“Vie…… kamu sudah makan ?? dari tadi belajar terus…. Aku denger suara dari paman ak , dari pintu kamar.
“Tanggung om…. Bentar lagi kelar nich makalahnya….” Jawab aku ke paman.
Hari demi hari kulihat om semakin perhatian saja ak. Memang sudah 4 tahun ini ak tinggal sama keluarga om . Maklum setelah lulus smu, ak berkeinginan kuliah dan karena tidak ada biaya, om aku ( adik dari mamah ) bersedia membiayai kuliah ak.
Kulihat sdh jam 12 malam, perut terasa lapar. Dan ak memasuki ruang makan, tersedia sate dan pecel ayam, beli dari warung sebelah. Kebetulan sdh 2 hari ini tante ak sedang mengikuti pelatihan dari kantornya. Ah nikmatnya menu hari ini dan baiknya om masih menyisakan makanan buat ak.
Sembari makan, di teko minuman masih tersisa teh hijau kesukaan ak. Enak sekali sehabis makan dan minum teh. Tidak berapa lama, ku denger suara om memanggil. Vie masih enakkan rasa sate nya ??
Barusan di hangatkan sate dan ayamnya. “Ia om… jawab ku, meng iyakan…” beberapa saat ku lihat wajah om, seperti samara samar… dan kepala ku terasa seperti ngantuk dan ada rasa pusing…….
Kok tiba tiba seperti ngantuk sekali yach, padahal barusan habis makan ya… , ada apa yach “Vie” ?? kamu sakit ??? . Gini om… kok “Vie” tiba tiba pusing dan sepertinya terasa ngantuk yach…
“oh…. Gitu yach…” ku lihat om mulai mendekati ak, dan dia memegangi kepala ak, “Vie” ..... bentar lagi kamu jadi sarjana dan semuanya om yg biayai kan….
Dan kulihat wajah om yg mulai mendekat ke ak, dan tangan kanan om mulai membelai rambut ak, pelan….. dan ak bingun sekali kok kepala ini makin pusing…. Apakah om ak menaruh sesuatu di makanan ataw minuman yg ada….
“Vie”….. om sayang sekali ke kamu….., kulihat tangan kiri om sudah mulai membelai “susu” ak, om…. Jangan …. Om... jangan ,
kucoba menepis tangan om, tapi dengan kondisi bdn yg sudah makin lemas….. ak mulai sadari, bibi om mulai mencium jidat, terus turun ke leher…. Dan sembari tangan om sudah makin turun membelai “ susu” ak..… dan om…… ucapan ak tertahan, karena om sudah mulai melumat bibir ak….
Kucoba utk mengontrol diri ku, tetapi kok ak tdk berdaya sekali….. apa ak sudah minum obat perangsang ?? om…. ?? teganya dirimu…. ?? …… kurasakan ada rasa yg mengelora didiri ku….
Tangan om sudah mulai membuka celana pendek ak, dan mulai memegang “ lubang surga ” ak…. Om…. Om….. desahan ak…. Semakin mengeras….
“Vie” ….om sayang kamu, kamu malam ini cantik sekali…..
Ku denger suara om yg halus…di kuping ku…… dan mulai lah om ….membuka kaos ketat ak dan bra 34 d ,
Woow…… bagus sekali “susu” mu Vie Sayang ….. ku lihat samar samar…..
Om mulai menyusu sembari tangannya semakin lembut mengosok , miss “v” ak…. Om….Please …. Please… Jangan Om… Jangan….. antara sadar…. Tidak sadar….. kulihat om mulai membopong badan ak ke tempat tidur…….
Kulihat bdn om yg sudah mulai telanjang, dan terlihat dadanya yg masih gagah, walah sudah memiliki anak yg sudah lulus sma ( om ak hanya punya 1 anak dan sekarang sdg kuliah di ausy ) , dan perlahan om, telah membuka seluruh helai tubuh ku……
“Vie”, tubuh mu Indah sekali dan sangat mulus kulitmu….. ku denger suara om ak memuji tubuhku…… dan bibir om mulai mencium setiap inci di tubuh ku … dan turun mulai menjilat miss “v” ku…. Dan ah….. ku rasakan ada gelombang didiriku…. Dan ah…. Gelombang itu sangat deras menjalar di tubuh ku…..ahhhhh….. ternyata ak sedang mengalami orgasme……
Semenit kemudian, kulihat om mulai menaiki tubuh ku, dan membuka selangkangan ku…. Kucoba kembali bicara…. Om…. Sudah ….om……. jangan…. , tapi sepertinya om tetap membuka selangkangan ak, dan kurasakan ada “sesuatu” yg memasuki miss “v” ak….. ahh… om… sakit…., “tenang ya “Vie”…. Nanti juga enak… kok…. Dan pelan di goyangnya tubuh ku…… ahhh enak sekali “Vie”….ku denger suara om ak… “tahan yach "Vie" sayang….. semakin di percepat gerakan om ak…. Tahan yach sayang….. nanti juga jadi enak….. om….. om…. Ahh…… kurasakan rasa sakit tadi menjadi rasa nikmat yg belum pernah kurasakan….. dan….. “Vie…. Sayang…. Vie….
Ku denger suara om mulai berteriak dg desahan yg semakin cepat dan jelas….. bersamaan itu om semakin mempercepat gerakannya…..ahhh.... Vie….. ohhhh… Vie..... enak sekali...... Vieeee...... sayang......
Dan akhirnya kurasakan ada semburan air anget memasuki miss “v” ak….. ohhh….dan bersamaan juga kurasakan gelombang yg keras keluar dari tubuh ku…. Ohhhh ternyata ak orgasme lagi……
Setelah itu kulihat om terkulai lemas di samping ku, dan berkata……
Om sangat sayang sama kamu “Vie”…… ohhh god…. Dalam hati ku….. ada rasa sedih…. Tapi timbul juga rasa nikmat yg amat sangat yg belum pernah kurasakan sebelumnya........
Cerita ini ku dedikasi kan untuk om “Rangga”….. kenangan yg tidak terlupakan….
TAMAT
Minggu, 07 November 2010
Malam Pertama, dengan Om ku Nakal
Diposting oleh Admin di 19.03 0 komentar
Label: Gay, Homoseks, Maho, Sesama Jenis
Cerita Lesby
Suatu hari pada awal bulan September. Ketika itu aku pulang dari kuliah. Dan di meja komputerku tergeletak sebuah amplop. Kubuka amplop itu yang memang ditujukan kepadaku. Kubaca tulisan pada kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut.
Diposting oleh Admin di 19.02 0 komentar
Label: Lesbian, Sesama Jenis
Aku dan Kakakku
Ini mungkin sebuah pengalaman yang paling gila (menurutku), karena orang pertama yang mengajarkan seks kepadaku adalah kakak kandungku sendiri. Aku adalah seorang gadis berumur 18 tahun (sekarang), dan kakakku sendiri berusia 23 tahun. Sudah lama aku mengetahui kelainan yang ada pada diri kakakku. Karena ia sering mengajak teman perempuannya untuk tidur di rumah, dan karena kamarku berada persis di sebelah kamarnya, aku sering mendengar suara-suara aneh, yang kemudian kusadari adalah suara rintihan dan kadang pula teriakan-teriakan tertahan. Tentu saja meskipun orang tuaku ada di rumah mereka tak menaruh curiga, sebab kakakku sendiri adalah seorang gadis.
Ketika aku mencoba menanyakannya pada awal Agustus 1998, kakakku sama sekali tidak berusaha menampiknya. Ia mengakui terus terang kalau ia masuk sebuah klub lesbian di kampusnya, begitu juga dengan kekasihnya. Waktu itu aku merasa jijik sekaligus iba padanya, karena aku menyadari ada faktor psikologis yang mendorong kakakku untuk berbuat seperti itu. Kekasihnya pernah mengecewakannya, kekasih yang dicintainya dan menjadi tumpuan harapannya ternyata telah menikah dengan orang lain karena ia telah menghamilinya. Kembali pada masalah tadi, sejak itu aku jadi sering berbincang-bincang dengan kakakku mengenai pengalaman seksnya yang menurutku tidak wajar itu. Ia bercerita, selama menjalani kehidupan sebagai lesbian, ia sudah empat kali berganti pasangan, tapi hubungannya dengan mantan-mantan pacarnya tetap berjalan baik.
Begitulah kadang-kadang, ketika ia kembali mengajak pasangannya untuk tidur di rumah, pikiranku jadi ngeres sendiri. Aku sering membayangkan kenikmatan yang tengah dirasakannya ketika telingaku menangkap suara erangan dan rintihan. Aku tergoda untuk melakukannya. Pembaca, hubunganku yang pertama dengan kakakku terjadi awal tahun 2000, ketika ia baru saja putus dengan pasangannya. Ia memintaku menemaninya tidur di kamarnya, dan kami menonton beberapa CD porno, antara tiga orang cewek yang sama-sama lesbian, dan aku merinding karena terangsang secara hebat mengingat kakakku sendiri juga seperti itu.
Awalnya, aku meletakkan kepalaku di paha kakakku, dan ia mulai mengelus-elus rambutku.
Diposting oleh Admin di 19.02 0 komentar
Label: Lesbian, Sedarah, Sesama Jenis
Felicia, oh Felicia
Cerita ini kutulis sendiri, dengan tujuan untuk membagi sedikit pengalaman nakalku bersama seorang temanku beberapa minggu yang lalu. Maaf untuk mereka yang mencari bahan bacaan jenis 'tembak langsung' tulisanku ini mungkin tidak memuaskan. Pengalamanku ini benar-benar menarik, dan menggairahkan, sehingga latar belakangnya betul-betul sulit kulupakan - malah sebenarnya membuat pengalamanku ini benar benar tak terlupakan. E-mailku or*****k@************.com, terutama bagi cewek-cewek lain yang punya minat sama denganku. Kalau banyak yang senang mungkin akan kuceritakan pengalamanku yang lain.
- L - I - S - A -
Namaku Lisa dan sudah setahun lebih aku tinggal di New York, Amerika setelah aku tinggalkan kelas 1 SMA ku di Bandung. Hidup di sini bersama abang memang cukup enak, paling tidak di sekitar apartemen kami lokasinya aman dan bersahabat, dan tidak perlu berkhawatir jika kebetulan aku jalan sendirian di malam hari. Sekolahku adalah SMA publik, dan murid-muridnya keren-keren, datang dari berbagai ras. Hari-hariku biasanya diisi dengan sekolah, pergi ke tempat-tempat nongkrong anak SMA, biasanya toko Fast Food, kerja sambilan sebagai pelayan di restoran Oriental dekat rumahku (yang kadang-kadang juga tempat nongkrong anak-anak seusiaku), kerja sukarela sebagai pengawas perpustakaan, serta kegiatan ekstrakurikulerku sebagai anggota klub Sepakbola wanita dan kelompok Drama. Ada beberapa anak dari Indonesia juga, di SMA ku, hanya aku jarang bertemu dengan mereka di sekolah.
Baru-baru ini kelompok drama sekolahku mengadakan kunjungan wisata ke ibukota di Washington DC. Seorang gadis baru bernama Felicia baru saja mengikuti kegiatan ini. Aku sebenarnya sudah beberapa kali melihat Felicia di sekitar sekolah dan sudah lama merasa cukup iri dengan kakinya yang panjang serta matanya yang tajam dan seolah selalu penuh gairah. Felicia adalah seorang Latina, sebab kedua orangtuanya berasal dari Puerto Rico. Saat pertama kali kulihat Felicia di sekolah, aku jadi teringat dengan acara-acara TV minggu siang yang sering disaksikan oleh pembantu dan supir di tempat kostku dulu di Bandung seperti Maria Mercedes dan sebangsanya. Nah, saat perjalanan wisata ke Washington di atas bis dan kebetulan duduk sebangku, kami berdua segera menjalin persahabatan baru. Bercakap-cakap dengan Felicia benar-benar menarik sebab dia benar-benar supel dan pintar berbicara. Di tengah diskusi mengenai simpatinya terhadap kondisi Indonesia, kusempatkan diriku untuk mengamati rupa teman baruku.
Sepertiku, Felicia berbadan semampai. Rambut lurus dan alisnya berwarna coklat muda, rambutnya sedikit lebih panjang dan kulit Felicia jauh lebih pucat dari kulitku yang kuning. Bibirnya yang berbentuk mungil berwarna merah muda dengan hanya polesan sedikit lipstik saja dan bergerak-gerak secara menawan saat Felicia berbicara dengan logat latinnya yang enak didengar. Seperti murid-murid keturunan Spanyol lainnya di sekolahku, gaya berpakaian Felicia benar-benar santai, seperti celana pendek, dan kaos oblong tangan panjang, namun potongan depannya pendek yang berakhir di atas bagian pusar, sehingga dadanya yang membusung membuatnya tampil benar-benar feminin dan eksotik. Kaus kaki Miki Tikus warna putih menutupi sebagian betis Felicia, sepatunya model santai seperti Converse, dan Felicia mengenakan seuntai kalung perak sebagai aksesoris sementara telinganya ditindik tiga dengan giwang-giwang kecil diatur artistik. Namun yang bikin aku benar-benar seperti terhipnotis adalah tatapan mata biru jernih Felicia yang menyorot tajam, mengundang, dan benar-benar hidup. Jika ada yang mengamati, mungkin kami berdua akan tampak cukup menarik sebab aku sendiri menjaga penampilanku cukup konservatif walaupun di Indonesia mungkin lumrah saja melihat gadis remaja delapan belas tahun mengenakan turtle neck, rompi dan rok selutut dan rambut kuncir kuda. Tak lama setelah kami mulai berbicara, hilanglah sudah minatku terhadap kunjungan wisata ini.
Sementara waktu berlalu, kami mulai saling menyentuh tangan atau kaki satu dengan lainnya saat ingin menekankan apa yang kami bicarakan. Sentuhan-sentuhan yang mulanya tanpa niat apapun ini lama-lama mulai menelantarkan diri, sampai akhirnya, kami mulai berbicara mengenai seks. Kami saling bertukar pengalaman, dan aku benar-benar terpesona oleh perbedaan kebudayaan dan latar belakang kami berdua. Kata Felicia, dalam masyarakan Hispanik (ras keturunan campuran Spanyol dengan penduduk asli Amerika) sudahlah menjadi standar bagi remaja mereka untuk kehilangan keperawanan atau keperjakaan pada umur sekitar 15 tahun. Setahun di Amerika, banyak pandangan mengenai seks dan hubungan romantis yang dulu kupunyai di Indonesia berubah menjadi sedikit lebih santai. Walaupun aku masih belum sampai sejauh bersanggama, pacarku di sini kadang-kadang menelusuri bagian-bagian tubuhku yang tadinya kuputuskan 'off-limit' bagi pacar. Biar bagaimanapun, toh aku masih orang Timur. Di kota seperti New York, walaupun kebudayaan Barat lebih toleran terhadap hubungan kelamin pranikah, toh umumnya remaja hanya berhubungan dengan satu pasangan saja sekitar paling tidak enam bulan, mungkin karena kewaspadaan terhadap penyakit. Mendengar penjelasanku mengenai norma masyarakat di Indonesia, Felicia mengangguk-angguk, dan menyatakan bahwa pandangan seperti itu ada baiknya juga. Diapun kemudian mulai bercerita mengenai pengalaman-pengalaman masa lalunya, sentuhan-sentuhan nyasar kami makin sering. Kami mulai saling menggoda secara fisik, dan sebelum bis kami bergulir memasuki batas kota Washington DC setelah hampir seharian perjalanan, hanya ada satu hal dalam benakku: untuk berhubungan intim dengan Felicia.
Saat memasuki hotel, kami mengatur untuk membagi ruangan yang sama. Senja itu, kami berkeliling dan melihat tempat-tempat bersejarah terkenal. Selesai mandi dan makan malam, bersama sekelompok dari murid-murid aku dan Felicia pergi menyaksikan sebuah filem berjudul "Scream". Ketika di layar ditunjukkan sebuah bagian filem yang menakutkan, kami berdua saling berpegangan tangan dan Felicia memelukku erat. Selesai bagian tersebut, Felicia meletakkan tanganku ke pahanya yang tak tertutup. Kami berdua kebetulan memakai rok pendek, dan beberapa menit kemudan Felicia mencoba merubah sikap duduk dan merenggangkan kakinya, serta membimbing tanganku di antara kedua kakinya. Lalu ia bergerak dan secara perlahan mengusapkan tangannya ke bagian dalam pahaku. Kulepaskan pekikan kecil ketika Felicia menemukan apa yang diinginkannya.
Sementara kami berpura-pura menonton filem, kumain-mainkan rabaanku di celana dalam bagian depan milik Felicia sampai kubuat dia basah sementara ujung jarinya bergeser naik dan turun di bagian yang sama dari celana dalam milikku, mendorong kain yang tipis itu ke dalamku. Tidak mengambil waktu lama sebelum kami berdua mulai saling menjari satu sama lain. Kami mulai bernapas kencang dan berat, dan tak bisa disangkal lagi, di udara mulailah muncul bau kewanitaan basah yang cukup jelas tercium. Salah seorang gadis sesekolahku duduk di deretan belakang kami. Ia menggeser diri diantara bahu kami dan berbisik, "Kalian berdua merpati cinta sebaiknya mulai berhenti sebelum semua orang mulai menonton kamu dan bukan filem ini!" Gadis itu betul, kami benar-benar mulai terbawa situasi. Secara ogah-ogahan kamipun berhenti. Pada menit yang sama Felicia menarik jarinya keluar dariku, kusadari bahwa aku benar-benar menginginkannya kembali di dalamku. Setelah mengatur napas, Felicia mendekatiku dan berbisik, "Nanti."
"Aku tak sabar menunggu," bisikku balik sedangkan hidungku menghirup aroma intim Felicia yang membalut jariku. Kujilat bersih jariku dan kugenggam tangan Felicia sampai pertunjukan berakhir. Pada saat itu aku sudah benar-benar menjadi terangsang, sisa filem yang kami tonton itu tidak ada yang kuingat barang sedikit pun. Kembali ke hotel, kami praktis berlari ke kamar kami, benar-benar tak sabar untuk melanjutkan perbuatan yang terpaksa kami tinggalkan. Bergegas-gegas aku berganti mengenakan kimono katun tidurku yang berwarna gelap dengan corak tradisional Flores sementara Felicia menanggalkan kaos oblong dan rok pendeknya. Baru kusadari bahwa selama ini Felicia tidak mengenakan bra. Sementara aku bengong menatapi dada Felicia yang betul-betul mulus dan berbentuk sempurna, Felicia memuji keindahan corak kimono katunku dan memintaku untuk membawa oleh-oleh seperti itu jika aku kembali dari Indonesia. Kutunjukkan sebuah cincin yang kubeli dari toko suvenir Indonesia di dekat kedutaan sore hari itu pada Felicia. Direbutnya cincin itu dan dia berkata, "Hahah ... dapat!" "Hey, kembalikan!" Kukejar Felicia mengitari ruangan sampai akhirnya kutangkap dia di pojokan. Tiba-tiba dibalikkan badannya dan di mukanya muncul raut nakal sementara tangannya bertolak pinggang. "Mana cincinnya?" tanyaku. "Entah. Coba saja periksa sendiri," kata Felicia sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong sambil tertawa-tawa kecil.
Karena Felicia saat itu bertelanjang kecuali untuk celana dalam model bikininya, hanya ada satu tempat untuk mencari. "Kamu ini benar-benar nakal," seruku sambil menatap matanya yang bersinar-sinar bandel, benar-benar menikmati permainan kecil kami. Pandanganku menyapu wajahnya yang karena berkeringat dan merona merah terlihat benar-benar spektakuler, dengan ujung hidungnya yang runcing dan lesung pipitnya yang molek. Lalu kuturunkan pandangan melewati lehernya yang jenjang, dan dadanya yang naik turun. Sedikit gerah setelah berlarian dalam kamar hotel yang bertemperatur sejuk itu membuat puting Felicia yang berwarna merah muda segar menegak penuh. Kutatap kembali wajahnya sementara kutautkan jariku ke bagian atas celana dalamnya, menarik tali elastis di situ sampai nampak rambut-rambut lembut lurus kecoklatan berjarang-jarang di bawah pusar Felicia. "Di bawah situ, mungkin?" tanyaku.
"Silakan mancing ikan." Felicia melangkah mendekati, cukup dekat untuk membuat dada kami bergesekan. Perlahan kugerakkan tanganku lebih jauh ke bagian bawah dari perut Felicia yang betul-betul rata dengan sedikit lengkungan feminin dan menyelipkannya ke balik celana dalam Felicia. Ujung-ujung jariku menyentuh rambut-rambut lembutnya dan gelitikan lembutku membuat postur berdirinya lemas, menengadah dan mendesah. "Apakah ini cukup hangat?" tanyaku.
"Betul-betul." Dipejamkannya kedua mata dan kepalanya semakin menengadah saat jari-jariku bergeser lebih jauh ke bawah sampai seluruh permukaan kelamin Felicia terlindung oleh telapak tanganku. Ia masih cukup lembab hasil dari perbuatan kami di sinema. Cincinku yang hilang tentu saja tersembunyi di celana dalamnya, namun aku tetap berpura-pura mencari-cari benda tersebut. "Di mana, sih cincin ini?" Kunikmati reaksinya terhadap sentuhanku, kudorong selangkangannya ke dalam telapak tanganku. "Sepertinya perlu diselidiki lebih dalam, nih ..." godaku.
"Lebih dalam lebih baik," Felicia menyahut sambil mengerang.
Kubiarkan jemariku menerobos lipatan-lipatan lembutnya dan segera kurasakan sumber kebasahannya. "Mungkin bersembunyi di sini," lanjut godaanku. Kedua dada kami saling menekan dan mulut kami hanya terpisah jarak seinci. Benar-benar kuingin menciumnya, dan kurasakan badanku bergetar, tak pernah dalam hidupku aku sedekat ini dengan seorang gadis lain. Tapi kuputuskan untuk memperlambat permainan kecil ini, jadi kutarik keluar cincin itu dan kutunjukkan kepadanya. "Ketemu."
"Itu sih terlalu mudah," kata Felicia. "Perlu cari tempat persembunyian yang lebih bagus, nih."
"Contohnya dimana?" kataku sambil menyengir lebar.
"Kira-kira berapa panjang lidahmu?" tanyanya.
Kuleletkan lidahku. "Kira-kira sejauh itu dalam memek saya," katanya dan kami kedua tertawa keras.
"Felicia, kamu ini benar-benar mesum. Kamu bakal menjadikan kita berdua sepasang lesbian lipstik!"
Secara lembut diremasnya bagian dada kimonoku, dan dibisikkannya, "Oh, kau pikir itu benar-benar hal yang jelek? Akui saja, Lisa, kau sebetulnya benar-benar ingin mencoba, kan?" Bisa kurasakan kehangatan nafasnya menghembus wajahku saat kami berdua saling bertukar pandang. "Well ...." ujarku malu-malu, bermain 'susah dijerat'. "Sepertinya sih udah pernah kupikir hubungan lesbian mungkin satu .... atau dua kali." "Biar bagaimanapun," kata Felicia, "Semua orang tahu bahwa adalah wajar bagi cewek-cewek untuk bereksperimen satu sama lain. Di samping itu, hampir semua cewek yang saya kenal melakukannya setiap waktu. Tahu tidak?" ujarnya sambil mempelajari rautku. "Apa?" kataku. "Kau benar-benar cantik. Unik. Kau punya mata yang hitam benar-benar menarik. Apalagi kau datang dari tradisi yang cukup kekolotan. Bikin kau lebih mengundang. Mmmmm ... apakah rata-rata cewek Indonesia tetenya langsing seperti ini?"
"Uh, iya," kataku, tak sadar kulonggarkan tali pinggang kimonoku, mengakibatkan terbukanya bagian dadaku. Perlahan Felicia memijit kedua puting payudaraku, dan kurasakan memanasnya bagian di antara kedua pahaku. "Toh lagipula kita berdua perempuan, jadi nggak mungkin hamil. Sama seperti kegiatan menggesek memek sendiri..." lanjut Felicia. Felicia memperkeras pijitannya, dan napasku mengencang, kuhirup udara dengan tersendat-sendat, sementara untuk berdiri tegak aku mulai tak mampu. "Oh, kalau masturbasi, sih, aku benar-benar suka," kataku. "Bagus, sebab dengan cewek lain, masturbasi jadi jauuuuh lebih menarik dibanding sendirian." Disambarnya ikat pinggang kimonoku yang sudah memang longgar, menjadikan seluruh tubuhku terekspos. Dengan penuh gairah dirangkulnya pinggangku sementara kakiku menggeser, menyentuh langsung selangkangan Felicia yang lembab.
Tangan Felicia mulai melingkar, menjelajahi bagian belakangku. Diiringi senyum nakalnya, Felicia menarik bagian belakang celana dalamku, membuat bagian selangkangan celana dalamku menjadi tertarik lebih ke dalam. Tekanan yang dirasakan oleh klitorisku yang mulai membengkak hampir membuatku orgasme di tempat sementara kurasakan kedua badan kami seolah meleleh, bercampur satu sama lain. Tak lama kemudian Felicia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, dan kulumat dengan erat lidah kekasihku yang baru ini. "Masih ingin main sembunyi cincin?" tanya Felicia menggoda. "Fuck the ring," (Persetan dengan cincin itu!) semburku sementara tanganku kembali menyelinap ke dalam celana dalamnya. "I'd rather you fuck me instead," sahut Felicia, suaranya menyerak seksi, nafasnya panas di telingaku.
"Lalu tunggu apa lagi?" kataku sembari meraih tangannya. Kami pindah ke sebelah ranjang dan menanggalkan apa yang tersisa di badan kami (kecuali celana dalamku). Felicia benar benar terangsang, cairan-cairan kelembaban mulai menetes dan bergulir di pahanya. Seluruh tubuhku mulai bergetar penuh antisipasi, terlebih saat kubayangkan betapa lezatnya jika kuletakkan kepalaku di antara kedua pahanya. Felicia naik ke atas ranjang dan menyandarkan diri ke dinding. Lalu dengan kedua jarinya dipisahkannya kedua bibir vaginanya, dan dengan penuh nafsu kusaksikan jarinya yang lain menerobos masuk. Setelah mengaduk-ngaduk beberapa saat jari lentiknya benar-benar basah, dan Felicia mengeluarkan jarinya, mengacungkannya di depan mukaku, membuat isyarat 'mendekatlah'. "Ayo, kita bersenang-senang malam ini," undang Felicia seraya mengangkat kaki kirinya ke dekat wajahku dan memain-mainkan jemari kakinya yang mungil.. Ketika kutanggalkan celana dalamku, kusadari bahwa bagian selangkangan celana dalamku ternyata sudah kuyup. Tadinya hendak kulempar begitu saja celana dalamku itu, namun Felicia berseru, "Tunggu, Lisa, ke sinikan kau punya celana dalam itu!" Kulemparkan celana dalamku, dan segera setelah menyambutnya Felicia mendekatkan celana dalam itu ke hidung mancungnya sembari menghirup dalam-dalam aroma sekresi kewanitaanku. "Ooooh, bau kamu betul-betul sedap!"
"Memangnya sudah kebiasaanmu, yah, menciumi celana dalam milik cewek lain?", tanyaku seraya tersenyum lebar. "Oh, cuma mereka-mereka yang bakal saya entot," katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Felicia mengusap-usapkan bagian selangkangan celana dalamku yang basah kuyup ke hidung dan mulutnya sementara matanya mengawasiku, yang mulai mengecupi jari-jari kakinya. Kususupkan lidahku di antara setiap jari, kukulum, dan Felicia mulai tertawa-tawa geli campur nafsu. Lalu mulailah kutelusuri kakinya yang panjang dengan bibirku, dan berhenti ketika aku sampai di bagian dalam pahanya. Kujilat, kukecup, dan kugigit lembut kulitnya yang putih mulus. Oh, Tuhan, Felicia betul lembut! Kuciumkan kecupan-kecupan kecil mengitari kelaminnya, dan dengan susah payah kutekan keinginanku untuk langsung menyelami kelamin Felicia dengan mulutku. Dalam pikiranku, sejak Felicia adalah perempuan pertama dalam hidupku yang kujilat kemaluannya, maka ada baiknya kupastikan bahwa kami berdua benar-benar terangsang dulu sebelum kukubur mukaku di selangkangannya. Aku bergerak mendekati mulutnya. "Aku benar-benar butuh kamu," kataku. Felicia melingkarkan tangannya dan kamipun French kissed.
Lalu Felicia perlahan mengangkatku, memposisikan kedua susuku di depan wajahnya. Dikulumnya salah satu puting susuku di antara kedua bibirnya dan mulutnya yang hangat menyedoti putingku, mengirimkan gelombang-gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhku. "Saya punya ide," katanya sambil terus menjilati. "Bagaimana kalau kita bolos saja dan tidak usah ikut tur besok? Kita bisa mengunci diri di kamar ini dan berasyik-asyikan seharian penuh." Untuk membujukku, Felicia menyelipkan tangannya di antara pahaku dan mulai mengusap-usap celahku. Kusongsongkan pinggulku menyambut dua jari Felicia ke dalamku. Ia melanjutkan menghisap payudaraku sekaligus jarinya menjalari vulvaku, sedangkan aku hanya mendesah-desah mendorong-dorongkan kemaluanku menyongsong tangannya. Kupejamkan mata dan kurasakan cairan kental kewanitaanku menyemprot keluar saat ujung-ujung jari Felicia menjepit klitorisku. Orgasme yang kurasakan betul-betul intens, sumpah mati saat itu aku menyaksikan bintang-bintang.
"Kalau kita tinggal di ranjang sepanjang hari," ujarku setelah pada akhirnya berhasil mengatur napas kembali, "Kapan kita makan?" "Kalau kamu lapar," jawab Felicia, "Kamu bisa lahap memek saya saja." "Ah, kamu ini memang benar-benar nakal!" seruku dan kami berduapun tertawa-tawa. Kemudian akupun kembali menciumi tubuhnya, menelusur kembali ke bagian bawah. Harum keringatnya membalut badannya, dan aku benar-benar menikmati rasa keasin-asinan leher dan celah dadanya. Puting payudaranya yang merah segar berbeda dengan milikku yang berwarna coklat, dan saat kusedot kedua pentilnya, warna mereka berubah menjadi gelap dan mengeras. Puting dada Felicia terlihat persis dengan karet penghapus merah di ujung sebuah pensil, dan tampak kecil dibanding ukuran dadanya yang paling tidak 36 C. Pentilku sendiri kira-kira sebesar uang 25 logam, dan menurutku pas untuk ukuran 32B-ku. Kurasakan kedua ujung dadaku mulai menegak karena bersentuhan dengan perut lembut temanku ini. Felicia merangkapkan kakinya mengitari pinggangku, dan menyodor-nyodorkan selangkangannya, klitorisnya berusaha mendapatkan sebanyak mungkin gesekan.
"Oh, Tuhan. Lisa, kamu betul-betul membuat saya senewen," kata Felicia terengah-engah. Felicia mencoba menurunkan tangannya untuk mengelus-elus kelentitnya sendiri, tapi segera kucegah. "Sabar," kataku, "Yang satu itu akan kutangani sebentar lagi." "Saya benar-benar perlu kau ewe sekarang," mohonnya. "Jangan terlalu terburu-buru," balasku seraya menyembulkan lidahku ke dalam pusar Felicia, dan meninggalkan kecupan kecupan basah menuruni perutnya. Felicia mengangkat pantatnya mencoba membimbing mulutku ke arah gerbang keperempuanannya. "Kunyah saya, ... please!" jeritnya tak sabar. Kurebahkan diri di antara kedua paha Felicia, kugunakan tanganku untuk membuka lebar labianya. Kugunakan hidungku untuk membelah lipatan kelaminnya dan menghirup dalam-dalam. Keharuman kelamin Felicia menyengat inderaku. Aromanya jauh lebih terasa dibandingkan dengan bau cairanku sendiri. Bibir dalam dari kemaluan Felicia yang berwarna merah muda menyelinap keluar, dan sekresi kewanitaannya menjadikan bibir tersebut benar-benar kontras dengan bibir luar kemaluannya yang berwarna merah gelap. Lalu perlahan kutarik kulit pelindung kelentitnya, menjadikan klitorisnya yang bengkak mencuat keluar, dan kucolek dengan menggunakan jari telunjuk. "Kau ini benar-benar centil tukang goda. Saya benci, deh," rintih Felicia.
"Pembohong," sahutku. Kelentitnya betul-betul keras dan tegang, dan berdetak kencang saat kusentuh. Kutiup tonjolan ini, dan pinggul Felicia terangkat, menyambut mulutku. Ia benar-benar basah, dan kuusapkan seluruh wajahku di sekujur kelaminnya. Pipi, hidung dan mulutku berlumuran cairan hangatnya. "Lisa, please," minta Felicia, jemari tangannya menelusuri rambut kepalaku, "Memek saya butuh sekali ...." Akhirnya, kuputuskan untuk memenuhi. Menarik napas panjang, kupejamkan kedua mataku. Lidahku menelusur sepanjang garis celah kelamin Felicia. Bibir-bibir lembut Felicia membuka dan kukecap tempat paling rahasia di dunia, surga kecil di belahan paha seorang gadis. Kucicipi sari vagina Felicia, dan rasanya ternyata lebih manis lagi daripada aromanya. Kurenggangkan pahanya lebar-lebar dan kucelupkan lidahku ke dalam lubang kecil merah muda yang hangat dan lembab milik temanku.
Dinding-dinding manis kemaluannya bergerak-gerak membuka dan menutup, menjerat lidahku erat-erat. Aku menyedot dan menjilat bagaikan hidup matiku bergantung kepada memberikan Felicia orgasme terhebat yang pernah dia alami. Mengunyah kelamin Felicia adalah mungkin hal paling erotis yang pernah kualami. Aromanya memenuhiku dengan gairah saat kujilat, kusedot, dan kutelan air keluarannya. Aku benar-benar tersapu oleh kenikmatan terlarang dari berhubungan intim dengan seorang gadis dan saat itu kuputuskan bahwa seks dengan lelaki jatuh ke nomor tiga dalam urutan orgasmeku, setelah memakan vagina dan masturbasi.
Felicia sudah hampir sampai di puncak ketika kuperintahkan, "Berbaliklah, aku ingin jilat pantatmu." Felicia segera menurut dan tak lama kemudan aku menyaksikan kelaminnya yang indah dari belakang, seluruh bagian kemaluannya merebak, dan sari-sarinya menetes berjatuhan. Seperti seekor anjing, kuendus-endus Felicia dari belakang. Kukecup gundukan-gundukan padat milik temanku, lalu kulebarkan keduanya, dan kujilat pertengahannya dari atas ke bawah. Campuran dari keringatnya yang keasinan, sirup vaginanya yang manis, dan rasa keasaman dari anusnya adalah rangsangan yang tak ada duanya. Kuselipkan kembali lidahku kedalam kemaluannya, dan kumasukkan ujung hidungku ke celah pantatnya yang terlihat berkerut.
Menjilat habis Felicia memberikanku dorongan yang kuat, namun juga terasa sungguh lembut dan manis, sungguh feminin. Susah kubayangkan sesuatu yang lebih indah dari dua wanita saling bercinta. Saat itu kutemukan rahasia cinta-wanita dan akupun ketagihan, rasanya ingin merangkak ke dalam celah milik kawanku ini dan tinggal disitu selamanya. Sementara kulumat dengan ganasnya, kumasukkan jari tengahku kedalam vaginaku sendiri. Lalu dengan mulut penuh menampung air liurku dan cairan sekresinya kubasahi anus Felicia. Perlahan jari tengahku yang basah terbalut pelumasku sendiri kudorong melalui kerutan lubang pantatnya yang mungil. Felicia terasa benar-benar hangat dan lembut di dalam dan aku bisa merasakan otot-ototnya berkontraksi untuk menahan jariku di situ. Kudengar partnerku mengerang-erang dalam bahasa Spanyol yang walaupun tak kumengerti namun ekspresi universal seorang gadis diambang orgasme bisa kupahami.
Felicia menutupi mukanya dengan sebuah bantal dan tak bisa berhenti merintihkan jeritan-jeritan kenikmatan. "Aaaaaah, Dios Mio!" serunya ketika jari-jariku yang lain bergulir di klitorisnya. Dielus, dijepit, dan diperah seperti itu membuat kelentit Felicia menjadi betul betul sensitif. Mengetahui bahwa kami berdua benar-benar dekat dengan puncak, Felicia dengan cepat melempar bantal yang menutupi mukanya, dan mengerang, "... seb... sebentar." Kuhentikan gerakanku dan didorongnya tubuhku, menjadikanku terlentang di ranjang dengan kedua kakiku terkangkang lebar. Dengan gerakan cepat tangan kiri Felicia meraih pergelangan kaki kiriku dan mengangkat, meletakkan kakiku di pundaknya sementara dengan tangan kanannya mendorong lutut kananku, melebarkan labiaku.
Memposisikan bagian bawah dari tubuh langsingnya di antara kedua pahaku, Felicia berkata, "Itilku dan itilmu." Dengan dua jari kutarik ke atas kulit depan klitorisku sementara Felicia melakukan hal yang sama dengan klitorisnya sendiri, lalu Feliciapun bergeser sehingga kedua kemaluan kami bertemu. Perasaanku saat itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Melalui kerimbunan hitam rambut kelaminku kulihat coklat lembut rambut kelamin Felicia sementara dadanya yang putih mulus dan memerah karena gairah terlihat kontras bergesekan dengan betisku yang kuning langsat. Kedua vagina kami, dengan labia yang basah saling menghempas, saling menjalin, dan saling melelehi menjadi satu. Felicia bergerak memutar-mutar selangkangannya dan kedua kelentit kami yang mencuatpun saling bergesekan. "Aaaah, ahhh, y.. ess .. yess..." Kupejamkan mata dan perlahan kuremas-remas dadaku dengan tanganku yang bebas. "Ooooh, ngh ... aaakh...." Kurasakan cengkeraman tangan Felicia meninggalkan pergelangan kakiku saat ia menengadah dan tubuhnya mulai terkejang-kejang. Kurasakan bagian bawah tubuhku bergerak-gerak seperti kehilangan kontrol, maju mundur naik turun bagaikan piston. "Oooooooh .... ye .. eee ... eeeesssssh ...!" seru kami bersamaan saat kedua kelentit kami saling bergesekan dengan kencangnya. Tubuhku bergelinjang hebat, Felicia mengejang dan terasa waktupun menghilang saat secara bersamaan vagina kami menyemburkan cairan kental orgasme.
Sekali, dua kali, dan tiga kali gelombang orgasme menghempas Felicia, dan bahkan saat terbaring lunglai di sisikupun tubuh seksinya masih bergemetar. Kulingkarkan lenganku di bahunya, dan kurangkul kekasih baruku erat-erat. Kukecup pipinya lembut. Felicia membuka matanya, menyambar bibirku dan melumat mulutku. "Idih, kau berasa seperti memek," katanya. "Ayo kita melarikan diri saja, dan bercinta selamanya," kusuarakan angan-angan di benakku. "Kedengarannya enak," balas Felicia. Kami kembali berciuman dan kurasakan tangan Felicia kembali meraba-raba rimbunan hitamku yang sekarang benar-benar basah kuyup tersiram sekresi kami berdua.
Kubiarkan diriku pasif terbaring di pelukan Felicia cukup lama sementara dia bermain dengan bagian bawahku; belaian-belaiannya lembut seolah ia menghapal seluruh tonjolan dan lipatan-lipatan vaginaku. Lalu Felicia menelentangkan diri. "Ayo kita ngentot lagi," katanya sembari menggoyang-goyangkan tubuh mengatur posisi. "Ayo duduk di muka saya," perintahnya. Akupun berlutut, menunggangi kepalanya, dan mulai menurunkan kemaluanku ke wajah cantik Felicia. Felicia memiliki lidah yang betul-betul panjang dan akupun mulah mendesah dan mengerang ketika ia melesakkan lidahnya ke dalamku senti demi senti. Urat-urat dalam vaginaku otomatis mencengkram erat lidah Felicia sementara pinggulku bergerak melingkar dengan perlahan, benar-benar larut dalam ulasan lidah Felicia. Mulutku terasa kering dan akupun merasa betul-betul perlu melahap vaginanya lagi.
Kuputar posisiku, kurendahkan kepalaku dan kami bercinta dalam posisi enam sembilan. Kembali kulimpahkan segala perhatianku ke kelamin partnerku, menyibakkan labianya yang hangat, dan ketika kukecap pelumas Felicia yang mulai mengucur kembali, kurasakan jarinya yang giliran menjelajahi pantatku. Napasku kembali terengah-engah sementara lidah Felicia membelai-belai jauh ke dalam rahimku dan jarinya menjelajahi bagian belakangku. "Uuuuuuuuh ..... uuungh ... unghhh ..." seruku tertahan-tahan sebab mulut dan hidungku terselimut keperempuanan Felicia sementara diapun mengeluarkan suara-suara yang serupa. "Ah! Aah! Aaaah! Lagi ..." Otot-otot vaginaku menggeletar saat Felicia menggigit lembut klitorisku. "Auh!" "Yaaa..h!" Kurasakan geliginya mengitari kacangku. "Oooooh... yeessh .. sssh..." Kulingkari kelentitnya dengan bibirku dan kusedot keras-keras. "Yes... yes... yeee ... eee .. sh!" "YEEEESSSSH ....MMMMMH... MFFFFFH ...." Ujung lidah kami berdua mengulas-ulas kedua kelentit dengan gerakan sangat cepat, kurasakan seluruh urat kedua vagina kami mengencang dan mengendur di luar kontrol dan kami pun kembali tenggelam, orgasme membanjir keluar.
Setelah kembali mengatur napas, kulepaskan diriku dan kuhempaskan diriku di samping Felicia supaya kami bisa saling bertatapan wajah. Dengan lengan dan kaki kami saling merangkum, kami bersentuhan berciuman lembut, betul-betul kehabisan tenaga dan kecapaian. "Mudah-mudahan besok saya bangun sebelum kau bangun," katanya setengah bermimpi. "Memangnya ada apa?" seraya menyibakkan rambutnya ke samping, mengecupi pipi, hidung, dan kelopak matanya yang terpejam. "Sebab, hal pertama yang saya ingin kamu lihat besok pagi adalah wajah saya tersenyum di antara kedua pahamu," jelasnya. "Oh, Tuhan, rasanya sekarang ini saya sudah jatuh cinta," kataku lembut. "Sini, saya jaga biar tetap hangat," katanya sambil merangkum kemaluanku ke dalam telapak tangannya yang memang hangat. Kukecup kembali bibirnya, dan sementara kami berdua berpelukan erat, kunikmati kehangatan lembab semak-semaknya yang bersandar ke pahaku. Setelah selama beberapa lama hanya desiran mesin pendingin udara yang terdengar, melalui dinding terdengar suara-suara dua orang gadis dari kamar sebelah. Tak mungkin tidak, mereka sedang bercinta.
"Kan, sudah saya bilang. Semua cewek berbuat hal yang sama," kata Felicia sambil tersenyum lebar. "Mungkin besok kita perlu mengunjungi tetangga sebelah dan mengundang mereka untuk mampir," sahutku setengah tertidur. "Tapi itu artinya saya harus membagi kau dengan mereka," kata Felicia. "Betul," gumamku setengah bermimpi, "Tapi ingatlah bahwa itu juga artinya kamu bakal punya tiga buah memek yang lembek dan basah untuk dilahap ditambah tiga mulut hangat untuk melayanimu." "Mmmm," katanya sembari membasahi bibir, "Betul juga. Mari kita beramah-tamah dengan mereka besok." Kami kembali berciuman lembut, dan tak lama kudengar desahan-desahan indah dari kedua gadis sebelah kamar hotel kami. Akhirnya, gadis pertama menjeritkan puncak kenikmatannya, diikuti segera dengan jeritan orgasme temannya. Aku tersenyum sendiri, dan sebelum kami berdua jatuh tertidur, kubalas merangkum kewanitaan Felicia dengan telapak tanganku, menyongsong alam impian.
Sejak saat itu aku benar-benar intim dengan Felicia. Kami berbagi banyak pengalaman yang menarik. Berbagi tawa, dan berbagi tangis. Kenakalan dan petualangan sepertinya memang jalan hidup sahabatku yang satu ini. Seperti kebanyakan orang Latin lainnya, Felicia benar-benar temperamental dan berdarah panas. Pembawaanku sendiri cenderung sabar dan penuh pertimbangan, namun perbedaan ini justru makin membuat kami lebih lengket. Beragam sudah permainan cinta yang kami alami bersama, namun sebelum pembaca semua berkesimpulan bahwa sekarang aku adalah lesbian kelas kakap, kuberikan jaminan, bahwa akupun menikmati seks dengan lawan jenis. Malah beberapa waktu yang lalu aku dan Felicia berhasil merayu seorang lelaki muda, orang Indonesia juga, kami rayu ke tempat tidur.
__________________
Tamat
Diposting oleh Admin di 19.01 0 komentar
Label: Lesbian, Sesama Jenis
Apakah Aku Lesbian?
Apakah aku seorang lesbian? Ah.. Ini pertanyaan yang tidak akan pernah bisa aku jawab. Pertanyaan ini timbul sejak aku masih duduk dibangku SMA kelas 3, dan berawal ketika aku bermain dirumah kawanku.. Renita.
Waktu itu.. Aku dapat dikatakan sebagai salah satu primadona disekolahku, banyak teman-teman cowokku yang suka padaku.. Tetapi semua kutolak secara halus, bukan karena aku tidak tertarik.. Tetapi aku sudah mempunyai cowok.. Dan cowokku itu sudah kuliah disalah satu PT Negeri.
Dikelas aku duduk sebangku dengan Renita.. Ia berasal dari Jabar, kulitnya putih sama dengan aku, rambut panjang hitam, dengan bentuk tubuh proposional sama dengan aku.. Sekilas orang melihat.. Kami akan disangka kembaran.. Bedanya hanyalah.. Rambut dia belah samping.. Sementara aku pony, selain itu Renita orangnya ceria.. Sementara aku pendiam.
Hari itu.. Hari sabtu, sepulang sekolah kira-kira jam 13, Renita mengajakku untuk bermain dirumahnya.. Karena tidak ada acara.. Akupun menerima ajakan itu..
Dan ini bukan yang pertama kali aku bermain dirumahnya.. Karena sering juga aku dan teman-teman yang lain main kerumah Renita, tetapi hari ini hanya aku saja yang diajak oleh Renita. Rumah Renita termasuk mewah juga.. Maklum karena bapaknya direktur utama disalah satu perusahaan ternama. Setibanya dirumah Renita atau Reni.. Panggilan akrabnya, mengajakku langsung kekamar nya yang berada dilantai dua, memang kamar Reni cukup besar.. Ada meja belajar berikut rak buku, ada seperangkat stereo tape, TV, vCD, dan lantainya beralaskan karpet seluruh ruangan, tempat tidurnya.. Cukup besar.. Aku tidak tahu ukurannya berapa.. Tapi mungkin dapat dikatakan ukuran double bed.. Kali.
Tiba didalam kamar.. Tentunya setelah melepaskan sepatu diluar pintu, akupun langsung duduk diatas karpet..
"Ren.. Ada majalah baru enggak..?" tanyaku.
"Ah.. Belum beli sih" sahutnya.
"Kita karaoke aja yuk.. Mau enggak?" sambung Reni.
"Boleh-boleh aja" sahutku, memang akupun juga senang nyanyi karaoke.
Lalu Reni pun membongkar-bongkar koleksi vCDnya.. Sementara aku duduk bersila memperhatikan apa yang dilakukan Reni, tiba-tiba..
"Oh iya.. Nia.. Ada film bokep nih.. Mau lihat enggak?" serunya,
"Dapat darimana film itu Ren..?" tanyaku balik.
"Tadi pagi gue ambil dari kamar si tony", sahutnya.. Tony adalah kakaknya Reni.
"Boleh juga deh.." sahutku.
Lalu Reni memuter film itu dan duduk diatas karpet disebelahku, kami sama-sama duduk bersila menghadap TV 21 inch.. Sembari menyender ke ranjang. Selama menonton film bokep itu.. Kami sering tertawa cekikikan.. Tidak tahu apa yang lucu.. Mungkin hanya untuk menetralkan suasana aja.. Karena jujur aku terangsang juga melihat adegan dalam film bokep itu.
Ketika ada adegan lesbian dalam film.. Kami berduapun jadi terdiam.. Dengan mata mengarah kelayar TV, ketika kulirik.. Ternyata Reni pun jadi serius melihat adegan demi adegan dalam film itu..
Aah.. Uhh.. Ahh..
Terdengar rintihan dari dalam TV.. Diam-diam aku pun mulai gelisah.. Entah kenapa aku menjadi sangat tertarik sekali melihat adegan lesbian itu.. Sebentar-bentar aku meluruskan kedua kakiku.. Lalu bersila lagi.. Sementara Reni pun juga tampak mulai gelisah.. kadang-kadang dia memiringkan badannya kesamping.. Dan ketika aku bersila lagi.. Tanpa sengaja lututku menyentuh lutut Reni.. Tetapi Reni diam saja.. Dari sudut mataku aku dapat melihat Reni semakin serius menontonnya.
Tiba-tiba.. Reni membetulkan letak duduknya dan bahu kamipun saling bersinggungan. Aku diam saja.. Tidak lama kemudian.. Reni menaruh tangannya diatas pahaku, aku sedikit tersentak kaget.. Aku melirik ke arah Reni.. Tampak dia masih tetap asyik menonton..
Aahh.. Uuh.. Ahh..
Terdengar rintihan dari TV.. Dan tampak adegan semakin syurr.. tiba-tiba aku merasa tangan Reni itu mulai sedikit demi sedikit bergerak meraba pahaku.. Jantungku segera berdetak keras.. Segera aku memegang tangan Reni itu.. Terasa dingin tangan Reni itu.. Mungkin karena AC didalam kamar itu cukup dingin.. Lalu aku melirik lagi ke arah Reni.. Dan dia pun melirik juga ke arahku.. Aku tersenyum.. Diapun ikut tersenyum.. Aku menoleh ke arah dia.. Diapun menoleh ke arahku.. Sehingga kami saling pandang
Perlahan-lahan.. Aku merasakan Reni semakin memajukan wajahnya ke arah wajahku, entah kenapa aku pun berbuat hal yang sama sehingga kening kamu saling bersentuhan. Aku dapat merasakan hembusan nafas Reni yang tidak teratur ke arah wajahku, dan mungkin Reni juga dapat merasakan hembusan nafasku.. Hingga.. Hidung kami saling bersentuhan.. Lalu tanpa sadar aku meremas tangan Reni.. Dan iapun tersenyum.. Akupun tersenyum juga.. tiba-tiba Reni mengecup bibirku.. Akupun membalas mengecup bibir Reni.. Dia mengecup sudut bibirku sebelah kiri.. Aku pun melakukan hal yang serupa.. Dia mengecup sudut bibirku yang kanan.. Aku pun membalasnya.. Lalu Reni tersenyum.. Akupun tersenyum.. Tiba-tiba Reni menjulurkan lidahnya menjilat bibirku.. Mendesir darahku.. Dan akupun membalasnya.. Hingga tidak tahu siapa yang memulai duluan.. Akhirnya kami saling berciuman.. Terasa lidah Reni memasuki mulutku.. Dan menari-nari menjilati dalam mulutku.. Akupun juga melakukan hal yang sama.. Dengan nafas memburu kedua bibir kami saling bertaut..
Ooh.. Ahh.. Uuhh..
Terdengar suara dari TV, kami pun berhenti berciuman.. Reni tersenyum padaku.. Akupun tersenyum juga..
"Kita gila yaa.." seru Reni.
"Memang.."sahutku.
"Baru kali ini aku mencium perempuan" tambahnya.
"Aku juga" sahutku.
"Enak enggak?" tanyanya.
"Mhmm.. Enak.. Kamu?"
"Enak.." jawabnya.
Lalu aku mengecup bibirnya.. Dan kami berciuman lagi.. Akupun bergerak untuk berlutut dan Renipun melakukan hal yang sama.. Kuisap lidah Reni.. Dan dia membalas mengisap lidahku.. Dengan bibir saling bertautan akupun berusaha berdiri.. Demikian juga Reni.. Hingga akhirnya kita berdua berdiri.. Dan Reni memelukku.. Akupun membalas memeluk Reni dengan erat.. Cukup lama.. Kami berpelukan dan berciuman ketika..
Ooh.. Yess.. Oohh.. Yeess..
Terdengar suara dari TV, kami pun segera menoleh ke arah TV.. Lalu saling berpandangan lagi.. Lalu aku mengajak Reni naik ke atas ranjang.. Dan diatas ranjang itu kita berpelukan lagi.. Segera bibir kita saling bertautan lagi.. Kusedot air liur Reni.. Dan dia membalas dengan hal yang serupa.. Kukulum lidah Reni dalam mulutku.. Dan gantian dia mengulum lidahku dalam mulutnya.. Kami pun semakin erat berpelukan.. Guling kesamping.. Balik lagi.. Dan seterusnya..
Hingga akhirnya tubuh Reni tepat berada diatas tubuhku.. Kemeja Reni dan rambutnya tampak acak-acakan.. Demikian juga dengan pakaianku dan rambutku..
"Nia.. Nggkk.." seru Reni.
"Kenapa Ren..?" sahutku.
"Kamu.. cantik" serunya.
"Kamu juga"
"Kamu cantik"
"Kamu juga"
"Aku suka" seru Reni.
"Aku juga" sahutku.
Lalu Reni menjulurkan lidahnya.. Akupun juga ikut menjulurkan lidah ku hingga bersentuhan.. Ooh.. Nikmatnya.. Kami saling menjilat lidah masing-masing, lalu aku membalikan tubuh Reni sehingga kini aku berada diatasnya.. Lalu aku bergerak kesamping.. Dan duduk berlutut disisi kanan Reni, ku lihat rok Reni sudah tersibak naik.. Hingga kelihatan CD nya yang berwarna putih itu.. Lalu aku meraba paha Reni.. Aahh.. Reni mendesis dengan mata setengah terpejam.. Tangankupun terus naik ke atas hingga menyentuh tepian CD Reni.. Tampak oleh ku CD Reni sudah basah.. Dan saat itu aku yakin CD ku juga sudah basah.
Lalu aku menyusupkan telunjukku kebalik CD Reni dan segera menyentuh bulu-bulu kemaluan Reni.. Reni rada sedikit mengelinjang.. Kugerak-gerakkan telunjuku itu hingga menyentuh kemaluan Reni.. Oohh.. Reni mengeliat.. Sembari merenggangkan kedua pahanya, segera aku merasakan cairan kental dari vagina Reni..
Tiba-tiba Reni mengerakkan tangan kanannya ke atas dan memegang payudara ku yang sebelah kiri.. Dan tanpa disuruh segera dia meremas-remas payudaraku itu.. Oohh.. Aahh.. Aku mendesah merasakan nikmat.. Ooh.. Ren.. Rintih ku sembari menciumi paha Reni.. Yang putih mulus itu, Reni mengeliat lagi.. Kujilati paha Reni hingga lidahku menyentuh CD nya..
Aahh.. Nngkk.. Ahh.. Rintih Reni..
Lalu satu persatu kancing kemeja ku dilepasnya akupun segera beralih.. Ikut melepas kancing kemeja Reni.. Setelah itu kita berdua melepas kemeja kami bersama-sama.. Lalu bra kami pun kami lepas.. Reni pun memandangi payudaraku.. Sembari tersenyum..
"Nia.." serunya
"Mhmm"
"Payudara kamu gede yaa"
"Kamu juga" sahutku sembari mengelus-elus payudara Reni, lalu aku menciumi payudara Reni..
Oohh.. Reni mengelinjang lagi.. Akupun lalu mengisap-isap kedua puting payudara Reni, Reni hanya mengeliat-ngeliat saja keenakan.. Oohh.. Niaa.. Oohh.. Rintih Reni, tiba-tiba Reni menarik tubuhku hingga aku menindih tubuhnya.. Oohh.. Terasa hangat payudara Reni ketika dada kami saling bersentuhan.. Kamipun saling tersenyum.
Lalu tangan Reni turun kebawah dan melorotkan rok seragam sekolahku.. Akupun segera membantunya.. Hingga rok ku telepas dan kulempar ke atas karpet, lalu aku melorotkan rok Reni dan melempar juga ke atas karpet.. Kini tampak tubuh mulus Reni yang berbaring dihadapanku.. Kuperhatikan dari unjung rambut sampai ujung kaki Reni..
"Nia.."
"Ngk.."
"Jangan gitu dong" seru Reni.
"Kenapa.." sahutku sembari tersenyum padanya.
"Aku kan malu.." sahutnya dengan muka rada cemberut.
"Aku juga" sahutku.
Lalu Reni menarik tubuhku.. Dan kembali kami saling berpelukan.. Rupanya kami berdua sudah mencapai puncak rangsangan.. Bepelukan.. Berciuman.. Berguling kesana kemari sembari berpelukan.. Oohh.. Nikmatnya
Kini aku berada pada posisi dibawah.. Dan tubuh Reni menindih tubuku.. Lalu ia menciumi leherku.. Ouuhh.. Geli.. Akupun mengelinjang.. Dengan mata setengah terpejam.. Terus Reni beralih kedadaku dan dengan ganas mulai menjilati kedua payudaraku.. Ooh.. Aaakkhh.. Oohh.. Renn.. Renn.. Desahku dengan tubuh mengelinjang keenakan.. Apalagi ketika Reni mulai mempermainkan puting payudaraku dengan ujung lidahnya..
Aahh.. Bergetar hebat tubuhku merasakan nikmat itu.. Lalu jilatan Reni makin kebawah.. Kebawah.. Dan berhenti dipuserku.. Dan segera lidahnya bermain diatas puserku. Ooh.. Aku kembali mengelinjang.. Tapi tidak hanya sampai disitu.. tiba-tiba Reni memegang tepian celana dalam ku dan melorotkan CD ku itu hingga terlepas.. Lalu tampak dia memperhatikan kemaluanku yang terpampang di depan wajah nya.. Dielus-elusnya bulu2 kemaluanku yang masih sedikit itu.
Jantungku berdetak keras.. Aku merasa tegang.. Menunggu apa kira-kira yang akan dilakukan Reni.. Aaahh.. Desisku ketika Reni membenamkan wajahnya diselangkangku.. Oohh Renn.. Rennii.. Jeritku kecil ketika Reni mulai menjilati bibir vaginaku.. Nggkk.. Aakk.. Tubuhku mengelinjang hebat ketika lidah Reni mulai mempermainkan clitoris ku.. Kurapatkan kedua pahaku menjepit kepala Reni.. Tapi Reni tidak peduli.. Ia tampak asyik menjilati vaginaku.. Aku benar-benar merasa terbang.. Kedua tanganku hanya bisa meremas-remas sarung bantal.
Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa.. Baru kali ini aku merasakan dioral.. Nikmat sekali, dan akhirnya aku tidak bisa menahan nya lagi.. Sapuan lidah Reni pada vaginaku.. benar-benar membuat aku kelabakan.. Dan akhirnya aakk.. Ooh.. Reni.. Renii.. Aaakk.. Aku mengerang panjang dengan tubuh bergetar.. Kupegang kepala Reni dan kutekan kepala Reni hingga wajahnya terbenam diselangkanganku, rupanya aku telah mencapai klimaks.. Dan Reni terus saja menjilati cairan yang keluar dari vaginaku.. Oohh..
"Reni.. Ren.." seru ku dengan nafas masih memburu.
"Kenapa Nia.." jawabnya sembari tersenym padaku.
"Kamu.. Nakal ren"
"Kamu juga"
"Kamu.."
"Kamu juga"
Lalu aku menarik Reni ke atas tubuhku.. Dan wajahnya kini tepat dihadapan wajahku.. Tercium bau aroma kemaluanku dari mulut Reni.. Aku tersenyum.. Dan dia juga tersenyum.
"Gila Ren.. Aku belum pernah merasakan begini" seruku.
"Enak?"
"Enak.. Ren.. Enak" sahutku dengan nafas masih memburu.
Lalu kucium bibir Reni itu.. Dan dia membalas ciumanku itu.. Kupeluk tubuhnya dengan erat.. Dan kubalikkan tubuhnya hingga kini aku berada diatasnya..
"Gantian yaa.. Ren" seruku.
"Kamu mau..?" serunya.
"Mau.." jawabku.
"Benar?" tanyanya.
"Benar.." jawabku.
"Enggak jijik" tanyanya.
"Nggak" sahutku dengan tersenyum.
Padahal akupun tidak tahu apakah aku bisa.. Tapi rasanya kurang sempurna kalau aku belum memuaskan Reni.. Dan ini spontan aku lakukan. Lalu kupegang kedua tangan Reni.. Dan kupentangkan kedua tangan Reni kesamping.. Lalu aku mulai menciumi lehernya. Oooh.. Reni mengeliat keenakan.. Kuciumi.. Kujilati leher Reni.. Terus turun kedada.. Dan akhirnya ujung lidah ku bermain diatas puting payudara Reni.. Kulirik Reni.. Tampak dia memejamkan matanya.. Dan nafasnya juga mulai memburu..
Akupun terus menjilati dada Reni.. Terus kebawah.. Kebawah hingga kebagian pusernya.. Kujilati puser Reni itu.. Terasa beberapa kali tubuh Reni terhentak.. Ooh.. Niaa.. Aahh.. Desahnya, lalu aku beralih kebawah puser nya.. Tampak bulu-bulu kemaluan Reni yang masih jarang itu.. Dan bentuk kemaluannya.. Ouuhh.. Indahnya
Kujilati bibir kemaluan Reni.. Aaahh.. Reni mendesah. Terasa asin.. Tapi aku tidak peduli.. Kujilati terus.. Kupermainkan clitorisnya dengan ujung lidahku.. Ooh.. Nia.. Oohh.. Ampunn.. Ampunn.. Erang Reni dengan tubuh mengelinjang.. Mendengar erang Reni itu, aku tambah bernapsu.. Kujilati lagi belahan vagina Reni.. Yang masih virgin itu.. Dan hal ini membuat tubuh Reni tersentak-sentak.. Niaa.. Ampunn.. Nia.. Ampunn.. Erang nya.. Kedua tangannya segera mengacak-ngacak rambutku diremas-remasnya kepalaku.. Dan dicambak-cambaknya rambut ku.. Tapi aku menikmati.. Kusedot clitoris Reni.
Dan.. Aaakk.. Niaa.. Niaa.. Nggkk.. Reni mengerang panjang dengan tubuh mengejang.. Segera kedua pahanya menjepit kepalaku.. Dan seketika aku merasakan vagina Reni semakin basah.. Rupanya Reni telah mencapai klimaks.. Kujilati cairan itu.. Asin.. Tapi nikmat..
"Nia.. Niaa.. sudah Nia.. sudah.." seru Reni memelas.
Akupun tersenyum.. Lalu ia menarik tubuhku ke atas lagi dan dengan penuh gairan.. Dilumatnya bibirku.. Aku juga membalas melumat bibirnya.. Akhirnya kami berdua terbaring lemas bersebelahan.. Setelah beristirahat sejenak..
"Nia.." seru Reni.
"Mmhm.."
"Kamu nakal"
"Kamu juga"
"Kita sama-sama gila yaa" serunya.
"Sama-sama nakal" sahutku.
Lalu Reni menoleh padaku dan tersenyum.. "Kita mandi yuk"
Serunya, "Yuk.." lalu kami berdua bangun.. Tampak di TV sudah tidak ada gambar apa-apa lagi..
Kami mandi bersama.. Sembari becanda dan tertawa cekikikan.. Saling menyabuni dan saling iseng mencolek-colek.. Entah payudara entah keselangkangan..
Seusai mandi.. Ketika aku sedang mengeringkan rambutku dengan handuk.. tiba-tiba HP ku berbunyi..
"Halo.. Nia" terdengar suara cowokku.
"Halo sayank.." jawabku.
"Gimana nanti malam jadi enggak kita nonton?" serunya.
Akupun terdiam.. Kulihat Reni yang masih telanjang itu memandang ke arahku dengan penuh harap.
"Jangan nanti malam yaa" seruku.
"Loh kenapa..?" protes cowokku.
"Aku sekarang nginap dirumah Reni" seruku.
Tiba-tiba Reni menghampiriku dan merebut HP ku.."Hallo Mas" Serunya.. "Iya.. Nanti malam Nia nginap disini.. Boleh kan" serunya, aku hanya tersenyum saja memperhatikan itu. Lalu Reni menyerahkan HP ku itu kembali.
"Hallo.." seruku.
"Hallo.. Yaa.. sudah enggak apa-apa tapi besok siang aku jemput kamu yaa.." seru cowokku.
Setelah aku menutup telphon, Reni segera memelukku dan aku membalas pelukannya.. Oohh.. Indahnya.
Malam itu aku menginap dirumah Reni, kita makan malam bersama keluarga Reni.. Dan aku dipinjamkan daster oleh Reni. Dan malamnya sebelum tidur.. Kami meneruskan permainan sex kami, bahkan kami meniru beberapa adegan dalam film bokep yang kami tonton bersama.. Nikmat sekali.. Hingga akhirnya kami mencapai kepuasaan lagi, kelelahan dan tertidur sama-sama telanjang.. Dan saling berpelukan dibawah selimut.
Sejak kejadian itu.. Kami semakin akrab.. Di sekolah kami selalu bersama-sama.. Dan kami sering tidur bersama.. Entah dirumah Reni atau dirumahku.
Cowokku..? Ah.. Dia tidak mengetahui hubunganku dengan Reni.. Sampai sekarang.
Akhirnya akupun harus berpisah dengan Reni.. Dia disekolahkan oleh orang tuanya ke Jerman.. Sementara aku meneruskan kuliah disini.. Sampai saat aku menulis cerita ini.. Kami masih saling berhubungan surat.. Bukan itu saja.. Seminggu minimal 2x kami berkomunikasi via chating.. Tentu saja dengan voice dan webcam.. Sehingga kami bisa saling melepas rindu.. Oh.. Reniku.. Renitaku..
Diposting oleh Admin di 19.00 0 komentar
Label: Lesbian, Sesama Jenis
