| Di kompleks perumahan ibuku, Tri terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Tri baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kira-kira 34D dan pantat bulat dan padat. Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya. | ||
| Tamat |
Minggu, 16 Januari 2011
Tri, Pembantu Binal
Diposting oleh Admin di 09.57 0 komentar
Label: Konvensional, Umum
Senin, 01 November 2010
Kenangan Era Farmasi
Cerita ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Nama saya Andy dan bekerja di sebuah perusahaan Farmasi di Jakarta. Saya mengepalai bagian marketing Seluruh indonesia, dan otomatis saya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, apalagi bila ada produk baru yg harus disosialisasikan. Sekitar tiga tahun yang lalu, saya ditugaskan ke Batam. Di sana kebetulan perusahaan kami mempunyai mess yang biasa digunakan oleh tamu-tamu yang datang dari kota lain. Mess-nya sendiri cukup besar, dan di halaman belakang ada kolam renangnya. Pada saat itu saya tugas 1 bulan dan hanya saya yg menempati Mess yg besar tersebut.
Selama di Batam saya ditemani oleh Lulu yang juga mengepalai bagian penjualan/supervisor di sana. Sebagai gambaran, Lulu tingginya sekitar 165 cm, berat sekitar 54-55 kg dan kulitnya putih mulus. Umurnya sekitar 25 tahun, dan menurut saya orangnya sangat menarik (baik dari segi fisik maupun personality). Beberapa hari di sana, kami pergi mengunjungi beberapa distributor, dan Lulu juga sempat mengajak saya jalan-jalan keliling Batam ditemani beberapa rekan kantor lainnya.
Hubungan saya dengan Lulu menjadi cukup dekat, karena kami banyak menghabiskan waktu berdua walaupun sebagian besar adalah urusan kantor. Lulu sangat baik pada saya, dan dari tingkah lakunya saya dapat merasakan kalau Lulu suka pada saya. Pertama-tama saya pikir kalau mungkin itu hanya perasaan saya saja. Walaupun dalam hati saya juga suka dengan dia, saya tidak berani untuk mengatakan atau memberi tanda-tanda kepada dia. Toh, saya baru beberapa hari kenal dengan dia dan memang untuk urusan wanita saya tergolong pemalu apalagi saya adalah pimpinannya. Bagaimana kalau dia ternyata tidak ada perasaan apa-apa ke saya?
Suatu sore setelah pulang kerja, Lulu seperti biasa mengantar saya pulang ke mess. Saya menanyakan apakah dia mau mampir dulu sebelum pulang. Lulu setuju dan masuk ke dalam mess bersama saya. Kami ngobrol sebentar, dan saya ajak Lulu untuk duduk di kursi panjang dekat kolam renang. Saya tanya Lulu apakah dia mau menemani saya berenang. Dia bilang kalau sebenarnya dia mau, tapi tidak bawa baju renang dan baju ganti sama sekali (Apa mungkin dia sungkan ama saya). Saya menawarkan untuk memakai celana pendek dan kaos saya.
"Nanti sekalian mandi di sini saja sebelum kita pergi makan malam..." kata saya.
Lulu setuju dan saya ke kamar untuk mengambil kaos dan celana pendek untuk dipinjamkan ke Lulu. Saya sendiri juga berganti pakaian dan mengenakan celana pendek saya yang lain.
Setelah berganti pakaian, kami pun berenang bersama. Karena baju kaos yang saya pinjamkan berwarna putih dan bahannya cukup tipis, buah dada Lulu yang ukurannya di atas rata-rata tercetak cukup jelas walaupun dia masih memakai bra. Kami berenang sekitar 20 menit, dan setelah selesai saya pinjamkan Lulu handuk untuk mandi di kamar saya yang kebetulan lebih bersih dari kamar mandi yang ada di ruang depan. Saya sendiri mandi di ruang depan.
Begitu selesai mandi, saya ke kamar saya untuk melihat apakah Lulu sudah selesai atau belum. Ternyata Lulu masih di kamar mandi, dan beberapa menit kemudian keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di badannya. Handuk yang saya pinjamkan tidak terlalu besar, sehingga hanya mampu menutupi sebagian buah dada dan sedikit pahanya. Belahan dadanya terlihat jelas dan mungkin sedikit lebih turun lagi putingnya akan terlihat. Dengan rambut yang masih basah, Lulu terlihat sangat seksi.
Lulu berdiri di depan pintu kamar mandi dan bilang kalau dia harus mengeringkan bra dan cd-nya yang masih basah. Waktu Lulu mengangkat kedua tangannya untuk menyibakkan rambutnya, handuknya terangkat dan kemaluannya terlihat. Saya tidak tahu apakah Lulu sadar atau tidak kalau handuknya terlalu pendek dan tidak dapat menutupi kemaluannya. Rambut kemaluan Lulu lumayan lebat.
Lulu kemudian duduk di ranjang saya dan menanyakan apakah dia boleh menunggu sebentar di kamar saya sampai pakaian dalamnya kering. Tentu saja saya membolehkan (suatu sinyal yg jelas buat saya), dan setelah mengobrol beberapa saat, Lulu menyandarkan badannya ke sandaran ranjang dan menjulurkan kakinya ke depan. Kakinya yang panjang terlihat mulus. Melihat itu semua, kemaluan saya mulai menegang.
Saya tanya dia, "Sambil nunggu celana kamu kering, mau ga kamu pijitin saya..?"
"Terserah pak andy aja.."
Dia minta saya membalikkan badan, dan dia mulai memijati kaki saya. Beberapa saat kemudian dia mulai memberanikan diri untuk memijat paha saya. Lulu sangat enjoy ketika memijat paha dalam saya sambil sedikit menyentuh kemaluan saya dan sepertinya dia juga sudah mulai terangsang. Hal ini terbukti dengan dibukanya kedua kakinya, sehingga kemaluannya terlihat jelas oleh saya, walaupun tubuhnya masih dibalut handuk.
Saya pun mulai memijat pahanya bagian dalam, dan terus naik sampai ke selangkangannya. Lulu diam saja, dan saya memberanikan untuk mengelus kemaluannya. Juga tidak ada reaksi selain desah nafas Lulu tanda bahwa dia sudah terangsang dan menikmati apa yang saya lakukan. Saya mulai lupa kalo saya adalah atasannya.
"Lulu, buka yah handuknya biar lebih mudah.." kata saya.
Tanpa diminta lagi, Lulu membalikkan badannya dan melepaskan handuknya, sehingga tubuhnya sekarang telanjang bulat di depan saya. Buah dada Lulu ternyata lumayan besar dan sangat indah. Ukurannya mungkin 36C dan putingnya berwarna kemerahan.
"Pak Andy, buka dong celana pendek kamu..!" pintanya.
Saya berdiri dan melepaskan celana yang saya kenakan. Kemaluan saya sudah sangat menegang dan saya pun naik ke ranjang dan tiduran di sebelah Lulu.
"Bapak diam saja di ranjang, biar aku yang buat bapak senang..," katanya.
Saya pun tidur telentang, dan Lulu naik ke badan saya dan mulai menciumi saya dengan penuh nafsu.
Beberapa menit kemudian ciumannya dilepaskan, dan dia mulai menjilati badan saya dari leher, dada dan turun ke selangkangan saya. Lulu belum menjilati kemaluan saya dan hanya menjilati selangkangan dan paha saya sebelah dalam. Saya sangat terangsang dan meminta Lulu untuk memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Lulu mulai menjilati kemaluan saya, dan sesaat kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ternyata Lulu sudah sangat ahli. Pasti dia sudah sering melakukannya dengan bekas pacarnya, pikir saya. Memang sebelum itu Lulu pernah berpacaran dengan beberapa pria. Saya sendiri saat itu masih perjaka. Saya memang juga pernah berpacaran waktu kuliah, tetapi pacaran kami hanya sebatas heavy petting saja, dan kami belum pernah benar-benar melakukan hubungan seks.
Saya minta Lulu untuk membuat posisi 69, sehingga selangkangannya sekarang persis di depan hadapan wajah saya. Sambil Lulu terus mengulum dan menjilati kemaluan saya, saya sendiri juga mulai menjilati kemaluannya. Ternyata kemaluannya berbau harum karena dia baru saja selesai mandi. Rambut kemaluannya juga lebat, sehingga saya perlu menyibakkannya terlebih dahulu sebelum dapat menjilati klitorisnya. Kami saling melakukan oral seks selama beberapa menit, dan setelah itu saya minta Lulu untuk tiduran. Dia merebahkan badannya di ranjang, dan saya mulai menjilati buah dada dan putingnya.
Lulu sudah sangat terangsang, "Hmm.. hmm.. terus an.. terus..!"
Rupanya dia sudah berani memanggil langsung namaku tanpa sebutan pak.....
Saya terus menjilati tubuhnya sampai ke kemaluannya. Rambut kemaluannya saya sibakkan dan saya jilati bibir kemaluan dan klitorisnya. Cairan kemaluannya terasa di lidah saya. Tubuh Lulu menggelinjang hebat dan pantatnya diangkat seolah-olah ingin saya menjilatinya lebih dalam lagi. Tangannya menekan kepala saya sampai hampir seluruh wajah saya terbenam di kemaluannya. Saya semakin bersemangat memainkan ujung lidah saya yang menyapu kemaluan Lulu, dan kadang-kadang saya gigit perlahan klitorisnya.
Lulu benar-benar menikmati apa yang saya lakukan, dan semakin membuka pahanya lebar-lebar. Dia terus menekan kepala saya dan menaik-turunkan pinggulnya.
"Ah.. ah.. ah.. I'm coming, I'm coming..!" teriaknya.
Saya terus menjilati klitorisnya dengan lebih cepat, dan sesaat kemudian dia berteriak, "Ahh.. Ahhh... Ahhh..." tanda kalau dia sudah orgasme.
Kemaluannya sudah sangat basah, Lulu melenguh sebentar dan berkata, "an, masukin dong, saya mau nih..!"
Saya bilang kalau saya belum pernah melakukan ini, dan takut kalau dia hamil.
"Jangan takut, saya baru saja selesai mens kok, jadi pasti nggak bakalan hamil.."
"Kamu di atas yah..!" kata saya.
"Ya udah, tiduran sana..!"
Saya tiduran dan Lulu duduk di atas saya dan mulai memasukkan kemaluan saya ke vaginanya dengan perlahan. Wah, nikmat sekali.. ternyata begitu rasanya berhubungan seks yang sesungguhnya. Lulu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua tangannya diangkat ke atas. Saya memegang kedua buah dadanya sambil Lulu terus bergoyang, makin lama makin cepat.
Beberapa saat kemudian saya sudah tidak tahan lagi dan ejakulasi sambil memeluk tubuh Lulu erat-erat. Belum pernah saya merasakan kenikmatan seperti itu. Kami pun berciuman dan kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang penuh dengan keringat. Di kamar mandi saya menyabuni tubuh Lulu dari atas ke bawah, dan hal yang sama juga dia lakukan ke saya. Khusus untuk kemaluannya, saya memberikan perhatian khusus dan dengan lembut menyabuni klitorisnya dan memasukkan jari saya untuk membersihkan vaginanya yang basah oleh air mani saya. Kelihatan kalau Lulu sangat menikmati itu, dan kakinya pun dibuka lebar-lebar.
Selesai mandi, kami kembali ke kamar dan membicarakan apa yang baru kami lakukan. Terus terang saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan seks dengan Lulu secepat itu, karena kami belum lama kenal dan semuanya juga terjadi dengan tiba-tiba. Lulu bilang kalau sebenarnya dia suka dengan saya dari awal, dan memang sudah mengharapkan untuk dapat melakukan ini dengan saya.
Sayang hubungan kami tidak berlanjut setelah saya kembali ke Jakarta karena jarak yang memisahkan kami.
Tamat.
Diposting oleh Admin di 23.15 0 komentar
Label: Konvensional, Umum
Aku Yang Kesepian
Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang masih memerlukan arti dari kepuasan sejati. namaku menik, Sudah 11 tahun aku (36) dinikahi Prayitno (40). Kami dikaruniai dua orang anak yang masing-masing berusia 10 tahun dan 8 tahun. Kami tampak bahagia. Lebih-lebih secara ekonomi kami memang berkecukupan. Karier suamiku di sebuah BUMN yang bonafide, cukup cemerlang. Posisinyapun bagus.
Aku dan suamiku tidak pernah bertengkar, Artinya, segala persoalan yang mewarnai kehidupan rumah tangga kami, berhasil diatasi secepat mungkin. Aku merasa beruntung, suamiku bukan tipe lelaki yang ingin mendominasi rumah tangganya. Dia memberiku kesempatan untuk memberikan pendapat. Jika aku memprotes kebijakannya yang ku anggap salah, tentu dia akan mentoleransinya. Selanjutnya, dia akan menarik kembali kebijakannya tersebut, lantas mengubahnya sebagaimana yang ku harapkan.
Namun, tidak seorangpun tahu bahwa ada sebuah ganjalan dihatiku. Berkaitan dengan kondisi seksualku. Jika selama ini suamiku tidak pernah mengeluh tentang pelayanan seksualku di atas ranjang, itu bukan berarti aku mendapatkan kesan yang sama.
Benar, selama 11 tahun berkeluarga, aku nyaris tidak pernah mendapatkan orgasme. Kalaupun dihitung, barangkali hanya belasan kali saja aku mencapai ke puncak orgasme di saat berhubungan intim dengan suamiku.
Bahwa suamiku selalu mencapai puncaknya, memang benar. Ini lantaran aku selalu mendoktrin diriku untuk selalu memberikan pelayanan yang memuaskan untuk suamiku. Bahwa apakah aku puas atau tidak, itu bukan menjadi problem yang berarti bagiku. Masalahnya, aku telah memiliki cara khusus agar mencapai orgasme dengan mudah. Tentu saja dengan caraku sendiri.
Sebenarnya sejak masa gadis, aku telah merasakan kepuasan tersendiri. Caranya, aku bermain-main dengan selang di kamar mandi. Awalnya kepuasan tersebut kuperoleh tanpa disengaja. Suatu hari iseng-iseng aku menyemprotkan air lewat shower ke alat kemaluanku.
Tanpa ku sadari, aku merasakan kenikmatan luar biasa dari keisenganku itu, ada perasaan nikmat yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata dari air yang mengalir dari selang yang menyentuh lembut bagian clitorisku. Aku merasakan diriku seperti di atas awan dan kadangkala tubuhku berkejat-kejat ketika aku tidak mampu menahan kenikmatan yang kurasakan dari liang kewanitaanku. Sejak itulah hampir setiap hari aku selalu bermain-main dengan selang kesayanganku di kamar mandi. Tentu saja kebiasaanku ini tidak diketahui oleh anggota keluargaku lainnya.
Setahun kemudian, aku tak hanya menyemprotkan air lewat selang, melainkan sudah memasukkan selang ke dalam liang liang kewanitaanku, sekaligus menyemprotkan aliran air dengan kecepatan rendah. Kalau sudah begini aku akan semakin betah bertahan di dalam kamar mandi.
Kebiasaanku ini semakin lama semakin meningkat kualitasnya. Semenjak menikah aku sudah tidak mendapatkan kepuasan dari selang berukuran sedang yang sering ku gunakan selama ini. Aku mencoba menganti ukuran selangnya. Tentu saja berubah ke ukuran yang lebih besar. Dan, aku kembali mendapatkan kepuasan baruku.
Suamiku tidak tahu bahwa lamanya aku di kamar mandi, bukan sekedar untuk mandi atau mencuci tangan dan kaki saja. Sebab, aku selalu beralasan bahwa aku biasa berlama-lama untuk mendapatkan refreshing, “Aku kan sudah capek mengurus anak-anak. Jadi aku ingin menyegarkan tubuhku dengan berlama-lama di kamar mandi”, alasanku. Dan, suamiku tidak pernah mempersoalkannya lagi.
Sampai sekarang suamiku tidak mengetahui rahasiaku ini, sekedar diketahui pembaca, aku memancing gairah seksualku, aku sering berkhayal bersetubuh dengan lelaki yang bertubuh kekar, berotot dan memiliki batang penis yang besar,panjang dan kokoh untuk mengawali petualanganku di kamar mandi.
Anehnya lagi aku hanya membutuhkan waktu sekitar lima sampai dengan sepuluh menit saja untuk mendapatkan puncak orgasme yang kuidam-idamkan. Ini jauh berbeda jika aku ingin mendapatkan kepuasan bermain seks dengan suamiku, harus mendapatkan pemanasan lebih dari lima belas menit, karena itu selama di kamar mandi aku bisa mendapatkan kepuasan orgasme mencapai tiga sampai empat kali berturut-turut. Dan ini ku lakukan setiap hari, kecuali aku sedang mengalami menstruasi.
kadang aku suka berkhayal seandainya ada sesuatu yang mengisi kekosonganku, tapi aku takut untuk mengkhianiti suamiku..terkadang apabila suamiku terlambat pulang aku sering berswalayan sendiri, memaikan fantasiku yang liar. Entah kenapa disaat umur beranjak tua, nafsu libido ku semakin memuncak, ingin aku selingkuh tapi aku takut akan dosa yang kuterima. mungkin jalan terbaik adalah bermasturbasi, walau kenyataan yang ada aku ingin kenikmatan sejati..tolong aku
Tamat
Diposting oleh Admin di 23.02 0 komentar
Label: Konvensional, Umum
Teman Sebangku
Namanya Nina, teman sebangku waktu kelas tiga. Orangnya cantik, kulitnya putih mulus, maklumlah karena ia wni keturunan. Di sekolah kami sangat akrab. Kadangkala Nina memanggil saya dengan kata "sayang", lain waktu dia menyapa "abang", dengan nada sedikit manja.
Suatu hari Nina mengajakku ke rumah neneknya. Dia bilang mau buat kue untuk Imlek, pulang sekolah kami langsung belanja segala keperluan.
Saya baru kali itu datang ke rumah nenek Nina, mereka bicara dalam bahasa Cina,saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, kemudian nenek Nina menghampiri saya,"Beni teman sekolah Nina, ya?",saya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum,"Nenek pergi dulu,ya, mau ke tempat Bibinya Nina".
"Iya,nek",jawabku sekenanya.
Selepas nenek Nina pergi, otomatis tinggal kami berdua di rumah.Sungguh mati,saya baru kali itu berduaan dengan seorang cewek, saya merasa serba salah, dan nampaknya Nina tahu akan hal itu, dia hanya tersenyum melihat saya.
"Nina ganti baju dulu ya, Bang".
"Iya Nin, abang juga mau nyiapin bahan-bahan kue nih".
Lagi asyiknya saya menyiapkan bahan-bahan kue, tiba-tiba Nina menepuk pundak saya dari belakang,saya berpaling dan langsung terkesima melihatnya, sangat menakjubkan,Nina hanya menggunakan kaos dalam tanpa bh, nampak sekali buah dadanya dengan puting susunya yang bersemburat warna merah muda mencuat seakan-akan ingin menembus kaos singlet yang dikenakannya.
Celana yang digunakannya sangat pendek, nampak pantatnya tersembul keluar karena pendeknya celana tersebut. kulit pahanya putih mulus tanpa cacat dan sangat menggairahkan.
Jantungku berdetak sangat cepat, seketika itu juga "adik " saya menegang, sampai-sampai saya susah menyembunyikannya, harap maklum, ukuran adik saya ini sedikit di atas ukuran rata-rata, apalagi saya lihat mata Nina tidak lepas memandangi celana abu-abu saya yang sudah mengembung.
Tiba-tiba Nina mengeluh,
"Bang,tolong pijitin,ya, Nina capek sekali, enggak usah disini, di kamar aja. Saya pikir-pikir berani benar nih anak, cuma berdua dirumah, pake pakaian minim, minta diurut lagi, ini pasti ada maunya.
Singkat cerita, saya mulai mijitin pundaknya, tentu saja dengan perasaan deg-deg ples, tak terasa (mungkin sudah bernapsu banget), Saya lorotkan kaos singletnya,wow!
Sangat indah, susunya putih mulus dengan puting susu yang mencuat menantang, langsung saja kuremas kedua susunya dari belakang, kumainin putingnya, sesekali dia mengerang menahan rasa nikmat, tangannya mulai membuka celana sekolahku, kontolku yang sudah tegang dari tadi langsung saja di remas dan dikocok olehnya, rasanya seperti terbang di awang-awang.
Aku tak mau kalah, langsung saja kulorotkan celananya, sangat mudah sekali dan ternyata Nina tidak mengenakan celana dalam, Ku belai memeknya, kumainin itilnya, tangannya masih mengocok kontolku.
"Bang, cepat... oohh", makin kupercepat gerakan tanganku karena mendengar ucapannya,
"Bukan itu,... cepat masukin kontol Abang".
Betapa bloonnya diriku dalam suasana seperti itu masih saja aku telmi ( telat mikir). Sepertinya Nina enggak sabar, langsung saja dia ngangkang di atasku, memeknya nampak basah, merah kehitaman, indah merekah, dipegangnya kontolku dan diarahkan ke lubang memeknya, langsung saja dia menekan bawah tubuhnya.
"bless"... oaaakh", kami berdua mengerang menahan rasa nikmat yang tiada tara, kontolku masuk semua ke memeknya, Nina menggoyang pinggulnya ke atas-ke bawah, ke kiri-ke kanan, berputar, baru kali ini aku merasakan memeknya seorang gadis, sangat nikmat, kami berganti posisi beberapa kali.
"Bang, kontol Abang enak sekali... engngng", goyangan kami semakin cepat dan akhirnya kami terkulai kelelahan, kucium bibirnya sambil berkata"Nin,kapan-kapan kalau Nina capek abang urut lagi ya", dia tersenyum sambil menjentikkan jarinya kehidungku.
Sekarang kami telah tamat, saya sekarang telah mempunyai seorang istri (teman sekelasku)dan tentunya teman Nina juga,tapi rahasia itu hanya saya danNina yang mengetahuinya,Terakhir aku dengar kabar dia sudah bertunangan dengan seorang kontraktor,dia sering menanyakan kabarku dan tidak bisa melupkanku, katanya.
Tamat
Diposting oleh Admin di 23.02 0 komentar
Label: Konvensional, Umum
