang satunya memegang penggaris. Tentu saja ukurannya tidak tepat karena masih lemas, seperti yang sudah kuduga, tangan Pratiwi meremas remas penisku agar ngaceng dan mengurut urut. Kubiarkan saja semua gerakannya itu, tetapi percuma saja karena penisku tetap tidur nyenyak. Tiba tiba saja ia menundukkan kepalanya dan ......slep .....penisku sudah terjepit diantara bibirnya yang tebal itu, terasa hangat dan lembut sekali, kurasakan bibirnya menjepit penisku dengan gerakan yang lancar meskipun tak sedikitpun Pratiwi membasahi penisku dengan ludahnya. penisku mulai bangun dan makin lama makin mengembang, sementara Pratiwi makin lancar mengulumnya, tanganku mulai bergerak meraba buah dada Pratiwi yang montok dan kenyal itu, tanpa ragu ragu tanganku menerobos blousenya dan meremas buah dadanya, tak kukira bahwa Pratiwi tidak memakai beha, aku dapat merasakan puting susunya yang kecil tetapi keras seperti batu itu, kuremas remas susunya, dan kupelintir puting susunya. Rasa geli disekeliling penisku membuat aku jadi tak tahan lagi, bayangkan sejak tadi aku sudah terangsang oleh ulah beberapa ibu yang aku temui, maka saat ini rasanya sudah maksimal dan syer ....... syer ......croot , airmaniku memancar keras sekali dua, tiga dan empat kali memancar memenuhi mulut Pratiwi, tak sedikitpun Pratiwi melepaskan penisku semuanya masuk didalam mulutnya dan saking banyaknya sampai sebagian mengalir keluar dari samping bibirnya. Aku meremas buah dadanya sekeras kerasnya Pratiwi diam saja, dia asyik menelan air maniku.
Setelah dilihatnya aku sudah puas, Pratiwi mengeluarkan penisku dari mulutnya dan langsung diukurnya penisku yang masih ngaceng itu dengan penggaris. Dia tersenyum ketika melihat bahwa dugaannya benar. Aku juga tersenyum karena hisapan Pratiwi yang nikmat itu. Tiba tiba Pratiwi berdiri, tanpa kuduga ia mulai membuka pakaiannya sehingga telanjang bulat. Ia berkata bahwa sekarang saatnya aku memuaskan dia agar jadi seri. Aku jadi bernafsu lagi melihat tubuh Pratiwi yang luar biasa itu, susunya montok dan kenyal dengan puting yang berwarna merah muda sangat serasi sekali dengan kulitnya yang putih kekuning kuningan itu, sementara ketiaknya juga berbulu lebat, sesuatu yang sangat aku senangi, sedangkan pangkal paha Pratiwi benar benar menakjubkan, karena meskipun jembutnya sangat lebat, tetapi Pratiwi telah mencukur sebagian jembutnya sehingga hanya tinggal bagian tengahnya tegak lurus dari pusar sampai kebukit nonoknya. Meskipun saat itu kami masih sama sama berdiri, Pratiwi tak segan segan merapatkan tubuhnya dan menciumku dengan mengeluarkan lidahnya yang hangat menelusuri rongga mulutku, tanganku dengan lincah mengarahkan penisku keliang nonoknya yang tepat menempel didepan penisku itu. Begitu ujungnya menempel, aku segera menggendong Pratiwi dan menekankan penisku sampai amblas kedalam liang nonoknya.
Dengan posisi menggendong Pratiwi dan mulut masih berkutat dengan ciuman aku berjalan menuju sofa. Pratiwi benar benar pemuas nafsu pria rupanya, karena meskipun dalam posisi yang sulit yaitu aku menggendongnya dan kakinya menjepit pantatku, dia masih sempat juga menggerak gerakan pantatnya untuk memilin penisku yang sepertinya melengkung karena posisi tubuh kami yang berdiri ini. Begitu kami roboh diatas sofa, ciuman kami terlepas dan Pratiwi melenguh sejenak, mungkin dia merasakan enaknya sodokan penisku yang notok sampai keliang rahimnya itu. Tanpa malu malu Pratiwi mengangkat kakinya tinggi tinggi dan meletakannya diatas bahuku.
Posisiku jadi bebas sekali, dengan ringan aku mendayung liang nonok Pratiwi yang sudah mulai becek itu, dan diapun dengan lincah memutar mutar pantatnya mengimbangi tusukan penisku. Kurasakan liang nonok Pratiwi yang peret dan berpasir itu membuat penisku terasa geli sekali, entah berapa lama aku memaju mundurkan pantatku, tetapi Pratiwi masih juga belum mencapai puncaknya begitu juga diriku sendiri. Kuhentikan gerakanku dan kuminta Pratiwi untuk menungging agar aku bisa menyetubuhinya dari belakang, aku benar benar mata gelap dengan nafsu. Aku tak perduli lagi kalau mungkin diluar masih ada pasien yang menungguku, yang penting sekali ini aku harus membuat Pratiwi terpuaskan dan selanjutnya membantu kesulitannya agar tertanggulangi. Ketika Pratiwi sudah menungging, tampaklah nonoknya yang sudah basah kuyup itu dipantatnya juga banyak bulu jembut sebagai tanda kalau memang jembut Pratiwi luar biasa tebalnya. Aku langsung menempelkan ujung penisku yang sudah merah padam itu kecelah nonok Pratiwi dan slep........bloos........ penisku amblas sampai hanya tinggal pelirku saja yang menggantung diluar. Tanganku meraih buah dada Pratiwi dan meremas remasnya, saat itu mulai kudengar rintihan Pratiwi mula mula pelan tetapi makin lama makin keras dan tiba tiba kurasakan liang nonok Pratiwi mengejang ejang dan hangat sekali. Kurasakan rasa geli dan nikmat yang luar biasa saat itu, karena jepitan nonok Pratiwi sementara aku merojoknya membuat penisku seperti diurut. Dan tanpa bisa kutahan lagi akupun ambrol merasakan nikmatnya nonok Pratiwi, air maniku menyembur menabrak dinding dinding kemaluannya dan bercampur dengan lendir yang keluar dari nonoknya. Aku terkulai lemas sementara Pratiwi menggigit pundakku karena menahan rasa nikmat dan agar tidak sampai berteriak karena rasa nikmat tadi.
Dalam keadaan masih gemetar, aku segera memakai pakaianku kembali begitu juga dengan Pratiwi, wajahnya semeringah dan tersenyum terus. Aku berpura pura seperti tak ada apa apa dan setelah kami berdua duduk berhadapan, aku memanggil Lenny masuk. Lenny tersenyum melihat wajahku yang mungkin kentara kalau habis main seks itu. Aku minta dibuatkan minum dan Lenny dengan patuh membuatkan minuman buat kami berdua. Bagiku masalah Pratiwi bukan hal yang sulit dengan bermeditasi sejenak aku sudah berhasil menyelesaikan masalahnya, karena ada Bapak pejabat yang pernah ditolak olehnya untuk berhubungan intim rupanya sakit hati dan selalu mempersulit Pratiwi. Aku katakan pada Pratiwi bahwa bapak itu sekarang sudah berubah tetapi sebaiknya Pratiwi jangan sekali kali memberi dia kenikmatan karena berbahaya. Pratiwi mengangguk manja dan ketika mau pulang dia sempat mencium bibirku lama sekali. Aku berjanji pada Pratiwi untuk sekali kali makan siang dengannya tentu setelah itu kita juga perlu kenikmatan seks
__________________
Tamat
Diposting oleh Admin di 18.50 0 komentar
Label: Horror
